William S Webb: Islam Jawab Pertanyaanku

Selasa, 27 Februari 2018 17:15:14 284
William S Webb: Islam Jawab Pertanyaanku
William S Webb

AMERIKA, INFORIAU.co - Sejak masih muda, aku Webb, ia telah merasa tak mampu mencerna informasi dan ajaran agamanya tentang Trinitas. Webb lalu mendatangi ibunya dan bertanya tentang Yesus Anak Tuhan yang mati untuk menebus dosa-dosa umatnya. “Aku bertanya apakah itu inti dari penebusan dosa. Ibunya menjawab, ya. Tak puas, Webb mengejar dengan pertanyaan lain. “Lalu, bagaimana dengan para Nabi yang diutus sebelum Yesus? Tak satu pun dari mereka percaya pada ketuhanan Yesus,” tanyanya lagi yang mengetahui beberapa nabi.

Kakeknya adalah seorang pengkhotbah gereja. Dari ceramah-ceramah sang kakek, ia mengetahui banyak hal tentang Kristen. “Aku bukan orang yang tidak mengenal agamaku dengan baik. Aku mengenalnya, tidak menerimanya, dan kemudian tidak mempercayainya.” kata William Shuaib Webb saat itu.

Tak mendapat jawaban dari sang bunda, Webb memulai pencariannya. Tiga tahun lamanya pria kela hir an 1972 ini membaca Alquran, kitab yang banyak didengarnya dari khotbah kakeknya. Selain itu, hal lain yang mendorongnya mendekati Alquran adalah stigma positif tentang Islam kala itu.

“Tidak seperti sekarang, pada masa itu kami (masyarakat AS) berpikiran bahwa para Muslim ada lah orang-orang yang benar.” Bahkan, katanya, ada pendapat yang mengatakan bahwa siapa pun yang ingin menjadi orang benar dan lurus, ia harus bergaul dengan Muslim.

Mempelajari Islam, Webb menemukan jawaban atas segala pertanyaan dan kegamangan terhadap ajaran agamanya terdahulu. Ketika diminta menjelaskan tentang Allah, Webb mengatakan, Allah adalah satu Dzat yang unik. “Karena, ia tak menyerupai apa pun dan siapa pun. Wa lam yakullahuu kufuwan ahad.” “

Sukses tapi tak bahagia

Pada usia 14 tahun, krisis keyakinan dalam diri Webb menjelma pada ketidakpercayaan pada agama yang dipeluknya dan ia mulai terlibat kenakalan dan bergabung dengan sebuah geng lokal. Ia juga men jadi seorang DJ hip-hop dan produser lokal yang sukses, serta melakukan rekaman bersama sejumlah artis.

Meski sukses, Webb mengaku tak bahagia. “Aku sukses secara materiil, namun secara internal merasa kosong,” katanya.

Setelah masuk Islam, Webb meninggalkan kariernya di dunia musik yang telah menghidupinya itu. Ia mengikuti gairahnya menyelami dunia pendidikan. Setelah memperoleh gelar sarjananya di University of Central Oklahoma, ia berguru intensif mengenai ilmu-ilmu Islam dari seorang ulama terkenal berdarah Senegal.

Lalu, sejak 2004 hingga 2010, Webb mendalami Islam di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Kairo. Selama periode tersebut, setelah beberapa tahun belajar bahasa Arab dan hukum Islam, ia menjadi kepala Departemen Penerjemahan Inggris di Darul Iftah al-Misriyyah. Di luar disiplin ilmu yang ditekuninya, Suhaib menyelesaikan hafalan Alqurannya di Makkah, dan telah mendapatkan sejumlah ijazah (lisensi yang menunjukkan standar keulamaan yang tinggi).

Kini, Webb adalah Muslim Amerika yang juga dikenal sebagai pendidik, aktivis, dan dosen. Karya-karyanya menjembatani pemikiran Islam klasik dan kontemporer. Ia membidik isu-isu relevansi budaya, sosial, dan politik bagi kelangsungan Muslim di Barat.

Webb juga diminta menjadi imam di Komunitas Islam Oklahoma, di mana ia rutin memberikan khotbah, mengajar di kelas-kelas agama, dan menjadi konselor bagi keluarga dan pemuda Muslim di sana. Di luar itu, ia menjadi imam dan pemuka agama bagi komunitas Muslim di seluruh penjuru AS.

Belum lama ini, ia menerima sebuah posisi sebagai imam Pusat Budaya Komunitas Islam Boston (mas jid terbesar di wilayah New England) hingga ia memutuskan untuk membawa keluarganya ke Boston dan menetap di sana.

Pada 2010, Royal Islamic Strategic Studies Center memasukkannya ke dalam daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia. Dan, laman situs internetnya, www.suhaibwebb. com, terpilih sebagai “Blog of The Year” terbaik setahun sebelumnya. ¦ c15 ed: wachidah handasah

Advokat Islam yang Moderat

Beberapa pejabat pemerintah Inggris seperti dikutip The Guardian dalam edisi 2004 menggambarkan Webb sebagai “pemimpin moderat” bersama sejumlah tokoh lain seperti Hamza Yusuf dan Amr Khaled. Tak hanya itu, eksistensi Webb di dunia jejaring sosial pun diakui. Pada 2010, kicauannya di twitter memenangkan voting “Tweeter Muslim Terbaik”.

Kini, eksistensi dan aksi Webb dinilai sebagai bagian dari upaya efektif membendung aksi ekstremis agama. Dan, sebagai seorang advokat bagi kalangan Muslim akar rumput ia giat mempromosi kan perubahan so sial. Ia me negaskan, Islam di Ame rika adalah Islam yang tidak berkiblat semata pada budaya Arab. “Sesuai dengan hukum Alquran namun juga mencerminkan kebiasaan dan budaya bangsa ini,” ujarnya.

Webb mengatakan, radikalisasi tumbuh subur di AS jika Muslim dan non-Muslim sama-sama meyakini Islam tidak sesuai dengan Amerika. “Muslim adalah bagian dari kekayaan budaya AS dan sudah menjadi bagian dari budaya kita dalam jangka waktu yang lama.”katanya.

Meski berjuang sebagai advokat Muslim, terutama Muslim AS, Webb mengakui tak mudah hidup dengan budaya yang sama sekali berbeda. “Sebagai mualaf, awalnya tidak sepenuhnya nyaman menjadi diri sendiri dengan status yang berbeda. Kita (mualaf AS) harus mengadopsi budaya berbeda sementara kita tidak dibesarkan dengan budaya itu."katanya lagi. (sumber: republika)

KOMENTAR