Kai Havertz Cetak Sejarah, Arsenal Permalukan Liverpool di Anfield Setelah 14 Tahun
Inforiau – 02 November 2026 | Stadion Anfield selama lebih dari satu dekade menjadi benteng yang nyaris mustahil ditembus Arsenal. Namun pada Minggu (1/11) malam WIB, Kai Havertz tampil sebagai pemecah kebuntuan sekaligus pahlawan kemenangan tipis 1-0 The Gunners atas Liverpool dalam lanjutan pekan kesembilan Liga Inggris 2026/27. Gol tunggal penyerang asal Jerman itu tidak hanya membawa tiga poin berharga, tetapi juga mengukir catatan bersejarah bagi klub maupun dirinya pribadi.
Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Arsenal di Anfield dalam ajang Liga Premier sejak musim 2012/13, atau sekitar 14 tahun lamanya. Tambahan tiga poin membuat pasukan Mikel Arteta kokoh di puncak klasemen sementara dengan koleksi 24 poin, unggul tiga angka atas Manchester City di posisi kedua. Sementara itu, Liverpool harus tertahan di peringkat kelima dengan raihan 15 poin, terpaut sembilan poin dari sang pemuncak.
Gol Cerdik Berawal dari Kesalahan Alisson
Arsenal tampil agresif sejak menit awal dan menuai hasilnya pada menit ke-16. Berawal dari kesalahan kiper Liverpool, Alisson Becker, saat membangun serangan dari lini belakang, Martin Odegaard sigap memotong aliran bola dan meneruskannya kepada Noni Madueke. Winger Arsenal itu kemudian melepas operan kepada Declan Rice yang merangsek ke area pertahanan tuan rumah. Rice pun mengirim umpan mendatar ke depan gawang, dan Kai Havertz yang berdiri tanpa pengawalan di tiang jauh dengan tenang menyelesaikan peluang menjadi gol.
Keunggulan 1-0 bertahan hingga turun minum. Liverpool berusaha merespons melalui situasi bola mati pada menit ke-27, ketika sundulan Virgil van Dijk menyambut sepak pojok mengarah kepada Alexander Isak. Namun Alisson bergerak cepat mengamankan bola sebelum Isak sempat menyambarnya. Peluang terbaik tuan rumah hadir lewat tendangan bebas Florian Wirtz yang mengarah ke sudut kanan gawang, tetapi bola hanya membentur mistar.
Havertz Lewati Rekor Legenda Manchester City
Gol ke gawang Liverpool tersebut membawa Kai Havertz menorehkan sejarah baru di Liga Premier. Torehan itu merupakan gol ke-46 sang penyerang sepanjang kariernya di kompetisi tertinggi Inggris, sekaligus menjadikannya pemain Jerman paling produktif sepanjang sejarah Liga Premier. Ia melewati rekor Ilkay Gundogan, eks bintang Manchester City yang mengoleksi 45 gol. Dari total 46 gol tersebut, 19 di antaranya dicetak Havertz bersama Chelsea dan 27 lainnya bersama Arsenal.
Meski kalah, Liverpool sebenarnya tampil dominan secara penguasaan dan intensitas serangan di babak kedua. Tercatat ada 17 percobaan yang dilepaskan anak asuh Andoni Iraola, namun tak satu pun yang benar-benar memaksa kiper Arsenal, David Raya, melakukan penyelamatan. Alexis Mac Allister bahkan membuang peluang emas ketika sundulannya melebar tanpa pengawalan. Untuk pertama kalinya dalam catatan sejarah, Liverpool gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran di kandang sendiri.
Legenda Manchester United, Gary Neville, menyebut penampilan Arsenal sebagai kelas pertahanan yang luar biasa. “Ini adalah pertunjukan pertahanan kelas master dari Arsenal,” ujarnya. Solidnya lini belakang Arsenal menjadi kunci di tengah gelombang tekanan yang datang bertubi-tubi sepanjang laga.
Kontroversi yang Mewarnai Laga
Kemenangan Arsenal tak lepas dari kontroversi. Pada babak pertama, wasit dianggap gagal melihat tarikan Jurrien Timber terhadap Alexander Isak di dalam kotak penalti yang seharusnya berbuah hadiah penalti bagi Liverpool. Keputusan tersebut menjadi perdebatan hangat seusai pertandingan, meski pada akhirnya tidak mengubah hasil akhir.
Bagi Arsenal, kemenangan ini menjadi modal berharga untuk menjaga momentum di puncak klasemen. Sementara Liverpool mendapat pekerjaan rumah besar, mengingat mereka baru mencetak empat gol liga dari lima pertandingan di Anfield musim ini. Konsistensi menjadi tantangan utama bagi tim asuhan Iraola jika ingin kembali bersaing di papan atas.
Secara keseluruhan, laga di Anfield menjadi malam yang sempurna bagi Kai Havertz dan Arsenal. Gol tunggalnya bukan sekadar tiga poin, melainkan simbol kebangkitan mental The Gunners di salah satu stadion paling angker di Inggris. Dengan performa apik dan rekor personal yang terus bertambah, Kai Havertz kian membuktikan diri sebagai sosok krusial dalam proyek besar Arsenal musim ini. Jika mampu menjaga konsistensi, bukan tidak mungkin gelar juara Liga Premier yang lama dinanti akhirnya kembali ke London Utara.
