Saya, Inforiau, dan UAS

Kamis, 13 September 2018 16:50:17 208
Saya, Inforiau, dan UAS
Saidul Tombang saat memberikan kata sambutan dalam Tabligh Akbar HUT ke 4 Inforiau bersama UAS

Oleh Saidul Tombang
CEO Inforiau

INFORIAU.co - Saya terlahir dari keluarga yang terbiasa inferior. Kemiskinan adalah pangkal bala itu. Seperti masyarakat Kampar kebanyakan, orang tua saya adalah petani tradisional. Ayah dan amak lebih sering bermalam di ladang yang jauh di tengah hutan. Kami yang tujuh orang adik-beradik banyak dibesarkan dengan kasih sayang nenek.

Waktu berganti musim berubah, hidup pun terus berlalu secara kejam. Kami menjadi terbiasa dengan pecutan musim dan zaman. Kanvas nasib lebih banyak diwarnai kekurangan dan cemoohan. Deraan itu pula yang membuat kami terbiasa dan bisa berdiri luar biasa. Walau tak bersepatu ke sekolah, baju merah putih pun menjadi baju hari raya, akhirnya onak dan duri itu sudah menjadi teman setia dan permadani yang lembut bagai busa.

Karena selalu hidup di gelombang susah, akhirnya kami tidak terbiasa dengan zona nyaman. Kehidupan di Riau Pos yang membawa kisah indah, akhirnya saya sudahi saat masih di puncak tawa. Dengan kesungguhan hati, bersama teman-teman, saya mendirikan Inforiau, sebuah surat kabar harian, yang saat ini masih setia di tangan pembaca.

Tak mudah mengembangkan bisnis ketika secara umum dia sudah memasuki usia senja. Banyak yang sudah gulung tikar. Rata-rata kini hidup dengan perut lapar. Tapi kami bukan orang kemarin sore yang bermental tempe. Berkat dukungan banyak pihak, dan tentu saja ridho Allah, kami seperti memiliki seribu nyawa. Selalu ada exit yang baik bagi yang mau berusaha. Kita tidak tahu, dari usaha yang mana dan doa siapa kita akan hidup dan bertahan. Buktinya, alhamdulillah kami masih bisa bertahan walau tiap hari tambah beban.

Terkait ikhtiar dan doa, saya belajar banyak dari fenomena UAS. Kesibukan, cobaan, dan ancaman adalah makanannya sehari-hari. Saya tak bisa membayangkan kalau harus sesibuk dia. Mungkin juga saya tidak akan kuat kalau diberi cobaan dan diancam seperti dia. Saya juga tidak tahu dia mengonsumsi nutrisi apa. Tapi saya yakin, nutrisi utama dia adalah doa jamaah dan umat Islam sedunia. Doa yang dilantunkan mungkin dari anak-anak muda yang sedang galau, tua sepuh yang tak kuat lagi bergurau, perempuan hamil yang sedang risau, atau entah sesiapa yang masih hirau. Doa mereka telah membuat tulang belakang UAS tegak berdiri, suaranya masih gahar, pemikirannya masih jernih, ilmunya bertambah, dan dia tetap konsisten di jalan dakwah.

Begitulah hidup dijalani. Saya, Inforiau, UAS, dan kita semua, hidup dalam rangkaian gerbong masalah. Kita diwajibkan melompat dari setiap cobaan dan tantangan. Tapi, semua itu akan jadi mudah kalau kita senantiasa berazam besar dan tawakkal kepada Allah, Faidzaa azzamta fatawakkal alallaah. Jika kita sudah berazam maka serahkan hasil yang ditetapkan Allah.

Selamat ulang tahun ke-4 Inforiau. Teruslah istiqomah UAS. Semoga semangat kita semua membuat hidup ini lebih indah.***

KOMENTAR