Berat Tangan Ringan Kaki

Jumat, 23 Desember 2016 09:25:33 627
Berat Tangan Ringan Kaki
Saidul Tombang

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) kini tidak menarik. Paling tidak, itulah kesimpulan awal pembicaraan kemarin. Bila dibanding dengan pesta demokrasi dulu, maka Pilkada tahun ini memang membosankan. Tak ada konser artis. Tak ada kerumunan puluhan ribu orang. Tak ada uang pelicin buat penggembira. Tak ada kaos calon. Tak ada iklan di media.


Pilkada kali ini jauh dari hambur-hambur uang. Kalau dulu, pasangan calon harus menyiapkan uang tiga koper. Koper pertama untuk membeli perahu alias partai pengusung. Koper kedua untuk biaya kampanye. Dan koper ketiga untuk siraman subuh alias serangan fajar. Namun kali ini, koper kedua jarang dibuka. Entah nanti untuk koper ketiga. Tapi kesimpulan sementara, inilah Pilkada terhemat sejak reformasi digulirkan.


Beberapa tim sukses pun mengaku frustasi dan hopeless. Bagi mereka, Pilkada kali ini menghadirkan awan ragu. Seperti ada dan tiada. Antara yakin dan tidak. Apalagi, mereka menilai hampir semua calon menjahit kantong koper rapat-rapat.

Mereka merasa calon yang diusungnya paling pelit atau perhitungan, padahal dia tidak tahu bahwa prinsip berhati-hati mengeluarkan uang alias berhemat alias mengetatkan ikat pinggang dilakukan semua calon yang ada.


Begitu cerita ini disampaikan kepada panitia pengawas pemilu dan komisi pemilihan umum, mereka terkekeh. Tersenyum menang. Menurut mereka, pemerintah telah berhasil menciptakan Pilkada yang ramah dan murah. Sehingga biaya tinggi Pilkada yang selama ini harus dibayar mahal dengan korupsi bisa teratasi.


Tapi, tahukah kita bahwa Pilkada murah yang dilakoni pasangan calon, harus mereka bayar mahal dengan cara lain. Karena berat tangan berbagi uang, mereka harus ringan kaki untuk berjuang. Mereka harus rajin turun lapangan. Pergi pagi pulang pagi. Harus hadir in person di setiap kegiatan. Berkunjung dari satu sudut kampung ke sudut kampung lain. Dari satu kedai kopi ke kedai kopi lain. Dari satu garasi ke garasi lain. Terkadang, dalam sehari semalam harus hadir di tujuh sampai delapan lokasi. Mereka bergerilya tanpa mengenal lelah.


Seperti kuda pelajang bukit, pasangan calon seperti tidak kehabisan tenaga. Seperti tidak pernah sakit. Seperti tidak pernah mengantuk. Suplemen apakah yang mereka konsumsi? Semangat apakah yang membuat mereka kehilangan rasa lelah?


Apapun sistem dan konsekuensinya, tetap saja banyak sisi positif yang bisa diambil. Paling tidak, dengan seringnya mereka bergerilya, maka semakin sering pula mereka bertemu dengan rakyat. Semakin sering berjumpa dengan rakyat, nanti kalau terpilih diharapkan mereka lebih merakyat.


Memang, ada beberapa pasangan calon yang gagu. Mereka seperti tidak percaya sedang menjadi calon pemimpin. Buktinya, begitu ditetapkan sebagai calon oleh KPU, sejak itu pula nama mereka hilang dari peredaran. Sudah dua bulan masa kampanye, tapi nama mereka semakin hari semakin tidak terdengar.


Ada pula pasangan calon spesialis dunia maya. Di media sosial nama mereka berkibar. Di dunia nyata, sehelai bendera pun tak berkibar. Apakah mereka sebenarnya ingin menjadi pemimpin di dunia maya? Entahlah.


Apapun sistem dan konsekuensi Pilkada kini, kita berharap yang terpilih adalah orang terbaik buat rakyatnya.***

KOMENTAR