Antara Aleppo dan Jokowi?

Rabu, 21 Desember 2016 11:10:00 879
Antara Aleppo dan Jokowi?
Empat tahun, Aleppo jadi medan tempur. Kota tua dan pernah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh Unesco sejak tahun 1986 itu hancur. Hampir rata dengan tanah. Nyaris tak ada bangunan yang tak terkena peluru. Dilanda rudal. Dilindas tank. Dan tentu saja dibasuh air mata dan genangan darah.
 
Elegi Aleppo menyentak mata dunia. Mengetuk pintu hati terdalam di relung dada manusia. Ketika hiruk-pikuk hedonisme menyeruak, ketika itu pula warga Aleppo berjibaku mempertahankan nyawa. Di antara desing peluru, bangunan yang runtuh, dan tentara yang bengis.
 
Sejatinya, versi pemerintah Suriah yang dipimpin Bashar Al Assad, ini adalah perang saudara. Tapi bagi pejuang dari kelompok milisi, ini adalah tembakan senjata untuk melawan pemerintah yang tiran. Tapi, bagi dunia, ini nyaris sebagai perang bersama. Karena di sini yang berperang bukan hanya Sunni dan Syiah, atau Assad dan rakyatnya, tapi sudah dicampuri banyak pihak. Mulai Iran sampai Rusia, dari Turki hingga Amerika.
 
Konflik di tanah bersejarah ini, sebenarnya dimulai dengan aksi damai, empat tahun lalu. Rakyat meminta pemerintah tidak berlaku tiran dalam membuat kebijakan. Namun Bashar Al Assad tak mau peduli soal demokrasi. Rakyat pun dikebiri. Kemudian, angin pun bertiup tanpa arah. Mengundang konflik yang lebih parah. Pejuang, yang rata-rata Sunni pun meneriakkan revolusi. Pemerintah, yang dikuasai Syiah pun, bersiap menindasnya.
 
Assad sejatinya tidak terlalu kuat. Sadar akan itu, dia pun meminta bantuan kepada Iran yang merupakan negara Syiah. Lalu meminta bantuan juga ke Rusia. Dengan kekuatan itu pula, Assad membunuhi rakyatnya sendiri. Tidak kurang 300 ribu orang tewas dalam empat tahun. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan jadi refugee. Kota yang dulu jaya di masa daulah Islam itu, kini menjadi kota horor.
 
Assad, Rusia, Iran, dan Syiah. Itulah kekuatan yang membuat mata Amerika terpejam. PBB pun seperti patah lidah. Arab pun tak sanggup berbuat serius. Turki yang agak mendingan. Empat kekuatan besar itu pula yang kini menjadi poros di satu sisi. Sementara dunia yang tidak berkutik di poros lain. Kondisi ini diperparah ketika Duta Besar Rusia untuk Turki, akhir pekan lalu dibunuh di Turki. Lengkap sudah konflik ini dan menjadi serabut yang tak mudah diurai.
 
Di tengah hati dunia, terutama umat Islam, runsing, ketika itu pula Presiden Indonesia Joko Widodo bertandang ke Iran. Tentu saja melawat ke negara para Mullah di saat seperti ini menghadirkan tanya. Ada apa? Mengapa Jokowi, panggilan sang Presiden, mengambil timing yang genting seperti ini? Lebih jauh, mengapa Jokowi seperti lebih memilih Iran dibanding rakyat Suriah. Lebih memilih negara Syiah dibanding warga Sunni yang digenosida.
 
Bila diruntut, kisah Suriah seperti adik kakak dengan Indonesia. Ketika masyarakat mulai tidak percaya dengan pemerintah, melakukan aksi damai, dan seperti tidak dihargai, ketika itu pula pemerintah mencari perhatian kepada pihak 'musuh hati' rakyat Indonesia. Kepada China, Rusia, dan Iran. Jokowi bahkan menunjukkan sikapnya dalam masalah Suriah dengan memilih abstain pada sidang PBB soal Aleppo. Berbaik-baik dengan negara Syiah.
 
Nah, pertanyaan pamungkas, apakah nasib Aleppo akan menular kepada Jakarta? Apakah aksi damai akan berakhir ramai? 
Kita tidak tahu skenario apa yang dimainkan Jokowi untuk Indonesia. Tentu saja harapan kita tidak mengarah, atau jangan sekali-kali mengarah ke 'musuh hati' mayoritas masyarakat Indonesia.***

KOMENTAR