Kembangkan Siska Menuju Pelalawan Emas 2021

Senin, 13 Juni 2016 09:22:26 1202
Kembangkan Siska Menuju Pelalawan Emas 2021
Dinas Peternakan Pelalawan gandeng BPPT RI gelar pelatihan bidang reproduksi pakan dan kesehatan. Pelatihan ini diikuti kelompok ternak sapi se Kabupaten Pelalawan.

Inforiau, Pelalawan - Bupati Pelalawan HM Harris melalui Kadis Peternakan Ir H T Mukhtaruddin MSi mengungkapkan, Pelalawan mempunyai lahan perkebunan kelapa sawit terluas. Pada tahun 2012 saja luas lahan perkebunan kelapa sawit di kabupaten Pelalawan mencapai 365.684 ha, (data BPS Kabupaten Pelalawan 2013, red).

Tentunya areal ini sangat potensial untuk mengembangkan peternakan sapi. Potensi lahan kelapa sawit dalam kegiatan pemeliharaan ternak sapi adalah penyedia sumber pakan hijauan serta untuk memanfaatkan lahan/ ruang kosong yang ada untuk produksi ternak.

"Dengan populasi sapi potong pada tahun 2013 mencapai 9.016 ekor ternak serta 34 pabrik pengolahan kelapa sawit sebenarnya dapat ditingkatkan lagi melalui optimalisasi kegiatan integrasi sapi-sawit," ujarnya.

Kedepan sambungnya, integrasi ternak sapi dengan perkebunan kelapa sawit dapat diarahkan untuk pengembangan pembibitan sapi, penggemukan, serta industri pakan ternak berbasis bahan baku yang berasal dari limbah kebun dan industri pengolahan kelapa sawit. Kebun kelapa sawit berperan dalam penyediaan hijauan pakan ternak serta sebagai lokasi penggembalaan.

"Jadi, kita dengan Badan Pusat Pengakajian Teknologi (BPPT) telah bekerjasama dalam kegiatan integrasi sapi sawit, dalam satu kesatuan meliputi komponen teknologi peternakan seperti, teknologi pakan lengkap, teknologi penggembalaan, teknologi kesehatan hewan. Termasuk juga teknologi reproduksi ternak," jelasnya.

Ia berharap apa yang dicita-citakan pemerintah kabupaten Pelalawan untuk mengapai Pelalawan Emas 2021 dapat terwujud dengan adanya target swasembada daging untuk kebutuhan dalam dan antar kabupaten. Dengan demikian ekonomi masyarakat khususnya kelompok ternak dapat  meningkat.   

Tentu usaha tersebut tidak berjalan dengan sedirinya, banyak permasalahan yang harus diurai satu-persatu. Menurut Ir H T Mukhtaruddin MSi yang didampingi Kabib Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPhP) Ami Rosita MSi mengatakan, terkait hal ini ada beberapa permalasahan dalam pengembangan dan aplikasi pakan dalam integrasi sapi sawit.

Di antaranya, peningkatan produktivitas sapi potong adalah menyediakan pakan secara berkesinambungan, baik secara kualitas maupun kuantitasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut tim peternakan dari BPPT RI bekerjasama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Pelalawan melakukan kegiatan kajian bersama tentang kegiatan integrasi sapi dengan sawit terutama dalam pemanfaatan hasil samping industri kelapa sawit sebagai pakan.
Beberapa kegiatan dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah  pemanfaatan hasil samping industri kelapa sawit sebagai pakan dimulai dengan identifikasi potensinya baik itu kualitas, kuantitasnya serta kontinyuitas dalam penyediaannya.

"Factor pembatas yang ada diatasi dengan melakukan pengolahan terlebih dulu baik itu secara fisik dengan cara menghaluskan ukurannya, proses pengeringan, fermentasi  dilanjutkan proses formulasi dan pencampuran bahan-bahan tersebut sehingga dapat digunakan sebagai pakan yang mampu memenuhi kebutuhan ternak.

