Doctor X: Fenomena Rating 18,5 Persen, Ledakan Emosi Kim Ji Won, dan Kontroversi yang Mengiringinya
Inforiau – 21 Oktober 2026 | Drama Korea doctor x yang berjudul lengkap Doctor X: Mafia in White atau Doctor X: The Age of the White Mafia tengah menjadi perbincangan hangat jagat hiburan Tanah Air dan dunia. Serial yang dibintangi Kim Ji Won ini tayang perdana pada 9 Oktober 2026 di SBS dan langsung melesat menjadi fenomena, bahkan menempati posisi puncak kategori Netflix Global Top 10 Non-English Shows hanya tiga hari setelah perilisan. Dengan 4,6 juta penonton dan masuk sepuluh besar di 36 negara, doctor x membuktikan diri sebagai salah satu drama medis paling diperbincangkan tahun ini.
Serial ini berkisah tentang Gye Su Jeong, seorang ahli bedah jenius yang ditempatkan sebagai dokter kontrak di Rumah Sakit Universitas Guseo. Ia dikenal dingin, tertutup, dan tajam, namun tak segan menentang sistem rumah sakit yang korup. Pada hari pertamanya bekerja, ia bahkan berani menegur direktur rumah sakit yang hendak memaksakan operasi tidak masuk akal dengan kalimat pedas, “Keserakahan di usia tua sudah keterlaluan.” Sikapnya yang tak pandang bulu inilah yang membuat penonton doctor x merasa puas dan terwakili.
Ledakan Emosi Pertama Kim Ji Won
Di balik sosok Su Jeong yang dingin, tersimpan luka mendalam yang perlahan terungkap. Setiap awal episode doctor x menyajikan potongan memori tentang kebakaran di Tập đoàn Y tế Những Đôi Cánh Trắng, tempat Su Jeong dan Jang Hee Sook (Lee Jung Eun) pernah bekerja. Adegan masa lalu di awal episode keempat menjadi momen tangis pertama Kim Ji Won dalam serial ini. Su Jeong menggendong Baraka keluar dari kobaran api, air matanya mengalir deras sambil melakukan resusitasi jantung paru. Ketika tangan bocah itu terkulai lemas, ia pun pecah dan menangis sejadi-jadinya karena tak mampu menyelamatkannya.
Kontras inilah yang menghantam emosi penonton. Selama tiga episode sebelumnya, Su Jeong tampil tanpa cela, tenang, dan tajam. Penonton pun membanjiri media sosial dengan pujian. “Wajahnya yang basah air mata dan tangisannya yang menyayat hati, aku benar-benar terpukau,” tulis seorang penggemar. Yang lain menambahkan, “Caranya mengubah isak tangis pelan menjadi tangisan histeris, sungguh aktris pujaanku.”
Pertanyaan yang Membuat Su Jeong Tertegun
Dalam episode keempat, Na Daeil (Jang Seung Jo) melontarkan pertanyaan menusuk: “Apa sebenarnya yang kau tinggalkan hingga kau hanya bisa fokus ke depan?” Su Jeong pun tertegun. Masa di Tập đoàn Y tế Những Đôi Cánh Trắng dan kepergian Baraka tampaknya menjadi beban yang ia sembunyikan. Dalam foto kenangan, Su Jeong terlihat tersenyum sangat bahagia, senyum yang tak pernah muncul saat ia bekerja di Rumah Sakit Universitas Guseo. Kepergian Baraka diduga menjadi obsesi yang merenggut senyumnya.
Kebiasaan Su Jeong meletakkan tangan di dada pasien untuk memeriksa detak jantung setelah operasi pun kini punya makna emosional. Meski tak diperlukan, gerakan itu menjadi caranya menenangkan diri dan sedikit mengurangi duka lama, saat ia menempelkan telinga pada tubuh Baraka yang tak lagi menunjukkan tanda kehidupan.
Perbandingan dengan Versi Jepang
Doctor x versi Korea merupakan remake dari serial Jepang Doctor X: Surgeon Michiko Daimon yang dibintangi Ryoko Yonekura. Meski keduanya sama-sama mengisahkan ahli bedah jenius, terdapat sejumlah perbedaan mencolok. Michiko Daimon digambarkan mandiri dan blak-blakan dengan kepercayaan diri tinggi, sementara Gye Su Jeong tampil lebih dingin dan tertutup. Latar perkenalan tokoh, penyajian konflik, perubahan pemeran pendukung, hingga jumlah season juga menjadi pembeda antara kedua versi ini.
Rating Tinggi, Kontroversi pun Menerpa
Kesuksesan doctor x tak lepas dari paradox “rasa puas” yang diusungnya. Rating nasionalnya melesat dari 11,4 persen pada episode pertama menjadi 18,5 persen di episode keempat, dengan puncak sesaat mencapai 20,8 persen. Namun, formula drama balas dendam ala SBS yang juga melahirkan Taxi Driver dan Manager Kim ini menuai kritik. Seorang dokter ortopedi berinisial A mengajukan permohonan peninjauan siaran ke Komisi Peninjauan Media Penyiaran pada 13 Oktober, menuding drama ini mendistorsi realitas medis dan menggambarkan tenaga medis secara negatif.
Kritik menyoroti adegan visite yang digambarkan sebagai tugas tak perlu, serta dialog Su Jeong yang menyebut rekan dokternya sebagai “orang yang belajar hanya untuk mencari uang dan jabatan” dan “kalian sungguh menyedihkan.” Bagi sebagian penonton, kalimat itu memuaskan; bagi sebagian kalangan medis, itu menyinggung. SBS sendiri belum memberikan pernyataan resmi.
Di sisi lain, di balik layar, produsen peralatan medis asal Korea, Dentis, turut meramaikan produksi dengan memasok lampu bedah LUVIS untuk set ruang operasi dan ruang gawat darurat. Langkah ini menjadi strategi promosi merek mereka, menyusul keterlibatan dalam drama The Trauma Code: Heroes on Call dan musim kedua Beef.
Fenomena doctor x pada akhirnya menunjukkan bahwa kesuksesan dan kontroversi kerap lahir dari akar yang sama. Drama ini berhasil memikat jutaan penonton lewat sosok Su Jeong yang karismatik dan emosinya yang meledak-ledak, sekaligus memicu perdebatan tentang seberapa jauh sebuah karya hiburan boleh menyederhanakan realitas. Terlepas dari kritik tersebut, doctor x tetap menjadi bukti bahwa kisah seorang dokter genius yang berani melawan arus mampu menyita perhatian dunia, sambil meninggalkan pertanyaan mendalam tentang harga sebuah keadilan dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
