Penumpang dari Singapura Diawasi

Minggu, 04 September 2016 20:13:20 711
Penumpang dari Singapura Diawasi
Pekanbaru, inforiau.co - Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Provinsi Riau, memperketat pengawasan masuknya penumpang, barang dan alat angkut dari Singapura ke Riau. KKP menyiapkan alat pendeteksi suhu tubuh di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim (II), Pekanbaru.
 
Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus zika yang saat ini telah mewabah di Singapura. "Kedatangan penumpang dari Singapura di Bandara Sultan Syarif Kasim II diawasi ketat. Begitu juga yang datang menggunakan jasa pelabuhan," kata Kepala KKP Pekanbaru dr Budi Hidayat kepada wartawan di Pekanbaru, Kamis (1/9).
 
Ia mengatakan, pengawasan dilakukan terhadap orang, barang dan alat angkut antara lain terhadap pesawat dari Singapura-Pekanbaru seperti pesawat Silk Air dan Jet Star. Untuk Silk Air dilakukan pada Rabu-Jumat pukul 13.05 (tiba), dan Jet Star Selasa Kamis- Ahad pukul 17.35. 
 
Hal ini juga dilakukan terhadap kapal laut dari Singapura serta kapal cargo. Adapun pelabuhan yang diawasi adalah Pelabuhan Buatan, Pelabuhan Perawang dan Pelabuhan Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Ketiganya merupakan pintu masuk utama dari Singapura ke Riau.
 
"Petugas disiagakan di terminal kedatangan luar negeri untuk mengantasi penyebaran wabah virus zika. Pengawasan dilakukan terhadap orang, barang dan alat angkut,"  kata Budi.
 
Budy mengatakan pihaknya terus memberi laporan dan berkoordinasi bersama Dinas Kesehatan Riau. Jika ditemukan ada penumpang yang sakit, kata dia, tindakan pertama yang harus dilakukan adalah pemeriksaan medis dan merujuk ke rumah sakit. 
 
Sementara itu, Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Riau Rozita menegaskan, sejauh ini belum ditemukan kasus zika di Riau. 
Meski demikian Dinas Kesehatan langsung merespons travel advisor yang disampaikan Menteri Kesehatan dengan langkah antisipasi mencegah kemungkinan masuknya virus zika. "Belum kami temukan pasien zika. Namun langkah antisipasi ini sudah kami mulai sejak Selasa lalu," tuturnya. 
 
Ia menjelaskan, kewaspadaan untuk mencegah masuknya virus zika dilakukan dengan prinsip Detect, Respond dan Report diantaranya dilakukan dengan mengaktifkan TGC, health alert card, menyiapkan thermal scan, brosur, pemeriksaan alat angkut dan barang thp aedes (HI, CI & Breteu Indek). Laporan kegiatan dilakukan per hari terkait jumlah penumpang, HAC, sanitasi kapal, tindakan medis dan rujukan. "Koordinasi dan komunikasi dilakukan Dinkes dengan Rumah Sakit, Angkasa Pura, Maskapai Penerbangan, imigrasi, dan Bea Cukai," ungkapnya.
 
Dia mencontohkan pengisian health card dilakukan bagi setiap penumpang di bandara yang datang dari Singapura. Jika ada yang sakit akan dilakukan pemeriksaan medis, tindakan protektif (rapelen) dan pencegahan, merujuk ke RS, melakukan tindakan penyehatan alat angkut, dan komunikasi risiko.
 
Rozita mengimbau masyarakat mengetahui sejak dini pencegahan virus zika. Menurut dia, pencegahan virus zika hampir sama dengan demam berdarah. "Tetap budayakan 4M plus," katanya.
 
Adapun 4M plus adalah menguras baik air, menutup bak mandi, mengubur barang bekas, memantau plus jangan menggantung pakaian bekas pakai, memelihara ikan, menghindari gigitan nyamuk, dan membubuhkan bubuk abate di tempat-tempat penampungan air. 
 
