Declan Rice Tampak Kelelahan, Arteta Ungkap Alasan Tetap Memainkannya 90 Menit
Inforiau – 08 November 2026 | JAKARTA – Declan Rice kembali menjadi sorotan setelah Arsenal meraih kemenangan 2-1 atas Slavia Praha pada matchday keempat Liga Champions 2026/2027 di Fortuna Arena, Kamis (5/11/2026) dini hari WIB. Gelandang berusia 27 tahun itu tampil penuh 90 menit meski terlihat kelelahan pada babak kedua, memicu pertanyaan mengenai pengelolaan beban pemain oleh Mikel Arteta.
Arteta menegaskan Declan Rice tetap di lapangan karena tim membutuhkannya. Arsenal sempat nyaman lewat gol Noni Madueke pada menit kesembilan dan Viktor Gyokeres pada menit ke-38. Namun, Wiktor Nowak memperkecil kedudukan pada menit ke-90 dan Slavia meningkatkan tekanan. Di tengah situasi itu, Rice diminta bertahan untuk menjaga keseimbangan lini tengah.
Pujian untuk Sang Gelandang
Mantan gelandang Arsenal dan Timnas Inggris, Karen Carney, menilai Declan Rice sebagai gelandang terbaik di Inggris. Menurutnya, Arsenal berubah ketika Rice kehilangan energi. “Declan Rice jelas merupakan gelandang terbaik di negara ini,” kata Carney kepada TNT Sports. Ia menyoroti penurunan pengaruh Rice setelah jeda dan dampaknya terhadap arah permainan Arsenal.
Pujian serupa datang dari Jamie Carragher usai Arsenal menang 1-0 atas Liverpool di Anfield, Minggu (1/11/2026). Declan Rice menjadi kreator gol Kai Havertz pada menit ke-16 dan dinobatkan sebagai pemain terbaik. Carragher menyebutnya gelandang terbaik di Premier League tanpa perlu debat. Kemenangan itu menjadi yang pertama bagi Arsenal di Anfield dalam 14 tahun dan menjaga mereka di puncak klasemen dengan keunggulan tiga poin.
Rice menyebut kemenangan tersebut lahir dari kebersamaan dan ketangguhan tim. Ia mengapresiasi pesan Arteta sebelum laga serta kemampuan rekan-rekannya mempertahankan keunggulan. Namun, pada laga berikutnya melawan Hull City di Emirates Stadium, Rice ditarik setelah sekitar 60 menit. Arteta menghadapi pertanyaan soal kondisi fisiknya, sekaligus menyoroti jadwal padat, kontroversi VAR, dan masalah offside yang membayangi Arsenal. Kendati demikian, ia menilai sembilan kemenangan dari sepuluh pertandingan menunjukkan mentalitas kuat skuad.
Bagi Arsenal, Rice bukan sekadar pengatur tempo. Ia adalah penyeimbang, pemimpin transisi, dan pemain yang kerap menentukan arah permainan. Karena itu, pengelolaan menit bermainnya akan menjadi kunci ketika jadwal semakin padat dan persaingan di Premier League serta Liga Champions meningkat.
Editor: Sukri Mustakim
