Bertahun-Tahun Tuntutan Warga Pangkalan Kerinci Tak Di Gubris PT RAPP

Selasa, 11 Desember 2018 16:26:44 295
Bertahun-Tahun Tuntutan Warga Pangkalan Kerinci Tak Di Gubris PT RAPP
jalan berdebu

PANGKALAN KERINCI, INFORIAU.co - Tuntutan Masyarakat Pangkalan Kerinci agar akses jalan dari KM 1 sampai KM 7 yang berada di pusat Ibukota kabupaten untuk di aspal tak kunjung direalisasikan PT RAPP.

Tuntutan sendiri telah terbilang tahun. Padahal, jalan yang menjadi akses vital perusahaan bubur kertas tersebut, membela pemukiman padat penduduk yang telah terbentang sejak tahu 1994. Dan setiap saat warga hanya dihadiahi debu pekat oleh aktivitas mobil tronton bertonase tinggi pengangkut kayu milik perusahaan.

Adalah H. Alim Hasra Kesuma tokoh muda Pangkalan Kerinci, sekaligus pengurus travel umrah Al Badriyah, 10 Desember 2018 di Trusan Pangkalan Kerinci Barat, menyampaikan keluhan masyarakat.

"Saya pikir tuntutan masyarakat Pangkalan Kerinci ini sangat wajar dan masuk akal. Sebab sudah berapa banyak alam Pangkalan Kerinci dan Pelalawan di babat perusahaan. Dan sejauh ini masyarakat dapat apa?. Hanya debu jalan saja yang masuk ke rumah-rumah warga," ujarnya.

"Kemudian tuntutan jalan aspal tersebut bukan lah tuntan satu-satunya. Kami juga menawarkan peningkatan badan jalan dengan klasifikasi rigid pavement (beton). Tentunya dengan peningkatan jalan ini, debu jalan tak lagi masuk kerumah warga sehingga dari kesehatan warga juga ada perbaikan," jelasnya.

Terpisah, untuk mensiasati hal tersebut dan harapan dapat terwujud, maka tidak ada cara lain, warga Pangkanlan Kerinci harus kompak dan menutup akses jalan tersebut. khusus mobil perusahaan.

"Menghadapi perusahaan raksasa sekaliber PT RAPP warga harus kompak. Kalau hanya berunding saja, maka warga berada diposisi daya tawar lemah. " jelas Ujang alias Aprizal (56) anak Keponakan Batin Badagu - Kecamatan Langgam.

Ujang yang merupakan salah seorang tokoh dan didengar omongan khususnya oleh anak keponakan Batin Badagu memberikan gambaran bagaimana masyarakat Kecamatan Langgam melakukan aksi agar tuntutan masyarakat dapat dikabulkan perusahaan.

"Kami tidak mengatakan kami tu hebat, hanya saja kami kompak, caranya hanya demon dengan tutup total jalan yang dilalui perusahaan, dan jangan dibuka sebelum tuntutan dikabulkan. Dan ini kami lakukan bukan sekali dua. Ternyata cara ini cukup berhasil, kemudian perusahaan maunya semacam itu. Kalau surat prosal, dan lobi-lobi mental da. Hanya saja kita jangan anarkis, kita menuntut yang layak dan di rasa logis dan itu sudah menjadi semacam kewajiban perusahaan," ujarnya. nto

KOMENTAR