Nestapa Pekerja WNI di Kamboja, Ada yang Berasal dari Indragiri Hulu

Senin, 01 Agustus 2022 21:27:06
Nestapa Pekerja WNI di Kamboja, Ada yang Berasal dari Indragiri Hulu
Ilustrasi/Net

Inforiau - Seorang warga negara Indonesia yang sempat menjadi korban lowongan kerja palsu di Kamboja berkesempatan menceritakan berbagai siksa yang dilalui di sana.

"Memang di sana banyak rata-rata pekerjanya orang Indonesia, dijanjikan dengan gaji luar biasa, namun hasilnya nol," kata Rio (bukan nama sebenarnya), dalam konferensi pers virtual berjudul 'Darurat PMI di Kamboja' yang diselenggarakan lembaga swadaya masyarakat Migrant Care, Senin (1/8).

"Mereka yang tidak mencapai target dijualbelikan, dipukul, dan disetrum. Paspor dibakar, tidak membayar denda," ujarnya lagi.

Rio merupakan salah satu WNI yang berhasil pulang ke Indonesia pada Juli lalu.

Meski begitu, Rio bukanlah bagian dari kasus 62 warga negara Indonesia (WNI) yang diselamatkan pemerintah beberapa hari lalu.

Sementara itu, Migrant Care menuturkan permasalahan mengenai perdagangan orang di Kamboja bukanlah hal baru.

Sejak April 2022, organisasi tersebut menerima pengaduan dari enam pekerja migran Indonesia yang menjadi korban penipuan perusahaan investasi bodong.

Dari laporan yang diterima Migrant Care, para korban diketahui berasal dari berbagai daerah RI, seperti Medan, Jakarta, Depok, Indragiri Hulu, dan Jembar.

"Dari agen yang berada di Kamboja, mereka dijanjikan bekerja sebagai operator, marketing, dan customer service dengan dijanjikan gaji US$1.000 (Rp14 juta) hingga US$1.500 (Rp22 juta)," demikian pernyataan Migrant Care dalam rilis pada Senin (1/8).

Meski begitu, ternyata janji gaji tersebut merupakan penipuan. Nyatanya, para pekerja migran RI kemudian dijual dengan harga yang beragam. Seorang pekerja RI diketahui sempat dijual seharga US$2.000 (Rp29 juta).

Pihak Migrant Care menemukan beberapa orang dijual berkali-kali karena sejumlah penyebab, seperti karena berbuat salah, mengutarakan komplain, dicurigai melapor ke pihak luar, pun membantu pekerja lain yang disiksa.

"Sebagian dari mereka mengalami kekerasan fisik dari pihak perusahaan, yaitu dipukul, dikeroyok, bahkan ada yang disetrum hingga tubuhnya berdarah, lebam, dan bercak-bercak di tubuh," lanjut pernyataan organisasi itu.*

KOMENTAR