Puskesmas Panipahan Bagi-bagi Telur Rebus

Jumat, 22 April 2016 23:23:18 765
Puskesmas Panipahan Bagi-bagi Telur Rebus
Bagansiapiapi, inforiau.co - Dalam rangka memperingati dan memeriahkan hari Kartini, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika) memotong kue tar dan membagikan ratusan telur rebus kepada pasien. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk untuk mengingat dan mengenang sosok perempuan nasional di negeri ini.
 
Dalam sambutannya, Kapus Panipahan Hj Netty Juliana mengatakan setiap tanggal 21 April seluruh masyarakat yang ada di Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk untuk mengenang jasa-jasa yang telah diberikan terhadap bangsa Indonesia khususnya kaum perempuan. 
 
"Memang di masa penjajahan Belanda, Kartini ini tidak ikut berperang, akan tetapi ia memiliki perang yang sangat besar dalam mengangkat derajat kaum wanita," kata Netty Juliana dilansir di halloriau.
 
Diterangkannya, Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April tahun 1879 silam. Kartini ini merupakan anak dari keturunan Raden Mas Adipati Ario Sosronigrat yang menjabat sebagai Bupati Jepara pada saat itu. 
 
Masih kata Netty, sementara ibunya bernama M.A Ngasirah yang juga merupakan keturunan dari Kyai Haji Madirono yang merupakan salah satu tokoh agama di Jepara.
 
Kartini, kata dia, kala itu sempat menimba ilmu di sekolah ELS (Europese Lagere School). Namun terhenti di usia 12 tahun karena tradisi di Pingit atau larangan keluar rumah untuk para gadis saat itu. 
 
"Meski begitu semangat belajar dan menuntut ilmu Kartini tak pudar meski hanya lewat goresan surat surat yang di kirim kepada teman temannya yang saat itu kebanyakan dari Belanda," ujar Netty sembari mengenangkan sejarah sosok Kartini kepada puluhan pasien di sela-sela membagikan telur rebus.
 
Setelah dewasa Kartini disunting oleh bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Beruntung keinginan Kartini untuk mendirikan sekolah khusus wanita saat itu mendapat izin dari suaminya. Sayangnya, cita-cita Kartini terhenti karena pada usia 25 tahun meninggal dunia setelah melahirkan anak pertamanya yang bernama Soesalit Djojo Adhiningrat pada tanggal 1904. 
 
"Dengan membaca kisah Kartini ini sebagai kaum perempuan masa kini harus bersyukur karena masih diberikan kesehatan dan kesempatan mengenyam pendidikan hingga sampai ke jenjang yang lebih tinggi dan mendapatkan pekerjaan dari pemerintah untuk melanjutkan perjuangan Kartini," tutupnya. IR6

KOMENTAR