Kita yang Tak Pernah Mati

Rabu, 30 Agustus 2017 16:34:43 666
Kita yang Tak Pernah Mati
Oleh Saidul Tombang
 
INFORIAU.co - Kita ini tak pernah mati. Jasad yang terbujur kaku di depan rumah, di dalam keranda, yang membelintang di liang lahad, itu hanya seonggok daging yang akan mengering. Seonggok tubuh yang kembali ke asalnya; tanah. Sedangkan kita, tetap hidup. Tetap ada.
 
Malaikat maut hanya mengambil ruh untuk dikembalikan ke asalnya. Bukan membunuhnya. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun itu memang bermakna sebenarnya. Ruh itu dari Allah dan akan dikembalikan kepada Allah. Ruh itu berasal dari nur Muhammad. Nur Muhammad yang berasal dari qudrat dan iradat Allah adalah immortal thing. Sesuatu yang akan bertahan hingga sangkakala ditiupkan. Pun, ketika Tuhan kembali sendiri, ruh yang sama akan dipanggil untuk bangkit kembali.
 
Ini memang perjalanan panjang alam ruh. Dari tiada lalu diadakan lalu dimatikan namun kemudian dihidupkan lagi hingga waktu tak bertepi. 
 
Persoalannya bukan perjalanan dan immorralitasnya itu. Beban beratnya adalah pada sumpah setia dan persaksian kita yang akan dipertanggungjawabkan. Ketika makhluk pertana diciptakan, Nur Muhammad yang agung itu, Sang Pemilik langsung mengajukan pertanyaan epik; saya siapa dan engkau siapa. Ketika itu Muhammad bersaksi bahwa Engkau adalah Allah tiada Tuhan selain Engkau. Maka Tuhan pun bersaksi bahwa engkau adalah Muhammad rasulku. Inilah kalimat sakti yang kemudian menjadi buhul suci antara makhluk dengan khaliknya.
 
Sejak persaksian itu pula makhluk yang lain diciptakan. Arasy, kursi, kalam, luh mahfudz, surga, neraka, malaikat, jin, galaksi, dan alam-alam lainnya. Manusia hanya sepersekian mikro kecil partikel dari ciptaan Allah. Saya saat ini, Anda semua, dan semua makhluk yang ada sudah tercipta pada kurun itu. Semuanya adalah bias nur yang sama. Hanya tempias jauh. Dan kita akan bertahan sampai ditiupnya sangkakala.
 
Jadi, jangan remehkan ruh yang ada di diri kita. Dia mempunyai sejarah yang panjang. Dia mempunyai perjanjian yang suci dengan sang pemiliknya. Nur itu pula yang ditiupkan kepada janin di perut bunda kita dilengkapi dengan pertanyaan; Alastu birabbikum qooluu balaa syahidna. Bukankah Aku Tuhanmu, kita menjawab benar Engkau adalah Tuhan kami.
 
Kalau kita menyadari perjalanan panjang ruh dan dari mana asal ruh, maka kekuatan apa lagi yang mampu membuat kita berpaling dari Allah. Tak malukah kita saat menduakannya? Tak malukah kita saat mengingkarinya? Tak malukah ruh yang suci, nur yang agung, dan sesuatu yang tak tersebut itu kita gunakan untuk yang sia-sia... kita tukar dengan dunia yang tidak seberapa?
 
Kita bukanlah kulit pembungkus tulang. Bukan rambut berurai panjang, bukan wajah dengan roman berbilang. Yang berjalan tegak, yang duduk bersimpuh, yang sujud dalam, yang tersenyum simpul, itu hanyalah kita yang zhahir yang suatu saat akan kurus kering, yang dibungkus kafan dan dimakan cacing-cacing tanah. Kita yang sesungguhnya adalah ruh yabg berisi nur yang suatu saat akan ditagih Tuhan tentang perjanjian suci kita dulu dengannya. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. *

KOMENTAR