Oleh Saidul Tombang *Jurnalis dan Kolumnis

Minggu, 24 Desember 2017 22:05:33 457
Oleh Saidul Tombang *Jurnalis dan Kolumnis
Sontang, Inforiau.co - Niat ini sudah lama ditanam; bepergian dengan keluarga, bertualang bukan berwisata, menjejas dunia yang tak pernah dikunjungi sebelumnya, hanya bertiga!
 
Tapi mengapa Sontang? Banyak yang tak kenal dengan ceruk desa yang satu ini. Saya pun. Tapi Allah selalu membimbing ruhani kita untuk sebuah alasan. Wamaa khalaqta haadza baathila. Tak ada skenario yang salah. Dan, Sontang memang sangat menggoda, dia datang ke sudut minda, merayu saya untuk mengunjunginya.
 
Maka, Sontang adalah destinasi sementara pertama. Sontang; sebuah desa yang diapit beberapa peradaban tinggi. Peradaban Sakai di Selatan, Rokan di Utara, belum lagi Rambah dan pilar peradaban lainnya.
 
Tapi Sontang terlalu mahal untuk diraih. Saya melewati perjuangan yang teramat dramatis untuk menemukannya. Dari Pekanbaru, segala keperluan untuk menemukan Sontang sudah dilakukan sejak lama. Termasuk bertanya kepada yang tahu; terutama kepada Mbah Google yang nyaris tahu segalanya.
 
Ada banyak jalan ke Sontang. Via Pasir Pengaraian, via Rangau di Duri, namun saya memilihnya via Kandis melewati Libo.
 
Sepanjang mata memandang, lebuh raya Libo adalah wajah elok betapa majunya Riau hingga jauh ke pelosok. Jalannya mulus nyaris tanpa gelombang. Di kirinya adalah pipa minyak sumber kekayaan negara. Di kanannya lautan kebun kelapa sawit sumber kekayaan rakyatnya.
 
Ups, tunggu dulu. Itu hanya sampai ke Libo, salah satu kawasan penghasil minyak milik PT Chevron Pacific Indonesia. Itu hanya sekitar 30 km dari sekitar 70 km ruas jalan yang harus ditempuh. Dan, setelah 30 km yang mulus itu, rasanya saya kembali menemukan Indonesia. Indonesia masa saetu. Jalan tanah, bergelombang, dan sangat tidak aman. Mobil yang lewat pun satu-satu. Kalau hari sudah petang, entah seperti apa jalan ini menjadi lengang.
 
Pasa sepertiga jalan tanah yang kami lalui, sampailah kami pada titik yang menjemukan dan menakutkan; tiga truk tangki berisi crude palm oil (CPO) tersangkut di jalan rusak. Jalan lumpur dalam. Plus ditambah beberapa mobil pribadi, truk sawit, dan mobil ekspedisi. Allah, apakah harus balik kucing ataukah bermalam di rantau tak bertabuh ini?
 
Allah memang indah dalam penetapan plot dan alur skenarionya. Di sana, ternyata ada alat berat yang sedang bekerja. Menarik truk tangki dengan tali baja. Kemudian menarik mobil kecil dengan tali sling biasa. Dialah sopir alat berat yang makan siang terlambat karena membantu kami. Sopir alat berat yang menolak tawaran nasi bungkus yang kami ulurkan kepadanya.
 
Sontang masih jauh. Potret buruk infrastruktut negeri ini masih memedihkan mata. Termasuk ketika harus melintasi areal perkebunan yang ketika minta izin kepada sekuriti seperti kita meminta izin kepada Belanda saat menjajah Indonesia.
 
Tapi, Sontang memang luar biasa. Bukan tanah dan airnya. Bukan kekayaan alam dan atau masyarakatnya. Di bibir Sungai Rokan Kiri yang keruh itu, 250 meter di hulu jembatan Sontang itu, berdiri megah Surau Suluk Syekh Muhammad Kayo. Surau suluk yang luar biasa. Luas, dua lantai, kubah emasnya sangat mewah, lantai keramiknya menyejukkan, halamannya yang luas, toilet yang bersih, kuburan syekh yang terjaga, dan pohon beringin yang menaunginya, membuat surau suluk ini tampak selesa. Menurut kabar, bila musim suluk tiba, surau yang menampung nyaris seribu jamaah ini dilengkapi pula dengan pendingin ruangan.
 
Surau suluk ini magnet bagi saya secara syariat. Tapi pada hakikatnya, saya menemukan sebuah pemahaman bahwa kebersamaan yang kami lalui selama lima jam ini, yang penuh cerita suka dan derita, telah membawa kami pada cerita bahwa petualangan dan kesusahan terkadang bernilai sama dengan kemewahan bila kita tawakkal kepada Allah. Bonusnya adalah ketika kita mendapat ganjaran bila sampai pada tujuan.
 
Sontang, kami datang dan pergi secepat aliran Sungai Rokan Kiri yang keruh itu. Tapi yakinlah, zikir para jamaah di surau-surau sulukmu telah membuat kami tertambat di sini dan suatu saat ingin kembali.Ir
 
 

KOMENTAR