BMKG Peringatkan Puncak Musim Hujan 2026 Baru Datang Desember, El Nino Super Kuat Jadi Biang Keroknya
Inforiau – 22 Oktober 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mencuri perhatian publik dengan prakiraan terbarunya soal musim hujan 2026/2027. Dalam keterangan resmi yang dirilis di Jakarta, BMKG memprediksi puncak musim hujan baru akan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027 di sebagian besar wilayah Indonesia. Prakiraan ini menjadi penting mengingat awal musim hujan tahun ini diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa keterlambatan tersebut dipicu oleh dinamika iklim global yang cukup ekstrem. Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif disebut berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Tanah Air. “BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di Indonesia mengalami kemunduran akibat pengaruh El Nino sangat kuat dan IOD positif yang berpotensi mengurangi curah hujan,” ujar keterangan resmi BMKG yang dikutip pada Rabu (21/10/2026).
Puncak Musim Hujan Tidak Serentak
Salah satu hal yang perlu dipahami masyarakat adalah puncak musim hujan tidak terjadi secara bersamaan di seluruh Indonesia. BMKG membagi wilayah prakiraan berdasarkan Zona Musim (ZOM), yakni wilayah yang memiliki karakteristik pola musim relatif serupa. Berikut rincian periode puncak musim hujan menurut data BMKG:
- Desember 2026: sebanyak 155 ZOM diperkirakan mencapai puncak musim hujan, mencakup sekitar 36,94 persen luas daratan Indonesia.
- Januari 2027: sebanyak 162 ZOM diprediksi mencapai puncak, dengan cakupan sekitar 25,68 persen luas daratan Indonesia.
- Februari 2027: sebanyak 190 ZOM diperkirakan mengalami puncak musim hujan, mencakup sekitar 16,79 persen luas daratan Indonesia.
Sementara itu, awal musim hujan sendiri diperkirakan mulai berlangsung bertahap. Pada Oktober 2026, sebanyak 63 ZOM atau sekitar 7,6 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan, meliputi sebagian Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi Barat, sebagian kecil Sulawesi Tengah, Maluku Utara, serta sebagian wilayah Papua. Memasuki November 2026, awal musim hujan diperkirakan terjadi di 185 ZOM atau sekitar 24,66 persen wilayah Indonesia, mencakup sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, NTB, sebagian kecil NTT, Sulawesi, Maluku, serta Papua bagian selatan. Adapun pada Desember 2026, awal musim hujan diprediksi terjadi di 266 ZOM.
Antisipasi Karhutla Jelang Musim Hujan
Di sisi lain, BMKG juga tengah bergerak cepat mengantisipasi lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang biasanya meningkat dua hingga empat minggu sebelum datangnya musim hujan. Melalui teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), BMKG menyiapkan penyemaian dry ice untuk mengatasi kabut asap di Sumatra dan Kalimantan. Dry ice merupakan karbon dioksida (COâ‚‚) dalam bentuk padat yang disemai dari pesawat pada lapisan atmosfer yang menjadi sasaran intervensi.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan bahwa lapisan inversi bekerja seperti tutup yang menghambat pergerakan udara secara vertikal, sehingga asap dan polutan bertahan di dekat permukaan dan membuat kabut asap menjadi pekat. “Kondisi ini memungkinkan asap bergerak naik secara vertikal dan terurai ke atmosfer. Selain itu, proses tersebut juga meningkatkan peluang pertumbuhan awan yang selanjutnya dapat menjadi sasaran penyemaian dalam OMC,” jelas Seto.
Metode ini berbeda dari OMC yang secara langsung menargetkan pertumbuhan awan hujan. Penyemaian dry ice fokus di lapisan inversi dan lapisan isoterm untuk memengaruhi kestabilan udara. Setelah lapisan inversi terpecah dan asap terangkat, sinar matahari diharapkan masuk sehingga memicu penguapan dan pembentukan awan hujan. Barulah kemudian BMKG melakukan penyemaian awan menggunakan NaCl untuk merangsang pertumbuhan awan hujan.
Hasilnya cukup menggembirakan. Faisal menyebut hujan turun secara intensif di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, setelah OMC dengan kombinasi dry ice dan NaCl dilakukan. Sebelumnya, BNPB melaksanakan penyemaian 2,4 ton dry ice dalam tiga sorti penerbangan pada 15-16 Oktober 2026 di Palembang. Pemantauan menunjukkan jarak pandang meningkat dari kisaran 650 meter menjadi sekitar 2.800 meter, sementara konsentrasi PM2.5 turun dari 660 mikrogram per meter kubik menjadi 208 mikrogram per meter kubik.
Waspada Cuaca Ekstrem Harian
Selain prakiraan musim, BMKG juga mengingatkan masyarakat terhadap potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah kota besar. Prakirawan BMKG Ranika menjelaskan dinamika atmosfer menunjukkan potensi pembentukan awan hujan yang dipengaruhi perlambatan dan pertemuan angin di sejumlah perairan, antara lain Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Halmahera, serta pesisir utara Papua Barat hingga Papua.
Wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat meliputi Banda Aceh dan Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Sementara hujan ringan diprakirakan terjadi di Medan, Pekanbaru, Padang, Jambi, Serang, Pontianak, Mamuju, Palu, Nabire, Jayapura, Jayawijaya, dan Merauke. Adapun kondisi berawan diprakirakan mendominasi Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Mataram, Makassar, Gorontalo, Manado, dan Kendari. BMKG juga memperingatkan potensi gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter di sejumlah perairan Indonesia.
Dengan berbagai tantangan cuaca tersebut, masyarakat diimbau terus memantau informasi resmi dari BMKG dan memahami prakiraan musim di wilayah masing-masing. Kesiapan menghadapi musim hujan yang mundur, potensi karhutla, serta cuaca ekstrem harian menjadi kunci agar aktivitas sehari-hari tetap aman dan lancar.
