Semen Padang FC Bangkit dari Luka: Dari Bayang-Bayang Degradasi hingga Drama Utang Rp26 Miliar
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Perjalanan semen padang fc bak roda berputar yang tak pernah berhenti. Dari kehancuran karena gagal bertahan di Liga 1, tim berjuluk Kabau Sirah itu kini mencoba merangkak kembali ke papan atas sepak bola nasional, sembari menghadapi badai finansial yang tak kalah peliknya. Berbagai dinamika—mulai dari semangat membangun ulang tim, performa di lapangan, hingga polemik tunggakan kontrak pemain—menjadi potret nyata perjuangan klub kebanggaan orang Minang tersebut.
Lupakan Masa Lalu, Bangun Tekad Baru
Direktur Utama PT Semen Padang, Yosviandri, pernah menegaskan bahwa masa kelam degradasi harus dilupakan. Saat peluncuran tim menghadapi Liga 2, ia meminta seluruh elemen klub melangkah dengan tekad dan semangat baru. Menurutnya, penderitaan yang dialami pada akhir kompetisi Liga 1 justru menjadi pemicu kebangkitan, dengan berbagai upaya dilakukan mulai dari membangun daya juang, memperluas jaringan, hingga mencari pendanaan.
Ia juga menekankan bahwa keberadaan semen padang fc bukan sekadar membawa nama klub, tetapi juga menyandang nama daerah Sumatera Barat. Basis suporter yang kuat dinilai menjadi modal berharga, terbukti dari loyalitas pendukung yang tetap bertahan meski tim sempat berkompetisi di kasta kedua.
Performa di Lapangan Mulai Menanjak
Semangat baru itu perlahan berbuah hasil. Pada ajang Pegadaian Championship musim 2026/27, semen padang fc menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Salah satu momen penting terjadi saat menghadapi Persiku Kudus, ketika Stefano Lilipaly masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak gol penentu kemenangan 2-1. Penampilan gemilang itu membuatnya meraih penghargaan Player of the Match.
Meski menjadi pahlawan, Lilipaly menegaskan bahwa tiga poin jauh lebih penting daripada pencapaian individu. Ia mengakui pertandingan berlangsung sulit karena lawan tampil baik, namun ia bersyukur tim mampu membawa pulang kemenangan. Instruksi pelatih Stefano Cugurra saat masuk di babak kedua pun menjadi kunci perubahan permainan.
Kemenangan tersebut menjadi modal berharga menjelang laga berikutnya. Sumsel United, yang baru saja meraih satu poin dari hasil imbang 1-1 melawan Adhyaksa FC Bekasi, tengah bersiap menghadapi Kabau Sirah. Pelatih Sumsel United, M Nasuha, menyebut laga kontra Adhyaksa memberikan banyak pelajaran berharga dan akan menjadi bahan evaluasi jelang menghadapi semen padang fc.
Bayang-Bayang Utang dan Tunggakan Kontrak
Di balik euforia di lapangan, persoalan finansial masih menghantui. Mantan kiper Arthur Augusto Da Silva menyinggung hak pembayarannya melalui media sosial seusai Kabau Sirah mengalahkan Persiku Kudus. Manajer Tim, Braditi Moulevey, menjelaskan bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan kewajiban kontrak dari pengelola klub sebelumnya, dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp3 miliar dan kontrak berdurasi hingga 2028.
Manajemen menyebut telah menyelesaikan sekitar Rp9 miliar dari total tanggungan lama, dan terdapat empat pemain yang masih terkait persoalan serupa, dua di antaranya telah melapor ke FIFA. Presiden Klub Andre Rosiade bahkan menyebut total utang klub mencapai Rp26 miliar, sementara manajemen baru telah mengeluarkan Rp25,5 miliar untuk kebutuhan klub.
- Total utang klub: sekitar Rp26 miliar
- Kewajiban kontrak Arthur Augusto: sekitar Rp3 miliar (hingga 2028)
- Tanggungan lama yang telah diselesaikan: sekitar Rp9 miliar
- Dana yang dikeluarkan manajemen baru: Rp25,5 miliar
Jejak Perjalanan yang Tak Selalu Mulus
Dinamika semen padang fc sejatinya bukan hal baru. Pada era Liga 1 2019, tim sempat kesulitan tanpa penyerang murni saat menjamu PSS Sleman karena Karl Max belum kembali dari Timnas Chad. Pelatih kepala kala itu, Weliansyah, tetap optimistis memaksimalkan pemain yang ada dan mengandalkan naluri menyerang para pemainnya untuk meraih kemenangan di kandang.
Kini, dengan manajemen baru, skuad yang diperkuat pemain berpengalaman, serta dukungan suporter yang tak pernah pudar, Kabau Sirah berupaya menutup lembaran lama dan menulis kisah baru. Tantangannya jelas: menjaga konsistensi performa di lapangan sekaligus merampungkan kewajiban finansial agar tak lagi menjadi beban di kemudian hari.
Kebangkitan sebuah klub sepak bola memang tak cukup hanya bermodal semangat. semen padang fc membuktikan bahwa loyalitas suporter, kerja keras di lapangan, dan tata kelola keuangan yang sehat harus berjalan seiring. Jika mampu menyelesaikan persoalan utang dan menjaga tren positif, bukan tidak mungkin Kabau Sirah kembali menancapkan taringnya di panggung tertinggi sepak bola Indonesia. Perjalanan masih panjang, namun tekad untuk bangkit telah terpatri.
