Guru Dilaporkan ke Polisi karena Tampar Siswa, Begini Penjelasan Kepala SMPN 4 Pekanbaru

Kamis, 21 November 2019 10:02:42 427
Guru Dilaporkan ke Polisi karena Tampar Siswa, Begini Penjelasan Kepala SMPN 4 Pekanbaru
SMP Negeri 4 Pekanbaru di Jalan Dr Sutomo.

Inforiau.co - PEKANBARU - Guru SMP Negeri 4 Pekanbaru, Riau, berinisial De, dilaporkan orangtua siswa ke Polsek Limapuluh karena diduga melakukan penamparan terhadap anaknya.


Kepala SMPN 4 Pekanbaru Rukiah, ketika dikonfirmasi, Rabu (20/11/2019), menjelaskan, sebelum orangtua siswa melapor ke polisi, pihak sekolah telah dua kali memediasi pertemuan orangtua siswa dengan guru yang dituduh melakukan penamparan.
''Dalam pertemuan itu, guru yang bersangkutan dan orangtua siswa sudah sepakat masalahnya dianggap selesai. Mereka bersalam-salaman. Guru sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya,'' kata Rukiah, di SMPN 4 di Jalan Dr Sutomo Pekanbaru.
Rukiyah yakin, guru tidak mungkin menampar siswa jika tak ada penyebabnya. ''Gak mungkinlah, guru yang sudah mengajar sejak tahun 2011 itu main tampar, kalau tak ada penyebabnya. Pasti ada penyebabnya, hingga hal itu terjadi,'' ujarnya.


Karena kasus ini sudah masuk ke ranah hukum, lanjutnya, pihaknya akan mengikuti proses penyelesaiannya.
Laporkan Guru
Sebelumnya diberitakan, seorang siswa SMPN 4 Pekanbaru, diduga ditampar gurunya. Penamparan itu dilaporkan orangtua siswa ke Polsek Limapuluh, pada Ahad (17/11).
Berdasarkan penuturan orangtua korban, Lauren (38) kepada GoRiau.com, peristiwa penamparan itu terjadi Rabu (13/11) siang.
''Sekitar pukul 13.05, sebelum berakhir jam istirahat, anak saya jajan sama teman-temannya, yang kebetulan kelas mereka dekat dengan kantin. Pada saat posisi duduk, kemudian gurunya datang dan anak saya berdiri, kemudian langsung ditampar sambil bilang 'kenapa kamu' sekolah'," jelas Lauren, saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Selasa (19/11).


Lauren mengatakan, anaknya merasa bingung dengan pertanyaan guru, ''mengapa kamu sekolah?'' padahal tidak mendapatkan skors. ''Anak saya pun langsung menghubungi saya dengan meminjam HP milik temannya,'' ujarnya.
''Dia bilang, 'ma, aku ditampar'. Tentu saya marah, pasti kamu nakal ya, kan biasa respons orangtua gitu. 'Gak ma,' katanya. 'Tiba-tiba ditampar,' katanya gitu. Nah setelah kejadian itu, dia masuk kelas lagi dan ternyata tasnya diambil oleh guru yang menamparnya. Lalu dia telepon saya lagi dan bilang 'mama tas aku diambil, mama datanglah,' katanya gitu. Ya udah, datanglah saya,'' tambahnya.

Lauren segera datang ke sekolah dan memastikan apakah benar anaknya ditampar oleh guru. Karena tidak menemukan guru yang menampar maupun bagian kesiswaan, akhirnya dirinya mencari informasi ke penjaga kantin, yang bernama Mus.
''Kata Pak Mus, penjaga kantin, dia tidak mengetahui apa kesalahan anak saya, yang dia tahu, tiba-tiba guru itu nampar anak saya. Tapi nggak tau ya, mungkin sebelum masuk kantin anak saya punya salah,'' jelasnya.
Setelah itu, lanjut Lauren, wali kelas anaknya menghampirinya untuk menyelesaikan perkara penamparan anaknya itu.


''Saya diajak ke ruang kesiswaan. Kepada guru yang menampar anak saya itu saya tanyakan, kenapa anak saya ditampar?'' ucapnya.
''Begini Buk, sepuluh hari yang lalu saya memesankan kepada anak Ibu agar orangtuanya datang ke sekolah. Saya menduga pesan itu tak disampaikannya. Makanya ketika melihatnya, saya jadi marah dan saya tampar,'' papar Lauren, mengulang pernyataan sang guru.
Lauren menilai tindakan guru yang langsung menampar anaknya sangat tidak pantas. Sebab, hanya karena menduga tidak menyampaikan pesan guru kepada orangtuanya agar datang ke sekolah. Orangtuanya dipanggil ke sekolah karena korban kedapatan membawa botol liquid Vape.

''Padahal saya telah memenuhi panggilan sekolah. Namun waktu sampai di sekolah, saya tidak bertemu dengan wali kelas dan guru bagian kesiswaan itu, yang akhirnya bertemu dengan guru lain. Guru yang bertemu saya itu ternyata tidak mengonfirmasi kepada bagian kesiswaan,'' urainya.
"Wajar nggak sih, dia (guru) menampar anak saya, berarti menampar saya karena saya dianggapnya nggak datang. Padahal saya sudah datang,'' katanya.


Usai kejadian tersebut memang sudah ada pertemuan di sekolah sesuai arahan dari Dinas Pendidikan.
''Saya sudah ke Dinas Pendidikan melaporkan. Pak Kadis menyarankan, ada baiknya diselesaikan di sekolah. Saya datang ke sekolah sama Buk Kabid Bhabinkantibmas. Saat itu bertemu kepala sekolah dan guru bersangkutan. Guru itu menyampaikan permohonan maaf ke Dinas, bukan ditujukan kepada saya,'' tambahnya.
''Karena tidak ada itikat baik dari guru yang bersangkutan, akhirnya saya putuskan pada Minggu kemarin ke Polsek Limapuluh untuk melaporkan kasus ini,'' tutupnya.

KOMENTAR