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Pekanbaru Helda S Munir mengatakan setakat kini pihaknya belum ada menerima laporan tentang warga atau pendatang asal Singapura yang terdeteksi mengidap Zika di Pekanbaru. "Kita berharap tidak ada warga yang ketular dari luar negeri, karena sejauh ini memang belum ada laporan temuan," tegasnya.
 
Helda juga mengakui untuk Pekanbaru sejauh ini dari riwayat penderita Deman Berdarah Dengue (DBD) belum pernah ditemukan penderita Zika. Namun demikian ia mengimbau warga masyarakat waspada terhadap gigitan nyamuk, karena memang fektor penyebar virus Zika adalah serangga yang sama dengan penyebab DBD.
 
Kemunculan virus Zika di Singapura dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan (Ministry of Health, MOH) setempat pada 28 Agustus lalu. Dalam situs resminya, pihak MOH menyatakan telah mengonfirmasi adanya 41 kasus infeksi virus Zika di wilayah negara bekas jajahan Inggris itu. 36 kasus di antaranya diketahui lewat pengujian secara aktif terhadap orang yang dinilai berpotensi.
 
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menuturkan, sejauh ini antisipasi pemerintah tetap sama seperti yang sudah ada selama ini. Yakni, mengandalkan screening di bandara dan pelabuhan. Khususnya, bagi penumpang yang berasal dari luar negeri. "Kalau positif demam, kita minta diambil darahnya dan mengisi kartu alert atau kartu kewaspadaan," ujar Nila di kompleks Istana Kepresidenan 30 Agustus lalu.
 
Bila hasil tes darah dinyatakan positif Zika, maka orang tersebut akan dipanggil kembali untuk ditangani lebih lanjut. Menkes memastikan, di setiap bandara yang melayani penerbangan internasional maupun pelabuhan-pelabuhan laut terdapat alat screening tersebut. Selain itu, petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) juga disiagakan untuk mengantisipasi hasil screening.
 
Dia menjelaskan, Zika sudah ditetapkan WHO sebagai masalah dunia. Sebenarnya, Zika dapat dikatakan sama dengan Demam Berdarah Dengue. Fektor penularnya pun sama, nyamuk Aides Aegypti. Bedanya, yang dikhawatirkan dari DBD adalah syok yang menyebabkan kematian.
 
Sedangkan, untuk Zika yang dikhawatirkan terutama ibu hamil. "Karena dikhawatirkan akan melahirkan anak dengan kondisi kepala mengecil atau microcephaly. Juga, penyakit syaraf yang disebut "guillain barre". Namun, kebenaran akan dampak Zika itu hingga saat ini belum bisa dibuktikan secara medis.
 
Meskipun masih diragukan, tapi berbagai negara sudah memberikan warning. Terutama, lanjut Nila, yang paling ditakutkan adalah di Brazil. "Yang di Singapura itu yang dikatakan terkena adalah indigenous (asli), jadi bukan dibawa pulang dari Brazil," tuturnya.
 
Untuk gambaran terbaru, tutur Nila, pascaolimpiade Rio, belum ada laporan atlet ataupun ofisial yang terjangkit virus tersebut. Nila memastikan, di Indonesia baru-baru ini juga ditemukan lagi warga yang terkena virus Zika. Mereka adalah bagian dari masyarakat Suku Anak Dalam di Jambi. Salah satu laboratorium mengadakan penelitian potensi DBD terhadap suku anak dalam.   "Pemeriksaan lab itu bisa di-sequence, bisa dilihat ternyata ada zika positif," ujarnya.
 
Temuan itu menunjukkan, potensi orang Indonesia terkena virus Zika sama besarnya dengan potensi terkena DBD. Sebab, sumbernya sama-sama dari nyamuk Aides Aegypti. Tanda-tandanya sama. Demam, kulit kemerahan, dan ciri DBD lainnya. Sebagian akan sembuh sendiri. Penanganan medisnya pun akan sama. "Daya tahan tubuh saja yang kita angkat," jelasnya. IR/ANT

KOMENTAR