Alat Rusak, Pemantauan Gunung Anak Krakatau Dari Pos Kalianda Hanya Andalkan Mata dan Telinga

Jumat, 28 Desember 2018 11:30:30
Alat Rusak, Pemantauan Gunung Anak Krakatau Dari Pos Kalianda Hanya Andalkan Mata dan Telinga
Gunung Anak Krakatau

Di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau yang terus berlangsung, petugas pemantauan di Kalianda, Lampung, melakukan laporan dengan mengandalkan pandangan mata karena pos pengamatan rusak sejak Mei lalu.

Suwarno, petugas pos pemantauan yang terletak sekitar 40 kilometer dari Gunung Anak Krakatau mengatakan ia mengandalkan mata dan telinganya untuk mencatat erupsi yang terjadi hampir setiap menit.

Alat-alat di pos pengamatan ini, termasuk seismograf, alat pengukur getaran rusak karena letusan. Alat perekam getaran juga tak berfungsi karena tersambar petir sejak Mei lalu, kata Suwarno.

"Tidak bisa menghitung gemuruh, karena sering, bahkan hitungannya detik... Saat ini peralatan kita rusak, yang di lapangan (di seputar Gunung Anak Krakatau) juga rusak karena letusan," jelas Suwarno kepada BBC News Indonesia.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang ia laporkan berupa perkiraan ketinggian asap akibat erupsi, tanda-tanda fisik ketika awan panas meluncur ke lautan, arah angin yang mempengaruhi arah abu vulkanik, kepekatan asap karena erupsi, dan keadaan cuaca saat pengamatan berlangsung.

Catatan Suwarno kemudian dikirimkan ke Pos Pengamatan di Carita, Banten setiap enam jam dalam satu hari.

Suwarno mengatakan catatan yang dikirim dari pos pengamatan di Lampung merupakan data pelengkap dari data yang direkam di Carita.

"Bersyukur kita ada Pos Pemantauan di Pasauran, Carita, ada teknisi dan alatnya jauh lebih canggih di sana, sehingga bisa merekam data secara akurat," tambah Suwarno.

Ia juga mengatakan pos pemantauan tempat dia bertugas tidak dilengkapi dengan CCTV, atau kamera yang bisa merekam aktivitas gunung itu, sementara di Carita, alat seperti ini tersedia.

Wartawan BBC News Indonesia Silvano Hajid dan Anindita Pradana yang berada di lokasi pos pemantauan selama sekitar enam jam mengatakan "kesempatan untuk mengamati Gunung Anak Krakatau dalam keadaan jelas, tanpa tertutup awan, sangatlah kecil."

Upaya merekam aktivitas gunung dari jauh selama empat menit, hanya terlihat sekitar 15 detik saat awan tergeser angin.


Dengan jarak pemantauan yang cukup jauh, sekitar 40 kilometer, Suwarno sesekali menggunakan teropong.

"Kabut, asap, dan awan adalah kendala utama dalam laporan pandangan mata," kata Suwarno.

Suwarno mengatakan ketinggian kepulan asap yang ia pantau bisa sampai hampir dua kilometer.

"Biasanya ketinggian asap putih hingga hitam tebal, antara 200 sampai 1.800 meter...Kalau ukuran awan panas, karena landai, bisa sekitar 100 meter perdetik, dengan suhu diperkirakan 800 derajat celcius," kata Suwarno.

Kristianto pejabat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengakui bahwa pemantauan seismik terganggu karena rusaknya alat akibat letusan dan tsunami pada 22 Desember lalu.

"Alat yang rusak pada bulan Mei belum bisa diganti dengan yang baru karena lokasi Gunung Anak Krakatau lebih dekat dengan pusat erupsi. Sehingga pada waktu tersebut menggunakan sinyal yang sama yang digunakan oleh Pos PGA Anak Krakatau di Pasauran, maka pada saat sensor tersebut rusak terkena erupsi 22 Desember 2018 pemantauan seismikpun jadi terganggu sementara sampai saat ini," kata Kristianto.

"Sehingga untuk saat ini data seismik yang digunakan di Pos Kalianda mengacu pada data seismik di Pos Pengamatan Gunung Api, PGA Pasauran, dan untuk visual bisa menambahkan data yang didapat dari Pos PGA Kalianda," tambahnya. Vo

KOMENTAR