Adidas Panen Cuan di Tengah Badai Diskon: Rekor Kuartal hingga Tas Coca-Cola yang Diburu Modeprofis
Inforiau – 02 November 2026 | Raksasa perlengkapan olahraga asal Jerman, adidas, tengah mencuri perhatian dari dua sisi sekaligus: kinerja keuangannya yang moncer dan deretan produk yang menjadi buruan para pencinta mode. Di tengah tekanan industri akibat menumpuknya stok dan perang diskon, adidas justru membukukan kuartal ketiga yang gemilang dengan kenaikan penjualan sembilan persen menjadi 7,3 miliar euro, sekaligus mencatatkan laba operasional (EBIT) yang melesat ke angka 1 miliar euro. Capaian itu menjadikan periode tersebut sebagai kuartal terbaik sekaligus sinyal bahwa adidas berhasil merebut kembali pangsa pasar yang sempat tergerus.
Kontras tajam terlihat pada rival senegaranya, Puma. Penjualan Puma menyusut 6,3 persen secara mata uang konstan menjadi 1,8 miliar euro dengan EBIT yang negatif. Keduanya memang sama-sama tertekan oleh tingginya persediaan dan agresivitas diskon, namun Puma juga harus menjalani restrukturisasi struktural di bawah pengaruh pemegang saham besar asal Tiongkok, Anta. Sementara itu, adidas memilih fokus pada angka dan hasil, sebuah strategi yang tampaknya berbuah manis di tengah pasar yang tidak bersahabat.
Di sisi gaya hidup, produk-produk adidas terus menjadi magnet. Salah satu yang paling dibicarakan adalah tas Airliner hasil kolaborasi adidas Originals dengan Coca-Cola. Tas dengan siluet memanjang ini memadukan warna merah ikonik Coca-Cola yang mengilap dengan garis kontras putih dan jahitan dekoratif yang mencolok, sementara talinya hadir dalam nuansa hitam-putih bernuansa sporty. Logo Coca-Cola di bagian samping dan detail khas adidas melengkapi tampilan retro yang membawa nuansa nostalgia era 90-an ke dalam gaya jalanan masa kini.
Tak heran bila tas seharga 65 euro itu disebut-sebut menjadi incaran para profesional mode. Siluetnya yang menyerupai tas olahraga klasik membuatnya mudah dipadukan dengan celana baggy, jaket kulit, maupun pakaian dasar minimalis. Bagi banyak orang, kolaborasi ini bukan sekadar produk, melainkan pernyataan gaya yang menggabungkan dua merek legendaris yang telah lama mewarnai budaya populer.
Inovasi alas kaki juga menjadi mesin pendorong tren adidas musim ini. Untuk musim gugur dan dingin 2026, adidas memperkenalkan Samba OG Mule, sepatu yang memadukan siluet sneaker ikonik Samba dengan bentuk slip-on mule yang terbuka di bagian belakang. Berbeda dari mule biasa yang terasa dingin, model ini dilengkapi lapisan dalam yang lembut sehingga terasa senyaman alas kaki rumah. Bahan kulit pada bagian atas membuatnya tahan lama, sementara sol karet memberikan cengkeraman yang andal. Logo trefoil dan tiga garis bergerigi khas adidas memastikan identitasnya tetap mudah dikenali. Dibanderol 110 euro, sepatu ini disebut sebagai alternatif cerdas di antara sneaker yang terlalu dingin dan boots yang terlalu berat.
Bagi yang mencari kesan lebih formal, adidas Originals menghadirkan Gazelle dalam balutan serba hitam. Berbeda dengan sneaker chunky yang berkesan berat, siluet Gazelle yang ramping dan rata membuat kaki tampak lebih jenjang, nyaris menyerupai loafer atau sepatu kantor dalam versi sporty. Bahan velour yang matte dan lembut memberi kesan dewasa serta sentuhan vintage. Karena seluruh elemennya berwarna hitam tanpa kontras sol putih, sepatu ini mudah dipadukan dengan rok, celana panjang, maupun gaun, sekaligus menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin tampil rapi tanpa mengorbankan kenyamanan.
Di kanal ritel daring, gaung adidas juga terasa lewat gelombang diskon menjelang musim belanja akhir tahun. Sejumlah platform e-commerce menawarkan potongan harga hingga hampir setengah untuk produk alas kaki, termasuk model Cloudfoam Flex dari adidas yang dijual sekitar 39,90 euro, turun 20 persen dari harga normal. Promo semacam ini menjadi strategi untuk menjaga momentum penjualan di tengah pasar yang sensitif terhadap harga, sekaligus memperluas jangkauan adidas ke segmen konsumen yang lebih luas.
Dengan kombinasi kinerja finansial yang solid, kolaborasi budaya pop yang tepat sasaran, dan inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan musim, adidas tampak berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan momentumnya. Tantangan tetap ada, terutama tekanan stok dan diskon yang membayangi seluruh industri, namun kemampuan adidas menyeimbangkan strategi bisnis dan daya tarik gaya hidup menjadi pembeda yang signifikan. Jika tren ini berlanjut, adidas berpeluang besar menutup tahun dengan performa yang kokoh sekaligus memperkuat posisinya sebagai merek yang bukan hanya dijual, tetapi juga diidamkan.
