IHSG Turun 3 Persen! Sinyal Bahaya di Balik Aksi Jual Asing, Investor Wajib Waspada
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan setelah mengalami tekanan jual yang signifikan. Pada perdagangan Selasa (27/10/2026), IHSG turun tajam hingga 3,01 persen ke level 5.211,28 pada pukul 15.00 WIB, menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI). Koreksi ini terjadi setelah reli pemulihan selama empat hari beruntun pasca-crash akibat pengumuman MSCI, dan membawa indeks mendekati area support kritis 5.246-5.181. Tekanan jual investor asing, pelemahan rupiah, kenaikan yield obligasi pemerintah, serta ketidakpastian menjelang keputusan suku bunga The Fed menjadi pemicu utama aksi jual tersebut.
Meski demikian, data penutupan menunjukkan angka yang sedikit berbeda. IHSG turun 1,99 persen dan berakhir di level 5.266,13. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp17,57 triliun dengan 100 saham menguat dan 611 saham melemah. Sehari sebelumnya, Senin (26/10/2026), indeks juga telah melemah 1,22 persen akibat aksi ambil untung setelah reli pemulihan pekan lalu. Pada sesi I Selasa, IHSG sempat ditutup melemah 0,32 persen ke level 5.355,6, dengan rentang pergerakan 5.338-5.418. Sebanyak 266 saham naik, 395 saham turun, dan 302 saham stagnan. Sektor infrastruktur memimpin pelemahan dengan ambrol 1,24 persen, diikuti sektor teknologi 1,2 persen, transportasi 0,57 persen, properti 0,21 persen, keuangan 0,21 persen, kesehatan 0,09 persen, dan energi 0,07 persen.
Sentimen Global dan Domestik Menekan Pasar
Phintraco Sekuritas memprediksi bahwa IHSG turun lagi berpotensi terjadi pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Indeks diperkirakan bergerak di rentang resistance 5.350, pivot 5.300, dan support 5.180. Secara teknikal, indikator MACD berbalik mengalami pelebaran histogram negatif dan Stochastic RSI berpotensi death cross di area pivot. “Jika level support 5.180 mampu menahan penurunan IHSG hari ini, maka berpotensi uji level 5.300. Namun, jika IHSG ditutup di bawah level 5.180, akan berpeluang uji level support 5.100-5.000,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Selain tekanan teknikal, sentimen fundamental juga membayangi. Fitch Ratings memperkirakan kinerja ekonomi Indonesia akan tumbuh melambat di bawah level 5 persen pada semester II-2026. Secara kumulatif, ekonomi sepanjang tahun ini diproyeksi maksimal tumbuh 5,2 persen, di bawah target Pemerintah sebesar 5,4 persen. Fitch menilai dampak dukungan fiskal Pemerintah akan memudar setelah belanja difokuskan di awal tahun pada Semester I-2026. Belanja konsumen juga akan melambat sepanjang sisa tahun 2026 di tengah tingkat keyakinan konsumen yang lebih rendah dibanding awal tahun ini.
OJK Beri Penjelasan, Saham Tertentu Masih Cuan
Di tengah tekanan pasar, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, memberikan penjelasan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto terkait dinamika IHSG. Meski secara umum IHSG turun, sejumlah saham justru mencatat kenaikan signifikan. Pada sesi I Selasa, lima saham masuk daftar top gainers, termasuk TGUK hingga DADA. Sementara itu, saham-saham blue chip yang tergabung dalam LQ45 terpangkas 0,05 persen. Beberapa sektor masih bertahan di zona hijau, seperti sektor perindustrian yang menguat 1,37 persen, barang baku 0,36 persen, barang konsumen primer 0,3 persen, dan barang konsumen non-primer 0,09 persen.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham layak dicermati, salah satunya UNTR. Investor disarankan tetap selektif di tengah volatilitas pasar. Tekanan jual asing yang masih berlanjut serta pelemahan rupiah menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Yield obligasi pemerintah yang naik juga mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi makroekonomi dan kebijakan moneter.
Kesimpulan
Tekanan pada IHSG mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik yang masih kurang mendukung. IHSG turun tajam pada Selasa dan berpotensi berlanjut pada Rabu, dengan level support kritis di 5.180. Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang melambat dari Fitch Ratings, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang membebani pasar. Meski demikian, masih ada saham-saham tertentu yang mencatat kenaikan, sehingga investor perlu cermat memilih instrumen dan mengelola risiko dengan baik. Pantau terus perkembangan pasar dan kebijakan pemerintah untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.
