Hari Santri Nasional 2026: Jejak Sejarah dari Banten hingga Semangat Santun di Jalan Raya
Inforiau – 21 Oktober 2026 | Peringatan hari santri nasional kembali menjadi momen refleksi bagi seluruh elemen bangsa. Tahun ini, hari santri nasional diperingati pada Kamis, 22 Oktober 2026, tanggal yang telah lama dinanti oleh kalangan pesantren sebagai bentuk pengakuan negara terhadap peran krusial santri, kiai, dan pesantren dalam perjalanan berbangsa dan bernegara. Penetapan hari santri nasional sendiri merujuk pada Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang menandai lahirnya pengakuan resmi pemerintah atas kontribusi kaum santri.
Sejarah panjang di balik penetapan hari santri nasional tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Resolusi Jihad yang diinisiasi oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. Pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, kondisi Indonesia belum sepenuhnya terbebas dari ancaman penjajah. Tentara Sekutu yang diboncengi Netherlands Indies Civil Administration (NICA) berupaya kembali menduduki Indonesia setelah kekalahan Jepang. Atas persetujuan Kyai Hasyim Asy’ari, dibentuklah Laskar Hizbullah sebagai wadah bagi para pemuda, termasuk santri, untuk memperoleh pelatihan militer. Latihan pertama digelar di Cibarusa, Bogor, pada awal 1944 dan diikuti 150 pemuda dari berbagai daerah di Jawa dan Madura.
Menariknya, embrio hari santri nasional disebut memiliki akar sejarah yang kuat di Provinsi Banten. Ketua Umum Majelis Pesantren Salafiyah Provinsi Banten, KH Matin Syarkowi, mengungkapkan bahwa gagasan mengenai hari santri bermula pada 2014 ketika Joko Widodo masih berstatus calon presiden. Saat itu, Jusuf Kalla datang sebagai utusan untuk menjalin komunikasi dan meminta dukungan dari kalangan pesantren. Namun, dukungan tersebut tidak diberikan secara cuma-cuma. Kalangan pesantren menegaskan tidak meminta imbalan berupa uang maupun janji politik, melainkan komitmen nyata dari negara agar keberadaan pesantren memperoleh perhatian melalui kebijakan yang berpihak pada dunia pendidikan Islam.
Pertemuan tersebut kemudian melahirkan Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah, dokumen yang ditandatangani sejumlah ulama dan kiai sepuh dari berbagai wilayah di Banten, mulai dari Serang, Pelamunan, Pandeglang hingga Tangerang. Isi piagam menegaskan bahwa pesantren tidak boleh dipinggirkan dalam pembangunan nasional. Menurut KH Matin, penetapan 22 Oktober sebagai hari santri nasional merupakan hasil komunikasi antara PBNU dan pemerintah, meski semangat awal yang mendorong lahirnya kebijakan tersebut telah lebih dahulu tertuang dalam piagam tersebut.
Peringatan hari santri nasional 2026 juga diwarnai beragam kegiatan di berbagai daerah. Di Sidoarjo, Jawa Timur, puluhan santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Tanggulangin, mengikuti kegiatan bertajuk Motoran Santun. Kegiatan yang melibatkan Satlantas Polresta Sidoarjo ini mengangkat pesan keselamatan berkendara, terutama penggunaan helm dan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas. Kapolresta Sidoarjo AKBP Bobby A. Condroputra menegaskan bahwa melalui momentum hari santri nasional, pihaknya ingin mengajak seluruh santri dan masyarakat menjadi pelopor tertib berlalu lintas.
“Santri itu harus santun, termasuk saat di jalan raya. Kuncinya, pakai helm, patuhi aturan, dan hargai pengguna jalan lain,” ujar Bobby. Rombongan yang mengenakan pakaian koko putih dan sarung itu bergerak dari halaman pesantren menuju Pendopo Kabupaten Sidoarjo dengan seluruh peserta menggunakan helm berstandar SNI. Pengasuh Ponpes Manba’ul Hikam, KH. Abdul Wahid Harun, mengapresiasi kegiatan tersebut karena edukasi keselamatan berkendara penting diberikan kepada para santri.
Di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Yayasan Al Amin Gersik, Desa Gelogor, Kecamatan Kediri, menggelar pawai karnaval hingga apresiasi santri berprestasi. Ketua Yayasan Al Amin, Hadri Ilahiya, menyebut peringatan hari santri nasional telah menjadi agenda rutin yayasan sejak pemerintah menetapkan hari santri nasional pada masa Presiden Joko Widodo. Rangkaian kegiatan juga mencakup ujian kemampuan peserta didik dalam bidang keagamaan, seperti hafalan Al-Qur’an dan Hadis Arbain An-Nawawi, serta ujian membaca Iqro menggunakan metode Ar Rasyid bagi jenjang Raudhatul Athfal.
Dalam pelaksanaan upacara hari santri nasional, salah satu rangkaian yang tak terlewatkan adalah menyanyikan lagu Mars Hari Santri Nasional. Lagu ini menjadi pendorong semangat kebangsaan, penghormatan terhadap ulama, serta ajakan untuk terus menuntut ilmu. Liriknya mengandung pesan tentang semangat belajar di pesantren, menghormati kiai, meluruskan niat, serta mengabdi bagi kemaslahatan umat, termasuk komitmen menjaga Indonesia dan berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan.
Dari sejarah panjang Resolusi Jihad, Piagam Perjuangan Al-Fathaniyah, hingga beragam kegiatan sosial di daerah, hari santri nasional 2026 menegaskan bahwa santri bukan sekadar mitra pemerintah, tetapi bagian penting dari lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa pengorbanan ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan sering kali tidak banyak tercatat karena para kiai memilih tetap rendah hati. Ke depan, semangat hari santri nasional diharapkan terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan pesantren, penguatan karakter santun, serta kontribusi nyata santri bagi kemajuan bangsa dan agama.
