Klarifikasi Kiky Saputri soal Video 'Rakyat Jelata' di Jet Pribadi, Minta Maaf dan Ungkap Konteks 2023
Inforiau – 06 November 2026 | JAKARTA — Klarifikasi Kiky Saputri kembali menjadi perhatian publik setelah video lamanya menaiki jet pribadi dan menyebut “rakyat jelata” beredar lagi di media sosial. Komika itu menyampaikan permintaan maaf terbuka melalui unggahan Instagram @kikysaputrii pada Rabu (4/11/2026), seraya menegaskan bahwa rekaman tersebut dibuat pada 2023 dan bukan bagian dari liburan pribadi.
Dalam penjelasannya, Kiky mengatakan video itu terekam saat ia bersama sejumlah pengisi acara diundang ke peresmian Bandara Internasional Kertajati di Jawa Barat. Rombongan berada dalam satu pesawat bersama Menteri Perhubungan saat itu, Budi Karya Sumadi. Karena itu, ia menyebut perjalanan tersebut sebagai bagian dari tugas negara, bukan agenda flexing.
Klarifikasi Kiky Saputri juga menyoroti asal istilah “rakyat jelata” yang memicu kritik. Menurut Kiky, frasa itu merupakan sindiran terhadap fenomena pamer kemewahan yang ramai dibahas saat itu. Ia menegaskan tidak bermaksud merendahkan masyarakat. Sebaliknya, ia memposisikan diri sebagai orang biasa yang baru pertama kali menaiki jet pribadi, sehingga candaan tersebut lahir dari pengalaman pribadinya.
Sebagai komika yang dikenal lewat materi roasting, Kiky mengakui sering menggunakan sindiran dan sarkasme. Meski demikian, ia menyadari pilihan kata dalam video itu bisa dipahami berbeda oleh publik. “Aku memahami bahwa ada pilihan kata yang mungkin terdengar kurang tepat,” tulisnya. Ia pun meminta maaf kepada pihak yang merasa tersinggung.
Klarifikasi Kiky Saputri ini menjadi pengingat bahwa maksud pembicara tidak selalu sama dengan dampak yang dirasakan audiens. Ia berjanji lebih berhati-hati dalam memilih kata dan menjadikan kritik sebagai pelajaran. Permintaan maaf itu disampaikan tanpa menghapus konteks bahwa video berasal dari kegiatan resmi pada 2023.
Hingga berita ini ditulis, klarifikasi Kiky Saputri mendapat beragam respons warganet. Sebagian menilai penjelasan itu cukup membuka konteks, sementara yang lain tetap menyoroti pentingnya kepekaan sosial dalam bercanda. Kasus ini memperlihatkan bagaimana unggahan lama dapat kembali viral dan memicu diskusi baru di ruang publik.
Editor: Ahmad Syafwan
