Belasan Desa di Kampar Terendam

Senin, 18 Januari 2016 20:27:37 2897
Belasan Desa di Kampar Terendam
desa Dusun 1 Pulau Rumbai Kecamatan Kampar Timur Merupakan salah satu desa yang terendam banjir di kabupaten kampar
Bangkinang, inforiau.co - Hujan deras mengguyur dua Provinsi Sumatera Barat dan Riau mengakibatkan air waduk Koto Panjang di Kampar terus meluap. 
 
Akibatnya 16 desa di 5 kecamatan yang dihuni 3.273 warga terendam banjir. Warga masih tetap bertahan di rumah masing-masing meski tergenang air. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
 
“Ketinggian air mencapai 80 sentimeter,” kata Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kampar Muhammad Nasir, Ahad (17/1).
 
Nasir menjelaskan, banjir terjadi akibat pintu air waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang dibuka lantaran kawasan hulu waduk di Sumatera Barat sedang mengalami musim hujan. 
 
Akibatnya, aliran air cukup deras ke bagian hilir waduk di Kampar, Riau. Walhasil, debit air terus naik dan mengalir deras sehingga pihak PLTA terpaksa membuka pintu air agar tanggul tidak jebol. “Jika pintu air tidak dibuka dikhawatirkan tanggul akan jebol,” kata Nasir.
 
Nasir melanjutkan, pintu air waduk Koto Panjang dibuka pada Jumat (15/1). 
 
Dia menambahkan, pihak PLTA Koto Panjang telah memberi tahu pemerintah Kampar dan kepolisian untuk membuka pintu air sebagai langkah antisipasi agar tanggul tidak jebol. Pemerintah daerah, kata dia, juga telah memberi peringatan kepada warga agar waspada.
 
“Pintu air dibuka perlahan-lahan. Jika pintu air tidak dibuka dikhawatirkan tanggul akan jebol. Kalau tanggul jebol justru akan membuat banjir lebih parah lagi,” jelasnya.
 
Nasir mengaku, sejauh ini pihaknya telah membangun puluhan tenda pengungsian dan dapur umum. Perahu karet telah dikerahkan ke desa yang terendam banjir untuk evakuasi warga.
 
Namun, kata Nasir, tidak banyak warga yang mau menghuni tenda pengungsian. Warga memilih tetap bertahan di rumah masing-masing. Meski demikian, warga tetap datang ke tenda pengungsian untuk mengambil bantuan logistik dan sembako yang telah disediakan pemerintah daerah.
 
“Kebanyakan warga ke tenda hanya untuk mengambil makanan, mereka lebih memilih bertahan di rumah,” ujarnya.
 
Sementara itu Manajer Pengelola Waduk PLTA Koto Panjang Bayu Tuk Windriyo mengungkapkan, debit air masuk ke dalam waduk meningkat drastis. Guna menjaga ketinggian air waduk, maka pintu Spillway harus dibuka.
 
"Inflow (dari daerah hulu sudah mencapai 3.000 meter kubik per second. Sementara batas normal inflow hanya 300 sampai 500 meter kubik per second," jelas Bayu.
 
Dengan kondisi demikian, kata Bayu, maka 5 pintu Spillway dibuka serentak. Pembukaan pintu Spillway masing-masing setinggi 1,7 meter. Menurutnya, pelepasan air dengan membuka pintu Spillway kali ini termasuk cukup besar.
 
"Tidak dapat dihindari untuk menjaga keamanan bendungan PLTA Koto Panjang dan masyarakat sisi hulu waduk," ujar Bayu. Dikatakan, pintu Spillway akan ditutup kembali apabila debit air sudah normal kembali.
 
Tercatat pada Minggu pagi, kata Bayu, ketinggian elevasi waduk yakni 84,58 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ia menuturkan, pengurangan debit air waduk dilakukan menuju ketinggian elevasi 84 mdpl. Pada angkat itu pembukaan pintu Spillway dapat dihentikan.
 
"Pengurangan untuk menghindari jangan sampai 85 (mdpl). Pintu akan ditutup kembali kalau sudah 84 (mdpl) untuk menjaga masyarakat yang terkena banjir," ujar Bayu.
 
Ia menyebutkan, air waduk bersumber dari Sungai Batang Mahat dan hulu Sungai Kampar. Debit air juga masuk dari daratan di sekitar waduk.
 
