Amuk Datuk dan Gaung Otsus

Kamis, 26 April 2018 22:44:51 360
Amuk Datuk dan Gaung Otsus
Ilustrasi

Bonita(cantik). Nama ini disematkan pada seekor harimau betina yang disebut-sebut rupanya sangat elok di negeri Seribu Parit. Namun, selama tiga bulan terakhir menjadi makhluk sangat menakutkan bagi masyarakat.

Amuk 'Datuk' dituding(tidak ada saksi mata) penyebab tewasnya dua warga. Saya gunakan kata dituding, sebab memang tidak ada saksi yang melihat langsung Datuk melakukan penyerangan. Ini kurang lebih sama dengan drama kasus Kopi Vietnam Mirna, pada akhirnya mengantarkan Jessica mendekam di bui dengan putusan dari keyakinan hakim tanpa ada bukti langsung. Hanya korban dengan bukti penyebab yang melekat dijasad.

Kisah perlawanan Datuk mungkin sudah usai. Kini kerangkeng menutup ruang geraknya, buah dari bertungkus lumus banyak pihak. Dari sniper hingga pawang dari negeri Celine Dion. Tapi, jika kita tidak bisa ambil pelajaran dari peristiwa ini, bisa jadi kita tergolong ciptaan tuhan yang dungu. Seperti disebut Rocky Gerung, bukan tentang orang, namun tentang metode berpikir yang dungu.

Kajian dari pakar lingkungan, DR Elviriadi tegas mengatakan terjadi fragmentasi habitat Datuk oleh perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri. Padahal kata anak watan Meranti ini, Datuk memerlukan landskap alam yang luas dan pakan yang cukup.

Apalah tidak, kawasan hutan yang dulunya menjadi rantai makanan dari tungau hingga gajah, saat ini secara serampangan digarap atas nama korporasi yang memberi mimpi kesejahteraan masyarakat tempatan. Korporat kepara* ini malah menuding, hewan ternak masyarakat yang dilepasliarlah mengundang Datuk masuk perkampungan.

Selama ini keberadaan Datuk bukan hanya sekedar penjaga hutan, namun lebih dari itu, agar menjaga akal kita tetap waras membentengi diri dari sikap tamak. "Buah di pokok durian yang terakhir itu jangan lah nak diambil, itu jatah Datuk". Itu kearifan lokal yang ditanamkan orang-orang tua kita kepada anak kemenakan di puak Melayu.

Bukanlah benar-benar buah durian yang terakhir itu menjadi sesajian yang diterima Datuk, namun lebih kepada hak mutlak pemilik pokok durian. Pasalnya, saat musim berbuah tiba, satu orang kampung secara tidak langsung diperbolehkan mengutip buah durian yang jatuh, asalkan pemilik tidak ada di pondok jaga. Ini maknanya, silahkan nikmati bersama kekayaan alam yang dititipkan di tanah kami ini. Namun ada batas.

Penguasaan hutan oleh kelompok yang memposisikan Republik ini hanya ayah angkatnya, dan negeri seberang itu ayah kandungnya bukanlah berdiri tunggal sebab mereka punya daya. Tetapi karena bagian dari kita ada yang khianat, digoda Rupiah dan paha wanita Ibukota, cara klasik zaman kompeni yang berulang dan ampuh.

Disaat Datuk Bonita saat ini dijinakkan dengan mantra-mantra, estafet memperjuangkan hak-hak akan tanah, air dan kekayaan alam yang ada di Riau dalam bingkai Otonomi Khusus (Otsus), menyeruak kembali dari Suhardiman Ambi, Sang Datuk Panglimo Dalam. Yang satu ini bukan Datuk cantik. Tapi tuk hal menaklukkan wanita cantik, bisa jadi.

Beberapa organisasi mahasiswa paguyuban, OKP dan tokoh turut hadir dalam rembuk awal. Tampak Eddy Rab(Adik Tabrani Rab, Presiden Riau Merdeka), Fakhrunnas Jabbar(Mantan Seknas Otsus satu dekade yang lalu), Tengku Meiko(Menurut saya, Sejarahwan yang tidak bosan memprovokasi kita akan kenangan kejayaan Melayu Riau).

Sumbangsaran tersaji, presidium dibentuk, mengikat semua simpul menjadi kesepakatan. Dan petuah meluruskan niat tak lupa disampaikan. Perjuangan Otsus yang dulunya juga pernah mengemuka dijadikan refleksi. Potensi niat yang berselingkuh dari awal sangat mungkin terjadi, atau tempat berpijak yang tak kuat dari goncangan, bisa menjadi penyebab langkah membusuk ditengah jalan.

Jika ada, dan bisa dipastikan akan ada cibir dan nyinyir dari delapan penjuru mata angin dengan wacana Otsus Riau ini kembali mengemuka. Itu dinamika, lumrah. Namun satu hal catatan saya, Sumbangsih Kekayaan Alam dan Bahasa Melayu Riau sebagai cikalbakal Bahasa Indonesia tidak cukup dijadikan posisi tawar, Pemerintah pusat terlalu bingal untuk menerima fakta dan data itu, harus ada pemikiran yang ekstrem dan liar.

Minta dirangkul menjadi bagian dari negara serumpun di semenanjung, melalui komunikasi dan interaksi yang dipublikasi secara masif mengapa tidak?. Dengan cara implisit, biarlah penguasa di pusat yang menterjemahkannya, atau, jika bagak, secara eksplisit boleh dicoba. Tanah Papua dan Nanggroe Aceh Darussalam bisa dijadikan tolak ukur campurtangan negara asing, sebelum provinsi ini mendapatkan keistimewaan.

Dalam perjalanan perjuangan Otsus Riau sekali waktu boleh tumbang, seperti Datuk Bonita yang ditembak bius, namun kembali bangkit membuat pengintai menghela nafas. Dan tetap waspada dengan mantra-mantra penjinak. Kuasa, Rupiah dan Paha.

Oleh : Alwira Fanzary

Ketua OKP Lingkar Anak Negeri Riau

KOMENTAR