Jikalahari Buka Cerita Karhutla Tahun Lalu

Rabu, 18 Januari 2017 04:41:00 577
Jikalahari Buka Cerita Karhutla Tahun Lalu
Wakil Koordinator Jikalahari, Made Ali saat menyampaikan materi CAT di Hotel Pangeran, Rabu (18/1).

Pekanbaru,Inforiau.co- Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) mengadakan bedah catatan akhir tahun (CAT) 2016, Rabu (18/1).

 
Bertempat diruang Mirror, Hotel Pangeran Jalan Sudirman, Pekanbaru membahas terkait kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Riau pada tahun-tahun sebelumnya.
 
Bagaimana dengan tahun 2017 ini?. Wakil Koordinator Jikalahari, Made Ali dalam materinya menyampaikan kasus karhutla dan banjir yang terjadi pada tahun 2016.
 
Pada peristiwa karhutla, menyebabkan satu orang meninggal dunia. Sedangkan akibat banjir terdapat empat orang meninggal dunia.
 
" Kasus inilah yang kita bedah, catatan tahun lalu untuk dijadikan pelajaran tahun ini. Jadi bagaimana upaya pemerintah dan aparat hukum menangani kasus karhutla di Riau," kata Made.
 
Dipaparkannya, selama tahu 2016 lalu itu, begitu banyak koorporasi yang melakukan pembakaran lahan.
 
Namun, tindakan hukum tidak maksimal dilakukan oleh aparat kepolisian, sehingga koorporasi masih tetap menyumbang asap diwilayah Riau.
 
Made mengatakan, selama koorporasi melakukan pembakaran lahan, bos perusahaan tidak tersentuh oleh hukum tersebut.
 
" Yang membakar disuruhnya masyarakat. Dibayar lima sampai enam juta. Lalu masyarakat itu ditangkap. Tapi, cukongnya tidak pernah disentuh oleh penegak hukum," terangnya.
 
Disebutkannya, 15 koorporasi diduga tersangka pembakar lahan di SP3 kan oleh Polda Riau. Sampai saat ini penanganannya juga belum jelas.
 
Made menyebut PT APSL, yang diduga melakukan pembakaran lahan sampai saat ini belum ditetapkan sebagai tersangka.
 
" Kita sudah melakukan penelusuran dan mendapatkan bukti-bukti koorporasi yang membakar lahan. Tapi tidak ditetapkan tersangka. Saya rasa semua itu memiliki relasi kuat dengan partai politik. Makanya tidak ada yang berani menindak tegas," ungkap Made.
 
Dengan hal itu, ditahun 2017 ini, dia berharap koorporasi yang melakukan pembakaran agara ditindak tegas. Dan sedangkan kasus sebelumnya juga harus diusut oleh Polda Riau.
 
Karena akibat karlahut menyebabkan masyarakat sengsara dan mati perlahan menghirup kabut asap hutan tersebut.
 
" Kita berharap tahun ini Riau bebas asap dan juga banjir. Dan pemerintah serta penegak hukum benar-benar prihatin dengan bencana yang sudah bertahun-tahun terjadi di Riau," tegasnya.
 
Dalam bedah cerita akhir tahun ini, turut dihadiri Kepala BMKG Pekanbaru, Sugarin, Ketua Koalisi Rakyat Riau (KRR), Fachry Husin dan undangan lainnya.KIM

KOMENTAR