Menabal Pada yang Patut; Datuk Seri Pembual Utama

Kamis, 08 November 2018 04:04:38 1138
Menabal Pada yang Patut; Datuk Seri Pembual Utama
Alwira Fanzary Indragiri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB). Dari pangkal nama, tak nak rasanya menyelisik dari mana asal-muasal pria yang sudah berkepala tujuh ini. Pasalnya, dalam agama dan adat kita di Tanah Melayu, diajarkan melapangkan laman rumah bagi siapapun. Tapi yang jelas, ari-arinya SCB tumpah di tanah Indragiri.

Datuk Seri Pujangga Utama, itu gelar adat yang telah ditabalkan Lembaga Adat Melayu Riau (LAM-R) bagi pria gondrong, yang kebetulan juga sama jurusan perguruan tingginya dengan saya. Hanya kebetulan. Meski bertahun jauh.

Sulit rasanya bersilang pendapat atas penabalan gelar adat bagi Presiden Penyair Nusantara ini. Apalah tidak, kepiawaiannya mengeruk kata demi kata, lalu menghidangkannya dalam cawan-cawan akal sehat, seperti Nabi Perantara Tuhan bagi hati kerontang, jiwa yang gersang.

Mantra-mantranya menenggelamkan kepongahan diri di lubuk kesadaran dalam. Juga dengan lembut, menikam kuasa para durjana dengan tusukan kata. Berdarah tidak, tapi berbisa.

Sebelumnya, Ustadz Abdul Somad (UAS) juga sudah bergelar Datuk Seri Ulama Setia Negara. Sangat patut rasanya ustadz satu ini ditabalkan gelar adat kehormatan. Ustadz yang juga pernah bertahun menetap di selemparan batu jaraknya dari Sungai Indragiri ini, telah menjadi magnet umat pada setiap hadirnya.

Dulu, saat cinta pertama saya dengan beliau, 5 tahun yang lalu, sehari waktu, saya gas motor butut menghadiri tiga tempat pengajian yang di isi UAS. Belumlah lagi ditenarkan Youtube seperti sekarang.

Dan nampaknya, jika tak nak dibilang pasti, gelar adat juga akan ditabalkan oleh LAM Riau pada pemimpin tertinggi di Republik ini. Saya mencoba tunak merunut mahakarya apa lah kira yang dibuat selama Jokowi jadi penguasa untuk Riau ini.

Kabut asap yang tidak lagi masif, meski masih ada disaat curah hujan yang cukup tinggi beberapa tahun terakhir ini?, boleh lah berbangga. Walau nyata pertolongan tuhan di situ. Kalau tak, azab juga.

Tetiba saya teringat argumen seseorang, mungkin sambil geram, ia ingin menyumpal benak saya "Mahakarya rezim ini jalan Tol Pekanbaru-Dumai". Ah kawan ini lupa atau pura-pura lupa. Jalan Tol Trans Sumatera, termasuk yang di Riau, adalah bagian dari MP3EI nya SBY.

"Dana bagi Desa tiap tahunnya yang mencapai 1 miliar rupiah lebih!"Tambah kawan itu. Lah, bukannya itu juga kebijakan yang dirumuskan, disepakati dan disahkan legislatif dan eksekutif masa SBY.

Lalu kebalikannya, petaka apa yang telah dibuat atau terjadi semasa rezim ini di Riau. Silahkan nanti dibantah. Kabupaten Kepulauan Meranti tak sanggup gelar MTQ Tingkat Provinsi, anggaran tak ada, kabupaten lain juga tak sanggup ambil alih. Ini sejarah pertama daerah angkat tangan. Terpaksalah Pemprov yang selenggarakan tahun ini. Cubit anggaran sana-sini. Yang penting ada.

Penghulu berbulan-bulan tak terima gaji. Single salary ASN juga berbulan tak cair-cair. Harga sawit, kelapa, karet, yang menjadi komuditi utama penghasilan orang Riau, harganya menukik setajam-tajamnya. Apa lagi? panjang, sepanjang tali beruk, kata saudara kita di ranah Minang sana.

Itu disegi materi. Dari sisi izzah kita?. UAS yang ditabalkan gelar adat yang mulia, beberapa kali di seberang sana dihinakan. Proses hukum oleh rezim ini bagi para jembalang tanah itu juga tak ada kejelasan. Bahkan, kita yang diajarkan memuliakan pendatang, tamu datang, malah mereka persekusi dan usir di Bandara.

Dan terbaru, sejumlah kepala daerah di Riau harus deklarasi dukungan dan menyembah dulu ke Istana tuk dapatkan hak DBH. Memang rezim gila sembah. Apa belum cukup, upeti ratusan triliun rupiah yang disalurkan Riau tiap tahunnya ke Jakarta?

Ah sudahlah, sejenak mungkin saya harus amnesia dengan apa yang sudah terjadi. Tapi bagi Tuan Puan yang tak setuju dengan gelar adat yang akan diberikan, anggap saja itu nanti hanya penabalan icak-icak.

Karena memang yang akan ditabalkan itu bisa didandani menjadi berbagai rupa. Bisa tiba-tiba ia pecinta grup band metal, hobi chopper dadakan, apa saja, asal disorot kamera tuk elektabilitas.

Dan juga bagi Tuan Puan merasa banyak janji-janji kampanye empat tahun lalu yang tak dipenuhi, boleh juga usulkan nama gelar adat yang akan diberi. Datuk Seri Pembual Utama. Mungkin.

Namun jika ada Tuan Puan miang, karena apa yang saya cakap, mari kita merajut pandang, menuang remah-remah kearifan sambil ngupi. 300 meter Gerbang Emas Purwodadi, di meja kopi peradaban.

Oleh : Alwira Fanzary Indragiri

- Ketua OKP Lingkar Anak Negeri Riau (LAN-R)

- Jurnalis

KOMENTAR