Tim Sweeney Kembali Serang Steam: Tuding Valve Hambat Industri Game Selama Bertahun-tahun
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Perseteruan antara Tim Sweeney dan Valve kembali memanas. CEO Epic Games tersebut melontarkan tuduhan keras bahwa Valve, pemilik platform distribusi digital Steam, telah “menahan kemajuan industri game selama bertahun-tahun” melalui ekosistem Steamworks yang dinilainya sebagai taman tertutup sosial. Pernyataan Tim Sweeney ini muncul sebagai respons terhadap komentar Kiaran Ritchie, seorang mantan programmer Epic Games, yang mengkritik komisi 30 persen yang diberlakukan Steam pada setiap penjualan game.
Dalam cuitannya di platform X, Ritchie menyebut sistem bagi hasil 30 persen sebagai “pajak yang menyedihkan” bagi industri game. Ia bahkan berklaim bahwa alternatif Steam dapat dibuat dalam waktu seminggu dengan bantuan vibe coding, mengingat biaya infrastruktur cloud yang kini semakin murah. Ritchie juga menyoroti obsesi pengguna terhadap “koleksi Steam” mereka sebagai penghalang utama lahirnya platform pesaing.
Menanggapi hal itu, Tim Sweeney langsung memberikan dukungan penuh. “Tepat sekali. Valve telah menahan industri game selama bertahun-tahun dengan mengunci game PC para pengembang ke dalam taman tertutup sosial Steamworks, di mana pemain tidak dapat berbicara dengan pemain lain di iOS, Android, Xbox, PlayStation, Switch, atau bahkan toko PC lainnya,” ujarnya. Pernyataan Tim Sweeney ini langsung memicu perdebatan sengit di dunia maya.
Namun, klaim tersebut mendapat bantahan dari komunitas. Sebuah catatan komunitas di X menegaskan bahwa banyak game menggunakan Steamworks hanya untuk autentikasi guna mendukung fitur lintas platform (crossplay), sementara fungsi lainnya dikelola sendiri oleh pengembang. Tim Sweeney pun merespons dengan menyebut catatan tersebut “palsu” dan menegaskan bahwa Steam Datagram Relay hanya berkaitan dengan aspek jaringan, bukan fitur sosial yang ia soroti.
Keesokan harinya, Tim Sweeney sedikit melunak. Ia mengakui bahwa Valve “tidak menculik atau memaksa” pengembang untuk menggunakan Steamworks. Meski demikian, ia bersikeras bahwa dalam praktiknya sangat sulit bagi pengembang untuk menghindarinya karena integrasi yang mendalam dan kebiasaan pengguna yang sudah mengakar. Epic Games kemudian menawarkan solusi alternatif melalui Epic Online Services, sebuah kerangka layanan sosial dan matchmaking gratis yang dapat digunakan di luar Epic Games Store.
Serangan terhadap Kebijakan Transparansi AI Steam
Bukan hanya soal komisi dan Steamworks, Tim Sweeney juga menyerang kebijakan transparansi penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif yang diwajibkan Valve. Menurutnya, aturan yang mewajibkan pengembang mengungkapkan penggunaan AI untuk aset visual, pengisi suara, atau teks tersebut merupakan “pernyataan politik yang dipaksakan” dan “keji”. Ia menilai kewajiban ini justru memberikan amunisi bagi kelompok pembenci daring untuk melancarkan boikot terhadap para kreator.
“Memaksa pengembang menulis pernyataan politik untuk digunakan melawan mereka oleh massa pembenci yang mereka bantu atur adalah tindakan yang menjijikkan,” tulis Sweeney dalam cuitannya. Ia bahkan membandingkan label informasi AI dengan kewajiban mencantumkan pandangan politik pribadi atau riwayat voting pada halaman produk. Pernyataan ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk David Goldfarb, pendiri studio The Outsiders, yang menegaskan bahwa konsumen berhak mengetahui apa yang mereka beli.
Menariknya, Epic Games sendiri melalui platform Fab, marketplace digital miliknya, juga mewajibkan pencantuman penggunaan AI. Sweeney berdalih bahwa Fab adalah marketplace business-to-business (B2B) yang memerlukan verifikasi asal konten sebelum pembelian, sehingga informasi tersebut bersifat kontraktual dan legal, berbeda dengan konteks penjualan ritel seperti Steam.
Dominasi Steam yang Tak Tergoyahkan
Di balik gempuran kritik Tim Sweeney, Steam justru mencatatkan rekor baru dengan 43,5 juta pengguna terhubung secara bersamaan. Valve, di bawah kepemimpinan Gabe Newell, memilih bungkam dan tidak menanggapi provokasi tersebut. Strategi ini dinilai efektif untuk membiarkan pesaingnya kehabisan energi dalam polemik daring.
Sejak meluncurkan Epic Games Store pada 2018 dengan komisi hanya 12 persen, Epic memang berupaya menarik hati para pengembang. Namun, Steam tetap mendominasi pasar PC berkat visibilitas, perangkat pengembangan yang mumpuni, dan komunitas pengguna yang masif. Kritik Tim Sweeney tentang komisi 30 persen memang memiliki relevansi, terutama bagi studio independen kecil, tetapi banyak pengembang tetap memilih Steam karena alasan praktis dan komersial.
Pertarungan antara Epic Games dan Valve tampaknya akan terus berlanjut. Di satu sisi, Tim Sweeney konsisten menyuarakan perlunya ekosistem yang lebih terbuka dan adil bagi pengembang. Di sisi lain, Valve dengan dominasi pasarnya memilih untuk tetap tenang sambil terus memperkuat posisinya. Bagi para pengamat industri, polemik ini menjadi cerminan dinamika persaingan platform digital yang semakin ketat, di mana isu komisi, keterbukaan ekosistem, dan transparansi teknologi menjadi garis depan pertarungan.
