Emas di Tengah Badai: Dari Kilau 15 Medali Asian Para Games hingga Ambruknya Harga Logam Mulia
Inforiau – 26 Oktober 2026 | Kata ‘emas’ kembali mencuri perhatian publik Tanah Air pekan ini, bukan hanya karena kilaunya sebagai logam mulia, tetapi juga lantaran tiga peristiwa besar yang saling berkaitan: prestasi membanggakan kontingen Indonesia di Asian Para Games 2026, tragedi duka di ajang Porprov Jawa Tengah, dan gejolak harga emas dunia yang kembali menembus level psikologis. Dalam kurun waktu yang nyaris bersamaan, negeri ini menyaksikan bagaimana emas bisa bermakna kemenangan, kehilangan, sekaligus ketidakpastian ekonomi.
Kontingen Indonesia Bawa Pulang 15 Medali Emas
Kontingen Merah Putih tiba di Tanah Air dengan kepala tegak setelah berjuang di Asian Para Games 2026. Para atlet, pelatih, dan ofisial disambut di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Boyolali, pada Minggu (25/10/2026) pukul 18.00 WIB. Indonesia mengoleksi total 73 medali, terdiri dari 15 emas, 21 perak, dan 37 perunggu, sekaligus menempati peringkat kedelapan klasemen akhir.
Capaian itu jauh melampaui target awal pemerintah, yakni tujuh medali emas, delapan perak, dan 17 perunggu atau total 32 medali. Artinya, Indonesia berhasil meraih lebih dari dua kali lipat target emas yang telah ditetapkan. Chef de Mission kontingen Indonesia, Reda Manthovani, menyebut keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja sama dan kekompakan seluruh elemen kontingen, mulai dari National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, atlet, pelatih, hingga para pendukung.
Menurut Reda, pencapaian itu juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya misi keempat yang berkaitan dengan prestasi olahraga serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. “Kita hanya bersyukur karena ini berkat kerja sama yang solid antara NPC, atlet, para pelatih, dan juga para pendukung lainnya,” ujarnya melalui rilis resmi.
Duka Menyelimuti Peraih Dua Emas Porprov Jateng
Namun, kilau emas tak selalu hadir tanpa duka. Dunia olahraga Jepara berduka setelah atlet selam Syabilla Rizkia, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada angkatan 2023 yang berusia 22 tahun, meninggal dunia saat berlaga di nomor selam laut Porprov Jateng 2026 di perairan Pantai Awann Costa, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, pada Minggu (25/10/2026).
Berdasarkan keterangan polisi, Syabilla mulai bertanding sekitar pukul 09.00 WIB. Korban sempat melambaikan tangan pada putaran kedua, tetapi memutuskan untuk terus melanjutkan perlombaan. Petugas mengevakuasi Syabilla sekitar pukul 09.20 WIB dalam kondisi tidak sadarkan diri, dengan busa keluar dari mulut dan hidungnya. Tim medis langsung memberikan tindakan resusitasi sebelum membawanya ke IGD Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH) Semarang. Sayang, berbagai upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil, dan ia dinyatakan meninggal sekitar pukul 10.00 WIB.
Dua hari sebelumnya, tepatnya Jumat (23/10/2026), Syabilla sukses mempersembahkan dua medali emas bagi kontingen Jepara dari cabang olahraga selam nomor kolam putri, yakni pada jarak 100 meter dan 200 meter bifins. KONI dan Pemkab Jepara menyampaikan belasungkawa resmi, sementara seluruh anggota kontingen diwajibkan mengenakan pita hitam pada sisa pertandingan sebagai tanda berkabung.
Harga Emas Dunia Siap Terjun Bebas
Di sisi lain, emas sebagai komoditas finansial justru tengah tertekan. Pada perdagangan Jumat (23/10/2026), harga emas di pasar spot ditutup jatuh 0,72% menjadi US$ 3.995,63 per troy ounce. Harga sempat menyentuh US$ 3.975,23 per troy ounce, menembus ke bawah level psikologis US$ 4.000 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli 2026.
Kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut, serta ekspektasi pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh Federal Reserve telah menekan permintaan terhadap aset aman. Direktur pelaksana Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, menyoroti penurunan harga emas ke level terendah dalam tiga bulan. “Harga memang sempat pulih, namun secara teknikal kondisinya masih lemah. Indikator momentum tidak menunjukkan kenaikan,” ungkapnya. Adapun Sean Lusk dari Walsh Trading menyatakan konflik di Iran beserta dampaknya terhadap harga minyak dan proyeksi suku bunga The Fed terus membatasi potensi kenaikan harga emas.
Tambang Emas Nabire Dikembalikan ke Negara
Di sektor hilir, Kementerian ESDM buka suara terkait pencabutan Izin Usaha Pertambangan milik PT Kristalin Ekalestari di Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, oleh Satgas PKH. Pencabutan IUP tambang emas ini dilakukan setelah ditemukan pelanggaran berupa aktivitas penambangan tanpa Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan, dengan total pembukaan lahan ilegal mencapai 275,9025 hektare.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menegaskan setiap IUP yang dicabut akan kembali dikuasai oleh negara. “Setiap IUP dicabut, ini dikembalikan posisinya kepada negara,” tegasnya, seraya memastikan belum ada keputusan untuk memberikan izin tersebut kepada ANTAM.
Refleksi Akhir Pekan yang Panjang
Dari tiga peristiwa ini, emas tampak hadir sebagai cermin beragam wajah bangsa. Di Asian Para Games, emas adalah bukti ketangguhan dan kerja keras para atlet disabilitas yang berhasil melampaui target. Di Porprov Jateng, emas menjadi saksi perjuangan terakhir seorang atlet muda yang gugur di tengah arena. Sementara di pasar global dan sektor pertambangan, emas menunjukkan sisi lain sebagai komoditas yang rentan terhadap gejolak ekonomi dan tata kelola yang buruk.
Bagi investor, pelemahan harga emas di bawah US$ 4.000 per troy ounce menjadi sinyal waspada di tengah ketidakpastian global. Bagi pemerintah, pencabutan IUP tambang emas Nabire menegaskan komitmen penegakan hukum dan tata kelola sumber daya alam yang lebih baik. Dan bagi dunia olahraga, duka atas kepergian Syabilla menjadi pengingat pentingnya aspek keselamatan dalam setiap kompetisi. Kilau emas, pada akhirnya, selalu datang bersama tanggung jawab, baik di podium kemenangan, di pasar keuangan, maupun di ruang-ruang kebijakan.
