Mobil Listrik BYD Dikepung Tarif Eropa, Pasar Mobil Bekas China Justru Meledak 280 Persen
Inforiau – 25 Oktober 2026 | Fenomena mobil listrik BYD di panggung global kembali mencuri perhatian. Di tengah perang tarif yang membebani harga kendaraan baru, gelombang mobil listrik China bekas justru membanjiri pasar Eropa dan Kanada. Kebijakan proteksionis yang dirancang melindungi produsen otomotif Barat ternyata menciptakan celah baru yang dimanfaatkan para importir, dan mobil listrik BYD menjadi salah satu merek paling diburu dalam gelombang tersebut.
Uni Eropa memberlakukan bea masuk tinggi terhadap kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) asal China yang mencapai 45,3 persen. Pembatasan pasokan mobil baru ini, alih-alih menekan penetrasi produk China, justru mendorong lonjakan permintaan terhadap unit bekas. Pembeli di Eropa dan Kanada kini menemukan bahwa EV China bekas menawarkan teknologi setara dengan model Barat terbaru, dengan harga hingga 40 persen lebih rendah dari harga daftar, dan tidak terkena bea masuk proteksionis yang sama.
Data dari importir sekaligus eksportir China EV Marketplace (CEVM) menunjukkan penjualan kendaraan bekas ke pelanggan Uni Eropa tumbuh 280 persen secara year on year, dengan total penjualan mencapai 7.900 unit hingga September. Perusahaan itu memiliki lebih dari 2.600 unit EV China bekas di platformnya, dengan inventaris yang diperbarui hampir setiap hari dari merek-merek seperti mobil listrik BYD, Geely, hingga Zeekr.
“Tarif sudah melemahkan permintaan BEV China baru di antara pelanggan Eropa kami. Kami memperkirakan batas impor hybrid juga akan menekan penjualan PHEV baru,” kata Chief Operating Officer CEVM, Jakub Geršl. “Mobil bekas dikecualikan dari tarif BEV tambahan dan dari kuota hybrid baru. Itulah sebabnya kami menjadikan kendaraan bekas sebagai fokus utama bisnis Eropa kami.”
Menariknya, penurunan harga unit bekas tidak semata karena faktor tarif. Laju kemajuan teknologi yang tak henti, banjir model baru dan pembaruan dari pabrikan China, serta budaya otomotif domestik China yang sangat menghargai kebaruan menjadi pemicu utama. Tim CEVM yang berbasis di Shanghai secara rutin menemukan unit dengan jarak tempuh sekitar 6.000 kilometer yang dijual 40 persen di bawah harga daftar asli China. Harga mobil baru yang lebih rendah pun otomatis menekan harga pasar mobil bekas.
Implikasinya jelas bagi merek-merek Barat. Semakin banyak EV China dengan jarak tempuh rendah, harga rendah, dan teknologi tinggi yang masuk ke pasar Barat, semakin berat tekanan yang harus dihadapi pemain seperti Volkswagen yang selama ini sudah kesulitan bersaing. Fenomena ini disebut-sebut membalikkan proyeksi transportasi dunia, di mana banjir EV China bekas berpotensi mempercepat elektrifikasi di pasar berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
Insiden di Jakarta: Sorotan Lain bagi Mobil Listrik BYD
Di sisi lain, di dalam negeri, mobil listrik BYD tengah menjadi sorotan dalam konteks yang berbeda. Sebuah unit mobil listrik BYD berpelat nomor B 1220 KDP terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Panglima Polim, kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/10/2026) sore pukul 16.48 WIB.
Menurut Kasi Laka Subdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, Kompol Kharisma Arbita Bangsa, insiden bermula ketika kendaraan melaju dari arah selatan ke utara dan menabrak Honda Brio B-2967-NGY yang melaju searah di depannya. Mobil kemudian oleng ke kiri, menabrak sepeda motor Honda Beat A-3867-DD yang dikendarai pengemudi ojek online berinisial HS (56), lalu menghantam Wuling B-1835-ERZ yang berhenti di kiri jalan. Kendaraan itu terus melaju, naik ke trotoar, dan menabrak Mobilio B-1247-WZK serta Toyota Navi B-2447-TWB yang tengah parkir di Hotel Amaris.
Akibat kejadian tersebut, HS mengalami patah tulang kaki kiri dan luka lecet, lalu dilarikan ke RS Fatmawati untuk perawatan medis. Pengemudi mobil listrik BYD berinisial S (46) sempat diamankan warga sebelum diserahkan ke Polres Metro Jakarta Selatan. Kasat Lantas Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Mujiyanto mengungkapkan bahwa S telah menjalani tes urine dan pemeriksaan alkohol dengan hasil negatif semua.
“Itu pengemudi sudah diperiksa tes urine, negatif. Sama alkohol sudah juga, negatif semua,” kata Mujiyanto di Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Ia menduga S kaget setelah menyenggol mobil di sampingnya sehingga membanting setir ke kiri dan kehilangan kendali. Pengemudi kini ditahan dan masih menjalani penyidikan di Polres Metro Jakarta Selatan untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan.
Dua dinamika ini menunjukkan bahwa mobil listrik BYD kini berada di pusat perhatian, baik sebagai primadona pasar global yang menembus benteng tarif lewat jalur kendaraan bekas, maupun sebagai objek sorotan dalam isu keselamatan berkendara di jalan raya. Bagi konsumen, fenomena EV China bekas menawarkan peluang memiliki kendaraan berteknologi tinggi dengan harga lebih terjangkau. Namun, di balik peluang itu, pengawasan mutu, keamanan, dan kesadaran berkendara tetap menjadi faktor krusial yang tidak boleh diabaikan.
Ke depan, gelombang ekspor kendaraan bekas model terbaru dari China ke berbagai pasar dunia diperkirakan terus menguat. Industri yang selama ini terlalu berfokus pada pasar mobil baru, yang hanya mencakup sekitar 30 persen dari total pasar, dinilai melewatkan dampak besar pergerakan kendaraan bekas. Tekanan proteksionis yang mendorong lonjakan EV China bekas ini pun menjadi cermin bahwa pembatasan regulasi kerap memaksa produsen mencari celah, dan pasar selalu menemukan jalannya sendiri.
