Proposal Program Nuklir Iran Diserahkan ke AS via Qatar, Tujuh Syarat Jadi Penentu
Inforiau – 07 November 2026 | Pemerintah Iran dilaporkan telah mengirimkan dokumen proposal baru mengenai program nuklir Iran kepada Amerika Serikat melalui Qatar. Sumber pejabat senior Teheran menyatakan berkas itu kini ditinjau Washington, tetapi perundingan substantif belum akan dimulai sebelum AS menyepakati sejumlah tuntutan pokok. Langkah ini menjadi upaya terbaru mediator kawasan untuk meredam potensi konflik yang meluas di Timur Tengah.
Pejabat Keamanan Senior Iran, Mohsen Rezaei, menyebut ada tujuh prasyarat mutlak sebelum pembicaraan resmi dibuka kembali. Tuntutan itu antara lain pencabutan penuh sanksi ekonomi, pembebasan seluruh aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta ganti rugi atas kerusakan akibat bentrokan militer. Teheran menegaskan negosiasi tidak akan berjalan otomatis hanya karena dokumen telah diserahkan.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan hadiah hingga 20 juta dolar AS, atau sekitar Rp362,6 miliar, bagi siapa pun yang memberikan informasi tentang program nuklir Iran. Tawaran melalui program Rewards for Justice itu mencakup fasilitas, peralatan, dan personel yang terlibat, termasuk kalangan ilmuwan. Departemen Luar Negeri AS menyebut ketidakpatuhan Iran terhadap kewajiban pengawasan IAEA membuat badan itu kehilangan kesinambungan pengetahuan soal produksi dan persediaan komponen kunci seperti sentrifus.
Pernyataan itu muncul meski Presiden Donald Trump berulang kali menegaskan bahwa program nuklir Iran telah dilumpuhkan. Dalam pidato di West Palm Beach, Florida, Trump mengatakan tanpa serangan AS, Israel tidak akan bertahan dan Iran bisa menggunakan senjata nuklir. Namun, ia juga menilai Iran sangat ingin mencapai kesepakatan setelah ekonomi dan militernya dinilai rusak akibat perang sekitar delapan bulan. Trump menyinggung satu atau dua target yang masih harus ditangani, termasuk kompleks Pickaxe Mountain di Iran tengah, yang oleh Teheran dibantah sebagai fasilitas nuklir.
Dengan posisi kedua pihak yang masih jauh, prospek negosiasi bergantung pada kesediaan AS menanggapi syarat Iran dan kesiapan Teheran memberi jaminan yang dapat diverifikasi. Perundingan melalui Qatar menjadi ujian bagi diplomasi kawasan: apakah ketegangan dapat diturunkan, atau justru semakin tajam di tengah tekanan sanksi dan ancaman militer. Editor: Alwira Fanzary
