Hamid, Pemuda Riau yang Ikuti Jejak UAS jadi Temus

Selasa, 07 Agustus 2018 16:49:30
Hamid, Pemuda Riau yang Ikuti Jejak UAS jadi Temus
Hamid (dua dari kanan) bersama teman sesama temus dan KH Ikhsanuddin (paling kiri) dan Dr Abdul Mustaqim (paling kanan)

Inforiau.co - Namanya Hamid Hodir. Pemuda kelahiran Riau, 16 November 1996 itu, kini kuliah tingkat akhir di Universitas Da’wah Beirut Lebanon. Tahun ini, Hamid menjadi tenaga musiman (temus) yang direkrut Kementerian Agama (Kemenag) untuk ikut melayani jamaah haji Indonesia.

Hamid adalah alumnus MA Ali Maksum Krapyak Yogyakarta yang diasuh KH Hilmy Muhammad. Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Lebanon 2016/2017 itu, saat ini didapuk sebagai anggota seksi transportasi Sektor XI Daerah Kerja (Daker) Makkah. Tugasnya mengatur operasi bus shalat lima waktu (salawat) sekaligus—karena ia terbiasa dengan percakapan bahasa Arab saban hari—menjadi penghubung komunikasi antara sopir dengan jamaah kita.

Awal mula bergabung menjadi temus, dirinya bersama kawan-kawannya mendaftar melalui KBRI Beirut. “Syaratnya minimal harus S1 tingkat akhir,” ujar Hamid, Ahad (05/08) siang di kawasan Mahbas Jin, Makkah. Saat ditemui, ia didampingi seorang rekan sesama temus dan KH Ikhsanuddin pengasuh Pondok Pesantren Binaul Ummah Wonolelo Bantul dan Dr Abdul Mustaqim, dosen Tafsir Quran UIN Sunan Kalijaga sekaligus pengasuh Lingkar Studi Alquran.

Hamid bercerita, tahap pertama yang mesti dilaluinya untuk lolos menjadi temus adalah seleksi berkas. “Alhamdulillah akhirnya saya bisa lolos,” ujar sulung tiga bersaudara itu.

Hamid berkisah, dalam dua pekan melayani jamaah, dirinya mendapat pelajaran yang begitu berharga. “Harus lebih sabar dan teliti,” ungkap anak pasangan Sulasno-Syifa Unisa ini.

Pernah, katanya, ia disuruh mencari barang-barang berharga milik jamaah Indonesia yang tertinggal di bus. “Kami menelepon perusahaan bus, menanyakan satu per satu dan alhamdulillah menemukan barang yang dicari,” ujar Hamid. Ia pun lantas mengantarkan barang tadi ke hotel (pondokan) jamaah.

“Ada lagi pengalaman saat menemukan jamaah usia lanjut yang lupa alamat dan nomor hotel, ditambah tidak bisa bahasa Indonesia,” kenangnya. Lalu apa yang dilakukan? “Untung gelang identitas masih dipakai sehingga kita bisa melacak asal kloter dan alamat hotel,” sambung pemuda yang memiliki cita-cita mendirikan pesantren ini.

Hamid menyadari bahwa itu semua bukan beban melainkan tugas dan amanah yang harus ditunaikan. Dan bukan tak mungkin, kelak Hamid bisa menjadi sosok yang lebih bermanfaat bagi orang lain syukur-syukur bagi nusa bangsa.

Sebagai catatan, Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2018, Ahmad Dumyati, merupakan temus kurun 1996. Sementara Kepala Daker Makkah Endang Jumali alumnus temus 2000. Boleh jadi, Hamid yang tahun ini menjadi temus mahasiswa, pada dua dekade mendatang akan menjadi pengurus inti atau bahkan ketua panitia haji Indonesia.

Seperti diketahui, Ustadz Abdul Somad yang saat ini namanya mencuat, ketika kuliah di Al Azhar Mesir juga pernah menjadi tenaga musiman(Temus) jamaah haji. Rpo/Ir

KOMENTAR