Muslera Jadi Mimpi Buruk, Flamengo Tersingkir Tragis dari Libertadores di Depan 72 Ribu Pendukung
Inforiau – 23 Oktober 2026 | Ambisi flamengo untuk kembali meraih kejayaan di Copa Libertadores 2026 harus pupus dengan cara yang menyakitkan. Bermain di hadapan 72.492 penonton di Maracanã, Rio de Janeiro, Kamis malam (22/10/2026), skuad asuhan Leonardo Jardim gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dan akhirnya tumbang lewat drama adu penalti 2-3 dari Estudiantes de La Plata. Kekalahan ini melengkapi kekecewaan besar bagi flamengo yang tampil tumpul sepanjang dua leg semifinal.
Laga berjalan sesuai skenario yang diharapkan tuan rumah. Flamengo mendominasi penguasaan bola, sementara Estudiantes memilih bertahan rapat dengan formasi lima bek ketika kehilangan bola. Peluang pertama justru datang dari tim tamu. Sundulan Leandro González Pirez yang disambung Marcos Rojo di kotak penalti memaksa kiper Agustín Rossi melakukan penyelamatan gemilang. Beberapa saat kemudian, sepakan jarak jauh Ezequiel Piovi membentur pemain dan menghantam tiang gawang.
Flamengo perlahan bangkit. Pedro Guilherme dua kali mengancam, termasuk aksi individu yang berakhir dengan sepakan menyamping. Namun hingga turun minum, skor tetap 0-0. Harapan besar muncul di awal babak kedua ketika Baltasar Rodríguez diganjar kartu kuning kedua pada menit ke-50 dan harus meninggalkan lapangan. Bermain dengan sebelas melawan sepuluh, flamengo seharusnya mampu menekan habis-habisan.
Kenyataannya, kreativitas justru hilang. Umpan-umpan silang Léo Pereira kerap tanpa arah dan tak menemui sasaran. Jardim baru bereaksi terlambat. Perubahan pertama, masuknya Arrascaeta menggantikan Carrascal, baru terjadi pada menit ke-18 babak kedua. Tiga pergantian sekaligus—Bruno Henrique, Gonzalo Plata, dan Ayrton Lucas—baru dilakukan pada menit ke-81. Satu menit berselang, Plata memaksa kiper Fernando Muslera bekerja untuk pertama kalinya. Peluang terbaik berikutnya hadir lewat sundulan Lucas Paquetá yang tipis di sisi gawang.
Tanpa gol hingga 90 menit, pertandingan dilanjutkan ke adu penalti. Di sinilah nama Fernando Muslera bersinar. Kiper berusia 40 tahun asal Uruguay itu menjadi pahlawan Estudiantes dengan menepis tiga eksekusi sekaligus, yaitu dari Jorginho, Lucas Paquetá, dan Bruno Henrique. Sementara itu, Cetré gagal untuk Estudiantes, dan Léo Pereira serta Arrascaeta berhasil mencetak gol bagi flamengo. Namun tiga kegagalan tadi membuat mimpi tim tuan rumah sirna.
Muslera bukan sosok asing. Lahir di Buenos Aires pada 16 Juni 1986, ia membangun karier bersama timnas Uruguay, memperkuat Lazio, lalu menghabiskan 14 tahun bersama Galatasaray sebelum bergabung dengan Estudiantes pada 2025. Ia telah tampil di lima edisi Piala Dunia dan ikut mengantar Uruguay juara Copa América 2011.
Kegagalan ini menegaskan masalah ofensif yang menghantui flamengo sepanjang musim. Jika sebelumnya tim kesulitan mengonversi banyak peluang, kali ini nyaris tidak ada peluang berarti yang tercipta. Bruno Henrique nyaris tak menyentuh bola pada leg pertama di La Plata, sementara Pedro hanya bersinar sesaat sebelum tenggelam. Para pemain sayap dan gelandang juga gagal memberikan dampak. Dari enam pertemuan kontra Estudiantes dalam dua tahun terakhir, flamengo hanya benar-benar tampil baik satu kali.
Menariknya, jumlah penonton laga ini menjadi yang tertinggi untuk sepak bola Brasil pada 2026, meski masih kalah 300 orang dari laga NFL antara Baltimore Ravens dan Dallas Cowboys di stadion yang sama pada September lalu.
Dengan hasil ini, Estudiantes melaju ke final Copa Libertadores 2026 dan akan menghadapi Palmeiras pada Sabtu, 28 November 2026, di Estadio Centenario, Montevideo. Bagi flamengo, pertanyaan besar kini menanti: bagaimana membenahi lini serang yang tampak kehilangan taring di momen paling krusial? Kekecewaan di hadapan puluhan ribu pendukung sendiri menjadi tamparan keras bahwa dominasi penguasaan bola tanpa ketajaman hanyalah sia-sia. Perjalanan panjang musim ini harus ditutup dengan evaluasi menyeluruh, mulai dari strategi rotasi Jardim hingga mentalitas para pemain bintang saat menghadapi tekanan adu penalti.
