Momen Agus Tumbangkan Ahok

Senin, 28 November 2016 08:30:24 594
 Momen Agus Tumbangkan Ahok
Ahok dan Agus, kalau pemilihannya saat ini, Agus Menang!

Jakarta, inforiau - Pemilihan Gubernur DKI Jakarta mampu menyita perhatian banyak warga Indonesia. Apalagi setelah salah seorang calon, Basuki Tjahaja Purnama ditetapkan sebagai tersangka, bola panas tengah menggelinding di ibu kota Indonesia tersebut.


Terakhir, Poltracking Indonesia melakukan survei tentang Pilgub DKI 2017. Direktur Eksekutif Riset Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR mengungkapkan warga Jakarta akan memilih Agus sebagai gubernur DKI jika pemilihan dilaksanakan hari ini.


"Seandainya Pilkada DKI dilaksanakan hari ini, publik akan memilih Agus Harimurti Yudhoyono sebagai gubernur DKI Jakarta," kata Direktur Eksekutif dan Riset Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR di Hotel Sofyan Betawi, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (25/11).


Survei dilakukan pada tanggal 7-17 November 2016. Survei ini menggunakan metode Multistage Random Sampling dengan 1200 responden. Margin of Error dari survei ini yakni 2,8 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel tersebar dari seluruh kota yang ada di Jakarta.


"Publik yang akan memilih Agus Harimurti Yudhoyono sebagai gubernur DKI Jakarta sebesar 19,16 persen, disusul Basuki Thjahaja Purnama 15,92 persen dan Anies Baswedan 14,34 persen," jelas Hanta.
Namun demikian, angka pemilih lainnya dan yang tidak tahu atau tidak menjawab masih tergolong sangat tinggi, (1,48 persen untuk angka yang lainnya dan 49,10 persen untuk angka yang tidak tahu/tidak jawab) sehingga ketiganya akan bersaing ketat untuk lolos ke putaran ke dua.


"Ketiga pasangan calon bersaing ketat untuk lolos di putaran ke dua," imbuh Hanta.
Poltracking Indonesia juga melakukan simulasi jika Pilgub DKI hanya diikuti 2 pasangan calon. Masing calon dipertandingkan 'head to head'. Siapa yang menang?
"Seandainya Pilkada DKI Jakarta hanya diikuti dua pasang calon, dalam berbagai simulasi, pasangan Agus-Sylviana selalu unggul baik saat berhadapan dengan pasangan Anies-Sandi ataupun pasangan Ahok-Djarot," kata Hanta Yuda.


"Pasangan Ahok-Djarot selalu kalah saat disimulasikan, baik ketika disandingkan dengan Agus-Sylvi ataupun dengan pasangan Anies-Sandi," jelas Hanta.
Ditambahkan Hanta, akan ada potensi perpindahan pemilih di putaran kedua, baik dari pemilih pasangan Agus-Sylvi, Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi.


"Potensi perpindahan pemilih putaran kedua, jika yang masuk putaran kedua adalah pasangan Anies-Sandi berhadapan dengan Ahok-Djarot, potensi pemilih Agus mayoritas pindah ke Anies-Sandi. Bahkan dukungan terhadap Anies-Sandi menjadi dua kali lipat atau mengalami kenaikan hampir 100 persen," terang Hanta.


"Jika yang masuk putaran kedua adalah pasangan Anies-Sandi dan Agus-Sylvi, pemilih pasangan Ahok-Djarot tersebar merata ke dua pasangan. Jika yang masuk ke putaran kedua Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot, pemilih Anies-Sandi sebagian besar akan berpindah ke Agus-Sylvi," tambahnya.


Sementara itu, juru bicara Tim Pemenangan Basuki-Djarot, Ansy Lema, mengatakan, tingkat keterpilihan pasangan nomor urut dua dalam pengumuman lembaga survei menjelang Pemilihan Gubernur 2017 terus menurun bukan karena diragukan kinerjanya, melainkan karena tersandung kasus dugaan penistaan agama.


"Elektabilitas Ahok menurun bukan karena kinerja, tapi isu agama," kata Lema, saat menghadiri pengumuman hasil survei Poltracking Indonesia yang menyatakan elektabilitas pasangan Cagub-Cawagub nomor urut satu, Agus Harimurti dan Sylviana Murni, tertinggi dibandingkan dua pasangan lainnya, di Jakarta, Minggu.


Ia menambahkan, "Menurut kami, fine saja, ini terkonfirmasi dari kepercayaan publik yang masih tinggi."
Dia mengatakan, proses survei Poltracking Indonesia yang dilakukan periode 7 sampai 17 November, atau saat Basuki Purnama sedang menghadapi tuduhan penistaan agama hingga penetapan status tersangka, sehingga ia menilai wajar jika elektabilitas Ahok terus menurun.


"Saya membaca hasil survei, kalau menangkap konteks di balik ini terkait waktu pelaksaan survei 7 sampai 17 November, pada saat itu ada kasus dugaan penistaan agama yang dituduhkan pada calon kami," kata dia dilansir antara.com.
"Basuki ditetapkan juga sebagai tersangka (pada 16 November 2016), maka tensi politik pada titik didih saat itu. Survei dilakukan pada momen itu sehingga sangat wajar jika elektabilitas Basuki melorot karena opini publik mengalah bahwa Ahok salah," lanjut dia.


Sebelumnya, Direktur Eksekutif dan Riset Poltracking Indonesia, Hanta Yuda, mengatakan, berdasarkan survei yang digelar 7-17 November 2016, dengan melibatkan 1.200 responden, margin error +/- 2,8 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen, didapatkan pasangan Agus-Sylvi memimpin tingkat elektabilitas sebesar 27,92 persen.


Pasangan Basuki (Ahok)-Djarot cuma 22 persen, Anies-Sandi sebesar 20,42 persen dan 29,66 persen responden menyatakan tidak tahu.
Yuda juga menyampaikan jika pemilihan gubernur dilaksanakan hari ini, sebanyak 19,16 persen responden memilih Agus Harimurti, 15,92 persen memilih Ahok dan 14,34 persen memilih Anies Baswedan. Namun sebanyak 49,10 persen menyatakan belum memiliki pilihan atau tidak menjawab.


Kendati demikian, Lema tetap mengapresiasi hasil dari bermacam lembaga survei termasuk dari Poltracking Indonesia.*1/dtc

KOMENTAR