Bayu mengungkapkan, daerah tangkapan air (cathman area) pada kawasan hutan sekitar waduk sudah rusak. Akibatnya, air masuk ke waduk secara sporadis tanpa bertahan terlebih dahulu. Hal itu mengakibatkan debit air waduk cenderung fluktuatif dan sulit dikendalikan.
 
Dari pantauan inforiau, Ahad (17/1) sore, air sungai kampar yang berasal dari PLTA koto panjang ini terlihat terus mengalami kenaikan yang drastis sehingga masyarakat di berbagai desa seperti terlihat di Desa Palung Raya menuju Kemang Indah Kecamatan Tambang sudah resah dan mulai prihatin dengan keadaan saat ini.
 
Dampak yang ditimbulkan dari bencana ini juga sudah sangat dirasakan masyarakat luas, seperti keramba ikan di kecamatan kampar yang di ketahui masyarakat berpenghasilan dari usahanya tersebut sudah hanyut di bawa arus sungai kampar.
 
"Puluhan keramba saya hanyut dan itu yang menjadi sumber penghasilan saya selama ini," kata seorang bapak tua yang menggendong anaknya di tepi sungai kampar.
 
Selain keramba ikan di Kecamatan Tambang banyak tanaman masyarakat seperti jagung padi tanaman bibit semuanya terendam banjir.
 
Atas bencana alam ini masyarakat sangat berharap kepada pemerintah daerah kampar melalui dinas terkait untuk dapat langsung meninjau lokasi banjir agar mereka juga tahu apa yang sedang di alami dan rasakan warga.
 
Warga juga mengeluhkan tempat mereka menginap sementara, karena ketinggian air sudah tidak memungkinkankan mereka untuk tinggal di rumah
 
"Di mano kami kan tingge (Di mana kami akan tinggal-red)," ujar beberapa warga.
 
Sementara itu salah seorang kades di Desa Rumbio Kecamatan Kampar Andi sudah memberitahu ke masyarakat agar waspada terhadap banjir ini, bahkan ia menginstruksikan kepada masyarakat agar tidak terlalu lelap tidur di malam hari.
 
Sementara itu Kepala BPBD Provinsi Riau Edward Sanger mengatakan ketinggian air di perumahan warga rata-rata mencapai 50 hingga 80 centimeter. BPBD mengirimkan bantuan kepada warga yang terpaksa mengungsi.
 
"Tenda dua unit dibantu di Desa Tanjung Rambutan dan Desa Rumbio, Kecamatan Kampar," ujarnya.
 
Ia mengatakan banjir luapan Sungai Kampar melanda lima kecamatan. Lokasi banjir antara lain di Kelurahan Langgini, Kecamatan Bangkinang Kota, menggenangi 30 rumah, dan Desa Pulau Lawan di Kecamatan Bangkinang ada 50 rumah. 
 
Kemudian di Kecamatan Kampar banjir terjadi di Desa Simpang Kubu menggenangi 200 rumah, Desa Batu Belah ada 273 rumah, Desa Tanjung Rambutan ada 128 rumah, Desa Penyasawan 220 rumah, dan Desa Pulau Sarak sebanyak 50 rumah.
 
Sementara itu, Kecamatan Kampar Utara banjir terjadi di Desa Kampung Panjang ada 305 rumah, Desa Sendayan 137 rumah, Desa Sawah ada 360 rumah, dan Desa Sei Jalau ada 86 rumah.
 
Selain itu, banjir juga menggenangi Kecamatan Rumbio Jaya di Desa Alam Panjang ada 160 rumah, Desa Pulau.Payung 200 rumah, Desa Teratak 50 rumah, serta Desa Sei Petai ada 50 rumah.
 
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Sugarin, mengatakan curah hujan masih cukup tinggi dengan intensitas ringan hingga sedang.
 
"Potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai dengan petir dan angin kencang terjadi di sebagian besar wilayah Riau pada pagi, siang atau sore dan malam hari," kata Sugarin.
 
Menurut dia, potensi hujan akan tinggi hingga akhir bulan Januari, sedangkan pada Februari di Riau diprediksi akan mengalami kondisi kering.
 
"Hujan akan banyak sampai akhir Januari, setelah itu akan kering terutama di daerah pesisir Riau," katanya. Hen/Tem/Rtc/Tpc/Ir3

KOMENTAR