PHR Perkuat Pelestarian Hutan dan Satwa, Tanam 1.325 Pohon di Wilayah Operasi Rokan
Inforiau – 28 Oktober 2026 | Komitmen terhadap kelestarian lingkungan kembali ditegaskan oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Melalui rangkaian program konservasi yang berkelanjutan, PHR Perkuat Pelestarian Hutan dan Satwa Tanam 1 325 Pohon di Wilayah Operasi, sebuah langkah nyata yang memadukan perlindungan ekosistem dengan tanggung jawab sosial perusahaan di kawasan Rokan, Riau.
Upaya tersebut dipaparkan secara terbuka melalui stan edukasi PHR Zona Rokan dalam ajang Hutan.ID Fest 2026 yang berlangsung di Pekanbaru pada 23–25 Oktober 2026. Kegiatan yang digelar Kementerian Kehutanan ini menjadi panggung bagi PHR untuk memperkenalkan beragam program perlindungan ekosistem, mulai dari rehabilitasi lahan, pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga pemantauan flora dan fauna secara sistematis.
Biodiversity Action Plan sebagai Fondasi Konservasi
Manager HSE Environment Zona Rokan, R. Budi Soenarto Koesoemo, menjelaskan bahwa upaya konservasi perusahaan dijalankan melalui Biodiversity Action Plan. Program ini dirancang untuk menjaga kelestarian habitat sekaligus merespons perubahan ekosistem di sekitar wilayah operasi, khususnya di kawasan Duri Steam Flood dan Hutan Talang.
Strategi tersebut mencakup empat fokus utama yang saling terkait:
- Pemulihan lahan dan peningkatan tutupan vegetasi;
- Penguatan kelembagaan serta pencegahan karhutla;
- Inventarisasi flora dan fauna;
- Pengembangan sistem informasi keanekaragaman hayati berbasis digital.
Melalui kerangka kerja itu, langkah PHR Perkuat Pelestarian Hutan dan Satwa Tanam 1 325 Pohon di Wilayah Operasi bukan sekadar seremonial penanaman, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang terukur dan terdokumentasi.
Target Penanaman dan Capaian di Lapangan
Pada 2026, PHR menargetkan penanaman 1.325 bibit pohon di wilayah kerja Rokan. Hingga saat ini, sebanyak 1.025 bibit dari 25 jenis pohon kayu, peneduh, dan buah-buahan telah ditanam. Ragam jenis tersebut dipilih agar tidak hanya memperkuat tutupan vegetasi, tetapi juga menghadirkan manfaat ekologis dan ekonomis bagi lingkungan sekitar.
| Indikator | Keterangan |
|---|---|
| Target penanaman 2026 | 1.325 bibit pohon |
| Realisasi hingga kini | 1.025 bibit |
| Jenis pohon | 25 jenis (kayu, peneduh, buah-buahan) |
| Kawasan prioritas | Duri Steam Flood dan Hutan Talang |
Untuk mencegah karhutla, PHR bersinergi dengan Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Kolaborasi ini menjadi kunci karena pencegahan kebakaran membutuhkan kesiapsiagaan bersama antara perusahaan, pemerintah, dan warga di sekitar wilayah operasi.
Teknologi Bioakustik dan Camera Trap untuk Pemantauan Satwa
Pemantauan satwa dilakukan menggunakan perangkat bioakustik dan camera trap di kawasan Duri Steam Flood dan Hutan Talang. Budi menjelaskan bahwa perangkat tersebut membantu mengidentifikasi satwa melalui suara dan merekam aktivitas mamalia, termasuk satwa yang aktif pada malam hari.
Data yang dihasilkan berfungsi memperbarui baseline keanekaragaman hayati, mendeteksi dini potensi konflik manusia dengan satwa liar, serta menjadi acuan pengambilan keputusan berbasis data. PHR juga mengembangkan sistem informasi biodiversitas untuk mengintegrasikan hasil penelitian dan inventarisasi flora-fauna secara digital.
Pelaksanaan program ini dilakukan melalui kerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), termasuk dalam rehabilitasi lahan, perlindungan satwa, dan pengembangan agroforestri. Sinergi akademik ini memperkuat validitas ilmiah dari setiap langkah yang diambil, sehingga PHR Perkuat Pelestarian Hutan dan Satwa Tanam 1 325 Pohon di Wilayah Operasi dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.
Hutan Rumbai, Penyangga Ekosistem dengan Kekayaan Hayati
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian PHR adalah Hutan Rumbai yang berdampingan dengan Kompleks Perkantoran PHR di Rumbai, Pekanbaru. Kawasan hutan sekunder tua seluas 420 hektare ini berfungsi sebagai penyangga ekosistem sekaligus habitat berbagai jenis flora dan fauna.
Berdasarkan data identifikasi pada 2024, kawasan tersebut memiliki 366 jenis pohon, termasuk pohon langka seperti tembesu, kulim, jelutung, dan gaharu. Hutan Rumbai juga menjadi habitat bagi 177 spesies burung, dengan 22 di antaranya merupakan satwa dilindungi.
Sejumlah satwa yang hidup di kawasan tersebut antara lain lutung kelabu, simpai, owa ungko, kukang, tapir, kucing emas, dan trenggiling. Untuk mendukung kelestarian habitat, PHR melakukan sosialisasi perlindungan hutan serta menanam ratusan bibit pohon buah sebagai tambahan sumber pakan bagi primata.
Melibatkan Masyarakat dan Generasi Muda
Selain konservasi, PHR menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan melibatkan masyarakat. Kegiatannya meliputi peningkatan kapasitas di bidang pertanian dan peternakan serta pengembangan sumber ekonomi baru, sehingga pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan warga.
Dalam sesi diskusi Hutan.ID Fest 2026, Budi mengajak generasi muda untuk terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan. Menurutnya, kecintaan terhadap hutan dapat dimulai dengan mengenal kawasan konservasi yang mudah dijangkau, seperti Taman Hutan Raya (Tahura) di Pekanbaru.
Asisten III Setdaprov Riau, Job Kurniawan, menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian hutan tidak cukup diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari keberlangsungan pertumbuhan pohon, kondisi ekosistem, dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Hutan, katanya, tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga ekonomi, kebudayaan, pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, langkah PHR Perkuat Pelestarian Hutan dan Satwa Tanam 1 325 Pohon di Wilayah Operasi menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam mendorong inovasi konservasi, rehabilitasi, dan pengelolaan hasil hutan secara berkelanjutan. Ke depan, keberhasilan program ini akan bergantung pada konsistensi pemantauan, kolaborasi multipihak, serta partisipasi masyarakat yang terus dijaga.