"Bahan-bahan tersebut sulit diperoleh karena adanya kebijakan dari perusahaan yang mensyaratkan pengambilan dalam jumlah tertentu dan akses atau tata cara yang agak sulit jika dilakukan oleh para peternak yang membutuhkannya," paparnya.

Karena itu, melalui forum rembuk antara pihak pemerintah daerah dengan industri pengolahan kelapa sawit dicapai kesepakatan kemudahan dalam memperoleh hasil samping industri kelapa sawit. "Terutama bungkil kelapa sawit dan solid bagi peternak yang membutuhkan," tuturnya.

Pemanfaatan Pakan Limbah Sawit

Ir H T Mukhtaruddin MSi menyebutkan bahwa berdasarkan hasil kajian
diperoleh hasil penggunaan bungkil sawit dan solid sebagai pakan mampu meningkatkan pertambahan berat badan sapi bali menjadi 0,5 kg/hari. Tak hanya itu saja, pola seperti itu juga mampu menekan harga pakan menjadi lebih murah.

Disamping pemanfaatan hasil samping industri kelapa sawit sebagai pakan, potensi penyediaan pakan juga berasal dari hijauan/ vegetasi yang ada dikebun kelapa sawit. Hijauan yang ada di kebun sawit mempunyai kualitas yang cukup baik serta jumlah yang cukup banyak tergantung umur tanaman sawit.

Melalui penggembalaan terkontrol dapat meningkatkan efisiensi penggunaan hijauan, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan serta meningkatkan keuntungan usaha terutama untuk produksi bakalan/bibit ternak.

Menurutnya, kedepan perlu dilakukan kajian lebih mendalam mengenai teknologi pengolahan pakan (fisik, kimia dan biologis) berbasis hasil samping industri kelapa sawit. Sehingga mampu memenuhi kebutuhan ternak sesuai dengan tujuan pemeliharaan, harga terjangkau, kualitas yang tetap terjamin serta kontinyuitas ketersediaannya.

"Melalui kegiatan integrasi sapi sawit yang menyeluruh diharapkan Kabupaten Pelalawan mampu mandiri dalam penyediaan sumber bahan pakan dan bakalan ternak sehingga tidak lagi tergantung dari daerah lain dalam penyediaan bakalan, daging ternak serta pakan. Peningkatan produktivitas ternak lokal dengan memanfaatkan potensi yang ada lebih rasional dan sesuai untuk diaplikasikan serta kemungkinan keberhasilannya tinggi," imbuhnya.

Susu Kefir

Kabib Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPhP) Dinas Peternakan Pelalawan, Ami Rosita MSi, mengatakan bahwa disamping daging sapi, pihaknya juga mengembangkan pengelolahan susu kefir.

"Kita mulai mengembangkan sayaf, salah satunya tentang susu kefir dari sapi perah. Potensi ini juga sangat menarit dan sangat menjanjikan untuk dikembangkan," terangnya.

Banyak manfaat yang diperoleh dari susu Kefir bagi tubuh. Diantaranya, susu kefir ini dapat  merangsang produksi enzim di dalam tubuh dan membantu memperbaiki fungsi empedu dan pankreas, meringankan kerja empedu, liver dan pankreas. Memiliki sifat menekan berbagai macam radang organ penting bagian dalam tubuh (anti-inflammatory).

Di Pelalawan harga susu mencapai Rp10 ribu/liter, sementara di pulau Jawa masih diangka Rp 7-8 ribu/liter. Menurut penelitihan, hasil susu yang dihasilkan dua ekor induk sapi adalah 8-12/liter per hari.

"Jadi memang kita juga melirik kesana pengembanganya, dari segi harga sangat bersaing di pasaran kita. Disamping susu, sapi perah juga dapat memiliki keturunan (anak), kemudian sapi ini juga bisa sebagai sapi pendaging, pupuk, baik cair (urine) maupun pupuk padat," jelasnya. ADV

KOMENTAR