Bursa BEI Berbenah: Danantara Masuk, Dividen Perdana Rp1,56 Triliun, dan Target Laba 2027 Melonjak 22,7%
Inforiau – 29 Oktober 2026 | Dinamika bursa Indonesia menorehkan babak baru yang signifikan. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/10/2026), para pemegang saham menyetujui sejumlah agenda strategis yang akan mengubah lanskap pasar modal Tanah Air. Mulai dari demutualisasi, pembagian dividen tunai perdana, hingga rencana masuknya Danantara sebagai pemegang saham, semuanya disepakati dalam forum tersebut.
Demutualisasi Membuka Pintu Bagi Danantara
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengonfirmasi bahwa proses pembelian saham bursa oleh Daya Anagata Nusantara (Danantara) telah memasuki tahap uji tuntas atau due diligence. Langkah ini merupakan bagian dari penjajakan Danantara untuk masuk sebagai pemegang saham BEI pascademutualisasi.
“Penawaran sudah, due diligence sedang berjalan. Tetapi kan proses sedang berjalan,” ujar Jeffrey kepada wartawan seusai RUPSLB.
Meski demikian, Jeffrey belum dapat mengungkapkan besaran porsi saham yang ditawarkan maupun nilai transaksinya. Sebelumnya, CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut lembaganya berencana membeli sekitar 5 hingga 10 persen saham BEI. Kepastian mengenai pembelian saham tersebut baru akan diketahui setelah seluruh proses dan dokumen yang diperlukan rampung.
Rencana masuknya Danantara sejalan dengan perubahan anggaran dasar yang disetujui pemegang saham dalam RUPSLB. Perubahan tersebut membuka peluang bagi pihak di luar anggota bursa untuk memiliki saham BEI. Jeffrey menegaskan, perubahan anggaran dasar itu mengatur dua hal pokok, yakni ketentuan mengenai pemegang saham dan pembagian dividen. Meskipun telah disetujui pemegang saham, perubahan tersebut baru berlaku efektif setelah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta persetujuan atau penerimaan pemberitahuan dari Menteri Hukum.
Jeffrey menambahkan, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) juga membuka peluang bagi Danantara Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia untuk menjadi pemegang saham bursa. Namun, ia menyatakan belum ada pernyataan minat dari Kementerian Keuangan maupun Bank Indonesia untuk membeli saham BEI.
Dividen Perdana Rp1,56 Triliun
Dalam RUPSLB yang sama, pemegang saham BEI menyetujui pembagian dividen tunai kepada para pemegang saham dengan total Rp1,56 triliun. Ini merupakan pembagian dividen pertama sepanjang sejarah bursa.
Menurut Jeffrey, dividen tersebut akan didistribusikan kepada pemegang saham yang termasuk dalam Daftar Pemegang Saham pada 27 Oktober 2027, atau setara dengan Rp17 miliar per saham. Sumber dana dividen adalah saldo laba ditahan mengacu pada laporan keuangan auditan per akhir Juni 2026. Selain untuk dividen, saldo tersebut juga dialokasikan sebagai cadangan operasional dan pengembangan senilai Rp2 triliun, sesuai dengan Pasal 26 Ayat 2 POJK 13.
Pemegang saham juga menyetujui agenda ketiga, yakni Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) perseroan untuk tahun buku 2027.
Target Laba 2027 Naik 22,76 Persen
Dalam RKAT 2027, BEI menetapkan target laba bersih sebesar Rp563,9 miliar, naik 22,76 persen dibandingkan target RKAT 2026 revisi. Pendapatan diproyeksikan mencapai Rp2,59 triliun pada tahun depan, naik 14,6 persen dari RKAT 2026 revisi.
Target tersebut dilandasi oleh proyeksi kenaikan transaksi efek, jasa pencatatan efek, serta pertumbuhan layanan data kebursaan. Dari segi aktivitas transaksi, BEI memperkirakan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) akan mencapai Rp21 triliun pada 2027, meningkat 16,7 persen. Jumlah pencatatan efek baru dibidik naik 13,1 persen menjadi 905 efek, mencakup 25 pencatatan saham, 175 obligasi dan sukuk, serta 705 efek lain seperti waran terstruktur dan produk investasi kolektif.
Selain itu, rata-rata investor aktif bulanan ditargetkan naik 44,4 persen menjadi 1,3 juta investor, dari sebelumnya 900.000 investor. Guna mendukung realisasi target itu, bursa menyiapkan belanja investasi senilai Rp670 miliar, lebih tinggi 161,82 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi. Dana tersebut akan digunakan untuk pengelolaan infrastruktur dan mendorong pertumbuhan bisnis ke depan, termasuk memperluas cakupan edukasi, literasi, dan aktivasi pasar modal melalui jaringan kantor perwakilan, galeri investasi, dan pemanfaatan kanal digital.
Langkah Besar Menuju Pasar Modal yang Lebih Kompetitif
Rangkaian keputusan dalam RUPSLB ini menandai fase transformasi penting bagi bursa Indonesia. Demutualisasi tidak hanya membuka ruang bagi masuknya investor strategis seperti Danantara, tetapi juga memperkuat struktur tata kelola dan permodalan BEI. Pembagian dividen perdana menjadi sinyal positif bagi pemegang saham, sementara target pertumbuhan laba yang ambisius mencerminkan optimisme terhadap prospek pasar modal nasional.
Dengan masuknya Danantara, BEI berpotensi memperoleh dukungan sumber daya yang lebih besar untuk memperluas basis investor dan meningkatkan likuiditas pasar. Namun, proses uji tuntas yang masih berjalan menuntut kesabaran semua pihak. Kepastian final baru akan diperoleh setelah seluruh dokumen rampung dan restu OJK serta Kementerian Hukum diterima.
Ke depan, tantangan utama terletak pada eksekusi strategi yang konsisten. Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, bursa Indonesia berpeluang memperkuat posisinya di kancah regional dan menarik lebih banyak partisipan pasar. Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya dari BEI dan Danantara dalam mewujudkan visi pasar modal yang lebih inklusif dan kompetitif.
