Jaringan Terorisme, Dokter Kejiwaan Sebut Alami Masalah Psikologi Rentan Terdoktrin

Senin, 18 November 2019 12:09:50
Jaringan Terorisme, Dokter Kejiwaan Sebut Alami Masalah Psikologi Rentan Terdoktrin
Polisi berjaga di depan gedung Mapolrestabes Medan pascaaksi bom bunuh diri yang dilakukan seorang pemuda

Inforiau.co - Pascabom bunuh diri yang terjadi di Mapolrestabes Medan Jalan HM Said nomor 1, pada Rabu (13/11/2019) lalu, sebanyak enam orang menjadi korban.
Aksi bom bunuh diri menjadi perhatian khusus bagi pihak kepolisian.

Terkait ajaran yang diduga merupakan sesat tersebut, Dokter spesialis kejiwaan sekaligus Ketua Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat seseorang sampai nekat atau dengan mudahnya terdoktrin untuk melakukan aksi bom bunuh diri.
"Salah satunya adalah karena masalah psikologi.

Terutama bagi mereka yang sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi di dunia, yang selalu merasa kesunyian di tengah keramaian, merasa sendiri dan tidak memiliki siapa-siapa, serta mengalami depresi atau gangguan jiwa lainnya akan lebih rentan untuk disugesti," ujarnya, Senin (28/11/2019).
Masih dikatakan Elmeida, selain faktor keterbatasan intelegensia juga akan sangat berpengaruh bagi doktrin atau sugesti tersebut dilakukan.
"Nah orang yang seperti ini akan menganut paham aneh. Di mana mereka menganggap aksi bom bunuh diri termasuk perbuatan jihad, dan jika terluka atau mati akan dijanjikan surga."

"Dengan doktrin seperti itu mereka akan melakukan apa pun yang disuruh orang lain, meskipun hal itu berbahaya dan kurang masuk akal," ungkapnya.
Pascaperistiwa yang terjadi di Mapolrestabes Medan, petugas Densus 88 dan Polda jajaran terus melakukan penyelidikan terkait jaringan yang diduga terorisme ini.
Saat ditanya bagaimana cara mengantisipasi agar tidak terjerumus dalam jaringan ini, Elmeida mengimbau bagi siapa saja yang memiliki anggota keluarga dengan masalah-masalah tersebut agar senanatisa menjaganya.

"Melalui jalin komunikasi yang lebih terbuka. Agar dapat mencegah hal yang tidak diinginkan itu sampai terjadi.
Namun jika hal ini justru terjadi dengan diri sendiri, agar jangan pernah mudah mempercayai ajakan orang lain untuk berbuat sesuatu yang ada di luar koridor hukum dan kebenaran," jelasnya.

Disamping itu, sambungnya berbicaralah terlebih dahulu dengan orang atau keluarga terdekat sebelum memutuskan sesuatu.
"Carilah teman-teman yang baik dan mau membantu memilah apa yang kita anggap pantas maupun tidak. Teman-teman yang selalu bersedia diganggu untuk ditanyakan pendapat, berdiskusi dan membahas bebagai hal," katanya.
Adapun cara lain yang dapat menghindari yakni, hindarilah kebiasaan untuk melamun dan terlihat kosong yakni dengan cara selalu menjaga konsentrasi.

"Misalnya dengan berdoa dan berzikir bila memiliki masalah atau dalam menentukan suatu keputusan terbaik.
Sehingga pikiran agar tidak kosong walaupun di saat sedang sendirian," pungkasnya.

KOMENTAR