Pentas Ratna, Pesan Sarumpaet, Surat Buat Kekasihku:  Aronaya Yawasa Nayata

Jumat, 05 Oktober 2018 10:54:23
Pentas Ratna, Pesan Sarumpaet, Surat Buat Kekasihku:  Aronaya Yawasa Nayata
Ilustrasi

Oleh: Syaukani Al Karim

Kekasihku, Aronaya

Saat ini, izinkanlah aku “bersama” Ratna Sarumpaet, bersama keberaniannya untuk berkata jujur, bahwa dia telah berbohong. Kau mungkin tak setuju, karena kau berpendapat, bahwa kebohongannya teramat melukai. Aku mafhum kalau engkau marah, atau kecewa. Aku juga tidak setuju dengan apa yang dia lakukan, namun demikian, aku ingin engkau juga maklum, bahwa sekali ini, aku menemukan nilai, menangkup segenggam intan, dalam kebohongan dan sekaligus kejujurannya.

Aku juga tidak ingin menghubungkannya dengan beragam motif, entah politik, entah ekonomi, atau entah dari segala entah, seperti analisis yang beredar di ragam media. Biarlah semua itu menjadi wilayah lain, yang entah terus samar, atau benderang sama sekali. Halaman sejarah, kelak akan menulisnya dengan tinta, yang dia bancuh sendiri.

Aronaya

Hari ini, hujatan atas kebohongan Ratna, seperti hujan tumpah. Mengisi sungai-sungai kebencian yang memanjang di dalam hati banyak orang, dan memenuhi laut-laut ketidaksukaan yang terus berombak. Dia, telah menjadi semacam samudera maha dusta, yang setiap orang berusaha menghindar, meski jilatan riaknya sekedar ingin menyentuh kaki.

Masih ingatkah engkau dengan ceritaku tentang sungai Gangga dan Yamuna? Di sungai itu, orang menyelam dan bermandi-manda, seraya membuang segala kesalahan. Hari ini, aku melihat, Ratna Sarumpaet, dan air bah kebohongannya, dijadikan semacam sungai pembasuhan yang lain, tempat orang meluruhkan kesalahan dan numpang membenamkan kedustaannya sendiri. Lalu kemudian mereka berdiri pada garis yang lain, seakan-akan ketika berseberangan dengan Ratna, mereka adalah orang yang terkesan suci.

Aronaya Kekasihku

Aku hanya ingin bertanya: Siapakah di antara kita yang tidak pernah berbohong? Kau? Aku? Atau mungkin mereka? Percayalah padaku, bahwa sebagian besar kita adalah pendusta, dalam bentuk, skala, bobot, dan perannya masing-masing. Setiap waktu, Kita menyaksikan aktor-aktor kebohongan itu lalu-lalang di depan kita, di atas pentas waktu, bahkan panggung keindonesiaan dari zaman ke zaman, dengan skenario dan sutradara yang lebih hebat, dan bahkan dengan kebohongan yang dampaknya lebih besar dari kebohongan Ratna, nan dihujat sampai menembus langit.

Kau tentu juga masih ingat, ketika kita berbincang pada petang berlembayung merah, lima tahun yang lalu. Waktu itu kau bertanya: Mengapa sejak orde lama sampai orde reformasi, Riau selalu dibohongi, sehingga pertumbuhan Riau terkesan lambat,dalam usia yang tak muda lagi. Waktu itu aku berbisik di telingamu yang tipis: “Jadikanlah kebohongan itu sebagai kejujuran dan kebenaran, agar kita dapat memahami dan membujuk hati yang telah lama luka”.

Kita selalu dibohongi, tapi berapa orangkah dari mereka yang berani seperti Ratna: Mengakui dan meminta maaf? Belum ada Aronaya, dan mungkin sulit untuk ada, wahai kekasih. Kelemahan Ratna hanya satu, dia berbohong di saat belum mampu menjadi seorang pembohong yang militan. Pembohong yang militan akan tetap berbohong, dan tidak akan pernah mengumumkannya, meski seisi dunia tahu bahwa Ia berbohong. Ratna Sarumpaet, adalah pembohong yang rapuh, dan secara dasariah menyadari, bahwa dia tidak sangat kuat untuk terus menyimpannya. Dia memutuskan untuk segera mengumumkannya, sejurus setelah diketahui, meski dia sadar, bahwa dengan itu, dia akan memasuki sebuah fase kehidupan sosial yang murung dan kelam.

Duhai Aronaya

Sungguh, sampai saat ini, aku masih saja curiga, jangan-jangan kebohongan Ratna Sarumpaet adalah kebohongan teatrikal, yang sengaja dipentaskannya untuk menembus benteng kebohongan kita yang angkuh dan berdinding tebal. Di atas panggung, Ratna, yang jago monolog itu, sedang mementaskan sebuah kisah kebohongan dengan ending kejujuran. Dia, menjadikan pertunjukan itu sebagai wilayah hikmah, untuk kita mengambil pelajaran tentang salah satu cara menjadi manusia yang bertanggungjawab. Dia, ketika pentas selesai, dan lampu dipadamkan, menyisakan sebuah epilog yang akan terus menggema dan meminta jawaban: Aku telah menyatakan kebohonganku, lalu kapan bagi kalian?

Aku, engkau, dan mungkin mereka, juga pernah berbohong, belum menyempurnakan janji yang ditabal di ruang-ruang publik, belum mengabulkan ijab yang diucap, belum mengkota dan memahkota apa yang sudah dikata, dan selalu tercerabut dari segala yang disebut. Kau dan aku tidak sehebat Ratna, sebab kita masih menyimpan rapat kebohongan dalam ruang besi ketakutan kita sendiri.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, jika semua pembohong, juga mengaku dan meminta maaf di depan publik atas kebohongan mereka selama ini. Akankah kau menghujatnya, Aronaya? Apakah kita akan memperlakukannya seperti Ratna? Menjadikan kebohongan mereka yang menyungai dan menelaga itu, sebagai tempat untuk membasuh kebohongan yang kita lakukan? Lalu, kita kemudian dengan segera bermetamorfosis sebagai sosok yang bersih dari kedustaan? Akan seperti itukah?

Duhai Aronaya

Aku mencintaimu, dan karenanya aku mengajakmu, untuk tidak menggunakan cara yang kurang adil dalam menyikapi kebohongan. Membuka satu tirai kebohongan, tapi tangan yang lain, menutupi kebohongan yang berbeda dengan tabir yang teramat tebal. Andai kau pernah berbohong padaku, katakanlah, meski aku akan luka, dan aku pun hari ini, sedang menghimpun keberanian, untuk jujur dengan kebohonganku padamu.

Kita berdua sedang belajar dari Ratna Sarumpaet, karena kedustaan kita, mungkin tidak lebih rendah kadarnya dari dia. Keberaniannya untuk mengakui kebohongannya, bisa saja membuat dia lebih mulia dari kita: sebab kita masih saja menyembunyikan kebohongan demi kebohongan, di lubuk kepengecutan kita yang semakin dalam.-

Riau, 04 Oktober 2018

KOMENTAR