Saham GOTO Jadi Primadona di Tengah Pelemahan IHSG, Analis Beberkan Target Harga Baru dan Laba Tiga Kuartal
Inforiau – 02 November 2026 | Jakarta – Di tengah tekanan yang masih membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), saham goto justru mencuri perhatian pasar. Pada pembukaan perdagangan Senin, 2 November 2026, IHSG dibuka melemah ke level 5.039,54, namun saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menempati posisi teratas dalam daftar saham teraktif berdasarkan volume transaksi pada sesi I. Pergerakan ini menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih menaruh harapan besar pada emiten teknologi karya anak bangsa tersebut.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG memang masih berada dalam tren bearish. Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa indeks berpotensi menguji level support 5.026–4.942. Meski sempat muncul aksi beli saat IHSG turun di bawah 5.000, tekanan jual masih terlihat dari indikator MACD. “Selama support bertahan, peluang konsolidasi atau technical rebound tetap terbuka, dengan resistance terdekat di 5.116–5.170,” tulis tim riset tersebut dalam laporannya.
Di sisi lain, investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp172,43 miliar di pasar reguler dan Rp140,27 miliar di seluruh pasar. Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sembilan sektor berakhir melemah, dengan sektor transportasi mencatat penurunan terdalam sebesar 3,13%. Tekanan juga datang dari bursa Amerika Serikat, di mana Dow Jones turun 1,09%, S&P 500 melemah 1,82%, dan Nasdaq terkoreksi 2,86%.
Meski demikian, saham goto memiliki katalis positif yang kuat. Perseroan berhasil membukukan laba bersih Rp441 miliar pada kuartal III 2026, menandai laba selama tiga kuartal berturut-turut. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, GOTO berbalik mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,16 triliun, dari sebelumnya merugi Rp776 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Bisnis finansial GoPay menjadi motor utama kinerja tersebut. Pendapatan GoPay melonjak 49% secara tahunan menjadi Rp2,30 triliun, sementara laba operasional intinya melonjak 304% menjadi Rp550 miliar. Kontribusi laba GoPay bahkan telah melampaui bisnis layanan on-demand Gojek dan Tokopedia. Pengguna aktif bulanan GoPay tumbuh 26% menjadi 30,40 juta, volume transaksi meningkat 86% menjadi 2,80 miliar, dan nilai transaksi inti naik 96% menjadi Rp187 triliun, dengan total pinjaman yang disalurkan mencapai Rp12,05 triliun.
Secara konsolidasi, pendapatan bersih GOTO tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp5,60 triliun. Manajemen pun menaikkan target laba operasional inti 2026 menjadi Rp3,50 triliun–Rp3,70 triliun, dari sebelumnya Rp3,20 triliun–Rp3,40 triliun. Sayangnya, di tengah kinerja yang solid, KB Valbury Sekuritas justru menurunkan target harga saham goto dari sebelumnya Rp61. Analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti, mencermati laba bersih GOTO pada kuartal III-2026 yang meningkat 46,8% secara quarter-on-quarter menjadi Rp557 miliar. Meski target harga diturunkan, rekomendasi beli tetap dipertahankan dengan menggunakan rasio EV/sales yang lebih rendah mengikuti valuasi perusahaan sejenis di pasar global.
Selain GOTO, analis juga merekomendasikan saham BBNI dan ISAT. Tim riset BRI Danareksa merekomendasikan BBNI, SSMS, dan HMSP. Sementara itu, Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli untuk BMRI meski menurunkan target harga 12 bulan menjadi Rp4.800 dari sebelumnya Rp5.400, yang masih mencerminkan potensi kenaikan 29% dari harga terakhir Rp3.720.
Pasar juga akan mencermati implementasi kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai 2 November yang mengecualikan 81 saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan kualitas dan transparansi indeks. Selain itu, investor menantikan rilis data ekonomi domestik seperti inflasi Oktober, aktivitas manufaktur, neraca perdagangan, pertumbuhan ekonomi kuartal III, dan cadangan devisa.
Dari global, arah kebijakan The Fed pasca-keputusan suku bunga terakhir serta perkembangan harga minyak dan tensi geopolitik tetap menjadi faktor yang dapat memengaruhi rupiah dan arus modal asing. Di tengah kondisi tersebut, saham goto tetap menjadi salah satu saham yang paling banyak diperhatikan karena fundamentalnya yang terus membaik.
Dengan laba tiga kuartal berturut-turut, pertumbuhan GoPay yang eksplosif, dan target laba operasional yang dinaikkan, saham goto menawarkan daya tarik tersendiri bagi investor yang memiliki profil risiko moderat hingga agresif. Namun, penurunan target harga oleh KB Valbury mengingatkan bahwa valuasi masih menjadi pertimbangan utama. Investor disarankan untuk mencermati pergerakan harga dan volume transaksi secara seksama sebelum mengambil keputusan.
Ke depan, kinerja GOTO akan sangat bergantung pada keberlanjutan pertumbuhan bisnis finansial dan kemampuan perseroan menjaga efisiensi operasional. Jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin saham goto kembali mencatatkan rekor baru di akhir tahun 2026.
