Harga BBM Bakal Dikaji Ulang Pasca Lebaran

Senin, 05 Juni 2017 19:56:35 1610
Harga BBM Bakal Dikaji Ulang Pasca Lebaran

Jakarta, Inforiau.co - Kabarnya kurang menyedapkan datang dari Kementrian Energi Sumber Daya Manusia (ESDM) yang akan mengkaji ulang perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) selepas Lebarang mendatang. Hal itu menyusul karena Langkah ini dilakukan menyusul harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang sudah di atas asumsi pemerintah.

ICP secara rata-rata sejak Januari hingga Mei tahun ini berada di angka US$ 49,90 per barel. Sementara dalam APBN 2017 pemerintah mematok asumsi ICP US$ 45 per barel. Hal ini membuat pemerintah akan mengkaji kenaikan harga BBM selepas Lebaran nanti.

"Pertanyaannya, harga eceran BBM premium RON 88 dan solar ini akan ditinjau lagi enggak? Nanti kita lihat. Memang kita sudah sepakat sampai Juni tidak akan ada perubahan. Kita nanti akan lihat lagi apakah Juli ada perubahan harga eceran BBM atau tidak. Ini kan kita akan melewati puasa dan Lebaran, nanti kita lihatlah," kata Jonan dalam jumpa pers di Gedung Heritage Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (5/6/2017) sebagaimana dikutip dari detik finance.

Meski belum bisa memastikan, apakah harga BBM bakal naik atau tetap, melihat tren yang ada, Jonan memastikan harga BBM tak bakalan turun selepas Lebaran nanti.

"Kalau turun, mungkin enggak ya. Karena dulunya harga ini kan ICP di sekitar US$ 40-45 per barel. Kalau rata-ratanya sekarang US$ 49 per barel, apa mau naik 10 persen atau gimana saya enggak tahu, tapi belum tentu naik juga dibahas di sidang kabinet," imbuhnya.

Harga minyak sangat sulit diprediksi. Pemerintah belum tahu apakah tren kenaikan harga minyak dunia masih akan terus berlanjut atau tidak.

"Jadi ini memang kalau lihat tren, saya enggak tahu, karena kalau harga minyak dan gas itu dipengaruhi supply dan demand. Kalau pertumbuhan ekonomi negara konsumen besar seperti AS, China, Jepang tidak membaik tentunya permintaan minyak akan turun. Makanya OPEC memutuskan meneruskan pemotongan produksi, kira-kira 3 juta bph, sampai 9 bulan ke depan. Saya enggak tahu ini harganya bisa naik atau enggak naik," katanya.

Selain melihat besarnya konsumsi negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS) hingga China dan Jepang, pemerintah juga melihat situasi politik internasional, yang membuat sulitnya memprediksi harga minyak tahun ini.

"Hari ini kita lihat Bahrain, Saudi, Egypt, memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Nah ini apa dampaknya kira-kira apa, kita enggak tahu," ungkapnya.

Dengan harga minyak di bawah US$ 50 per barel yang terus berlanjut, maka investasi di sektor migas pun diprediksi juga bakal sulit tumbuh.

"Dampaknya kalau harga minyak mentah tetap di bawah US$ 50/barel, minat untuk investasi atau eksplorasi di bidang migas itu enggak naik, apapun mau pakai gross split juga, pada akhirnya nilai jual produk yang menentukan," pungkasnya.

KOMENTAR