Gempa Mengguncang dari Flores hingga Mandailing Natal, Semeru dan Anak Krakatau Ikut 'Batuk' di Hari yang Sama
Inforiau – 21 Oktober 2026 | Hari Selasa, 20 Oktober 2026, menjadi catatan tersendiri bagi dunia kebencanaan Indonesia. Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, gempa dan aktivitas vulkanik silih berganti mewarnai laporan dari berbagai daerah, mulai dari pesisir barat Sumatera, Selat Sunda, hingga lereng Gunung Semeru di Jawa Timur. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa negeri ini berdiri di atas cincin api yang tak pernah benar-benar tidur.
Gempa M3,5 Guncang Mandailing Natal
Getaran pertama datang dari Sumatera Utara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa berkekuatan magnitudo 3,5 mengguncang wilayah Mandailing Natal pada pukul 17.16 WIB. Episenter berada di koordinat 0,45 lintang utara dan 98,78 bujur timur, tepatnya sekitar 99 kilometer barat daya Mandailing Natal, dengan kedalaman 34 kilometer.
BMKG menyebut peristiwa ini dipicu aktivitas subduksi lempeng di kawasan tersebut. Meski tergolong berkekuatan ringan, warga sempat merasakan getaran sesaat. Otoritas memastikan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, sehingga masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi.
Erupsi Semeru Picu Getaran Dua Menit
Di Jawa Timur, Gunung Semeru kembali menunjukkan lonjakan aktivitas vulkanik. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu melontarkan kolom abu berwarna putih hingga kelabu setinggi 200 meter di atas puncak, atau sekitar 3.876 meter di atas permukaan laut. Erupsi terekam jelas pada seismogram Pos Pengamatan Gunungapi Semeru pukul 06.12 WIB dengan amplitudo maksimum 19 milimeter dan durasi getaran mencapai 2 menit 1 detik. Kolom abu tebal condong tertiup ke arah barat daya.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menegaskan status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Meski demikian, otoritas memperketat rekomendasi zona bahaya untuk mengantisipasi lontaran material pijar hingga luncuran Awan Panas Guguran (APG).
“Masyarakat, pendaki, maupun wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak,” tegas Lana. Ia menambahkan, di luar jarak tersebut warga juga diimbau tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran Besuk Kobokan, mengingat potensi perluasan awan panas dan banjir lahar yang bisa menjangkau 17 kilometer dari puncak. Larangan mutlak juga berlaku pada radius 5 kilometer dari kawah puncak karena rawan lemparan batu pijar.
Warga yang bermukim di lereng Semeru diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman sekunder seperti guguran lava dan aliran lahar dingin, terutama di sepanjang daerah aliran sungai Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Anak Krakatau Erupsi Tiga Kali
Tidak mau ketinggalan, Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, juga mengalami tiga kali erupsi pada pagi hari yang sama. Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Suwarno, membenarkan aktivitas tersebut. “Iya, suplai terus,” ujarnya.
Laporan MAGMA Indonesia untuk periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB mencatat aktivitas kegempaan didominasi 21 gempa Hybrid atau Fase Banyak, tujuh gempa Vulkanik Dangkal, tiga gempa Low Frequency, dua gempa Hembusan, dan satu gempa Vulkanik Dalam. Satu tremor menerus terekam dengan amplitudo 1 sampai 10 milimeter. Pengamatan visual sempat terkendala kabut, namun status gunung tetap Siaga dengan radius bahaya 5 kilometer dari pusat erupsi.
Jejak Gempa Flores dan Rendahnya Perlindungan Warga
Rangkaian peristiwa ini membawa ingatan pada gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 15 Oktober 2026 mencatat 261.602 siswa terdampak dan 2.147 unit bangunan sekolah rusak. Relawan Plan Indonesia pun menggelar kegiatan pemulihan psikososial bagi siswa penyintas, seperti di SD Negeri Inpres Nggorang, Reok, Kabupaten Manggarai.
Di sisi lain, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengungkap realitas pahit: klaim asuransi jiwa akibat gempa NTT hanya sebesar Rp152,5 juta, jauh di bawah total nilai pertanggungan Rp16,3 triliun. Kepala Departemen Marketing AAJI, Karin Zulkarnaen, menyoroti rendahnya penetrasi asuransi di wilayah timur Indonesia. Hanya 29 perusahaan asuransi jiwa yang memiliki kantor cabang di NTT, sementara inklusi perasuransian nasional baru mencapai 29,55 persen.
Sebagai bentuk kepedulian, AAJI bersama 19 perusahaan anggota menyalurkan donasi Rp315 juta melalui program Industry Social Responsibility “Kebaikan Berkelanjutan” NTT, mencakup pembangunan sumur bor dan pipanisasi bagi sekitar 3.000 warga di Desa Kotakeo, Nagekeo, serta perlengkapan sekolah untuk 150 murid.
Waspada, Bukan Panik
Rangkaian gempa dan erupsi dalam satu hari menegaskan pentingnya kesiapsiagaan. Masyarakat diimbau memantau informasi resmi BMKG, PVMBG, dan BNPB, serta mematuhi zona bahaya yang ditetapkan. Bagi warga di lereng gunung maupun pesisir, mitigasi bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan harian. Alam tak pernah berhenti bergerak, dan kesiapan adalah bentuk perlindungan terbaik bagi keluarga.
