Inforiau – 27 Oktober 2026 | Kekalahan dramatis harus diterima Coritiba dalam laga pekan ke-32 Série A Campeonato Brasileiro 2026. Bermain di hadapan pendukung sendiri di Estádio Major Antônio Couto Pereira, Curitiba, pada Senin malam (26/10), Coxa takluk 0-1 dari Grêmio lewat gol Martin Braithwaite di menit-menit akhir pertandingan. Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi tim tuan rumah yang sepanjang laga tampil penuh semangat namun harus mengakui ketangguhan lawan di momen krusial.
Pertandingan berjalan dengan tempo tinggi sejak awal. Kedua tim tampak saling mempelajari kekuatan masing-masing. Namun, Grêmio terpaksa melakukan pergantian dini ketika Diego Caito merasakan nyeri dan harus ditarik keluar pada menit kelima, posisinya digantikan João Pedro. Meski demikian, skuad asuhan Renato Portaluppi tetap tampil agresif dan beberapa kali mengancam gawang Pedro Morisco.
Peluang emas pertama datang pada menit ke-12. Carlos Vinicius melepas umpan terobosan kepada Cristian Pavón yang berlari kencang, lalu mengirim bola kepada Francis Amuzu. Beruntung bagi Coritiba, Morisco yang sempat keluar dari posisinya mampu bangkit dan menggagalkan peluang tersebut dengan penyelamatan gemilang. Kiper muda itu menjadi tembok tebal bagi tim tuan rumah sepanjang pertandingan.
Menit ke-23, Pedro Rocha, mantan pemain Grêmio, mencoba peruntungan dari luar kotak penalti. Namun, bola hasil sepakannya masih bisa diamankan Weverton. Hingga menit ke-37, Grêmio kembali mendapat kans besar ketika Carlos Vinicius, dalam posisi bebas, melepaskan tembakan dekat dengan trave setelah menerima umpan Pavón. Beberapa detik kemudian, Amuzu melepas tembakan keras yang kembali digagalkan Morisco.
Menjelang akhir babak pertama, tepatnya menit ke-43, Josué memberi umpan kepada Joaquín Lavega yang berlari cepat ke depan gawang. Sayangnya, tembakan terarah pemain Uruguay itu masih bisa dihalau Weverton. Skor kacamata bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Grêmio meningkatkan intensitas serangan. Amuzu terus merepotkan lini pertahanan Coritiba dari sisi kiri. Wallace juga beberapa kali mengancam lewat sundulan, salah satunya berhasil digagalkan Morisco dengan penyelamatan penting. Tim tamu terus menumpuk umpan silang dan tembakan yang terblokir, sementara Coxa mencoba mengandalkan serangan balik cepat.
Gol yang dinanti akhirnya datang di penghujung laga. Pada menit ke-46 babak kedua, Filip Krovinović mengambil sepak pojok pendek kepada Amuzu, yang kemudian mengirim umpan lambung ke dalam kotak penalti. Braithwaite muncul dan menyundul bola untuk menaklukkan Morisco. Gol itu menjadi satu-satunya dalam pertandingan dan memastikan tiga poin bagi tim tamu.
Usai laga, Morisco tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Ia mengaku timnya telah memberikan segalanya, namun kembali harus kalah karena detail kecil di pengujung pertandingan.
“Kami memberikan segalanya. 90 menit kami berkorban. Kami menciptakan peluang, kami berjuang. Kami selalu bilang setiap kali kalah karena detail, detail, detail. Kami bermain 100 menit dan pada menit ke-98 kami tertidur,” ujar Morisco kepada Premiere.
“Hanya maafkan kami, para pendukung, kami telah menggelar pesta yang indah. Kami berjuang keras, kami punya peluang. Tapi sekarang kami punya laga final lagi di rumah. Mari terus percaya dan yakin bahwa pekerjaan ini berjalan dengan baik,” tambahnya.
Kiper berusia muda itu juga menegaskan keyakinannya bahwa keberuntungan akan berpihak pada timnya suatu saat nanti. Menurutnya, Coritiba terus menunjukkan perkembangan performa di lapangan meski hasil belum berpihak.
Dengan hasil ini, Coritiba tetap tertahan di peringkat ke-12 klasemen dengan koleksi 39 poin. Sementara itu, kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Grêmio di bawah asuhan Renato Portaluppi pada periode barunya. Tricolor kini mengoleksi 34 poin dan berada di posisi ke-17, masih di zona degradasi, satu poin di bawah Internacional. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri puasa kemenangan Grêmio selama tujuh laga di kompetisi tersebut.
Selanjutnya, Coritiba akan kembali bermain di kandang menghadapi Vitória pada Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB dalam laga pekan ke-33. Sementara Grêmio akan menjamu Athletico Paranaense.
Secara keseluruhan, laga ini menjadi pengingat keras bagi Coritiba bahwa konsistensi hingga peluit akhir adalah harga mati. Peluang yang tercipta belum mampu dikonversi menjadi gol, sementara kelengahan sesaat di menit akhir harus dibayar mahal. Kualitas individu Braithwaite dan ketenangan Grêmio di momen krusial menjadi pembeda. Bagi Coxa, fokus kini beralih ke laga melawan Vitória yang menjadi kesempatan emas untuk bangkit dan menjauh dari tekanan, sekaligus membuktikan bahwa kerja keras mereka akan segera berbuah hasil.
