Rupari: Sudah Darurat

Senin, 23 Mei 2016 20:16:21 1091
Rupari: Sudah Darurat
Pekanbaru, Inforiau.co - Sampai Mei 2016, Rumpun Perempuan dan Anak Riau (Rupari) sudah mendamping 15 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak dari 45 kasus yang dilaporkan.
 
Direktur Rupari, Helda Khasmy menilai angka tersebut meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya. "Artinya kondisi saat ini di Riau sendiri bisa dikatakan sudah darurat kekerasan seksual," terang Helda, Ahad (22/5).
 
Dibandingkan dua tahun sebelumnya, jumlah kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan yang ditangani Rupari tahun 2014 sebanyak 50 kasus dengan 19 diantaranya kasus kekerasan seksual.
 
Kemudian tahun 2015 jumlah kasus yang masuk sebanyak 96 kasus 33 diantaranya kekerasan seksual. "Itu yang melapor ke kita (rupari.red) belum lagi yang melapor ke intitusi kepolisian serta yang tidak mau melapor," paparnya.
 
Seluruh laporan tersebut menurut Helda dari wilayah Kota Pekanbaru. Jika diestimasi jumlah keseluruhan di Provinsi Riau tentu angkanya jauh lebih tinggi.
 
"Artinya apa, kondisi ini (kekerasan seksual.red) sudah darurat. Semua stake holder, elemen masyarakat harus mewaspadainya. Rupari tidak akan bisa bekerja maksimal jika tidak ada peran instansi lainya. Semaa harus mengikat dan saling terkait," terangnya.
Ketimpangan Relasi Kuasa
 
Menurut Helda pemicu terus meningkatnya kasus kekerasan seksual disebabkan karena krisis. Hal itu juga tidak terlepas dari ketimpangan kuasa antara lelaki dan perempuan.
 
Perempuan yang menjadi objek senantiasa terus menjadi korban. Ketidak mampuan mereka bersuara akhirnya terus memojokkan perempuan dan berada pada posisi yang tertekan.
 
"Ini yang harusnya dipahamani. Perempuan senantiasa berada pada posisi korban. Ditambah dengan kenyataan krisis saat ini, mulai dari pendidikan, ekonomi sampai sistem yang mengatur yang tidak responsif," paparnya.
 
Penekanan pentingnya pendidikan dan pengawasan dari orang tua memang menjadi salah satu yang diperhatikan. Namun itu bukanlah akarnya dari permasalahanya.
 
Ada kondisi dimana pengawasan dan pendidikan dari orang tua tidak lagi menjamin. Seperti faktor ekonomi. Seorang ibu yang harus bekerja dari pagi hingga sore tidak akan memaksimal pengawasannya pada anak.
 
"Mereka akan memikirkan ekonomi. Makanya ikatan pengawasan dan pendidikan terhadap anak sering longgar. Siapa yang salah. Maka peran orang tua tidak bisa dikedepankan menjadi alasan," papar Helda. Menurut Helda, semua pihak harus berkomitmen.
 
Setidaknya meminimalisir terjadinya kasus-kasus kekerasan seksual. Negara harus memperhatikan semua aspek yang mempengaruhi seseorang lahir menjadi pelaku kekerasan.
 
"Penekanannya banyak unsur. Mencari akar permasalahannya untuk-setidaknya- mengurangi kejahatan seksual. Negara punya peranan bagaimana memberikan kesejehtaraan bagi rakyatnya. Pemimpin daerah harus tahu kantong-kantong kemiskinan yang berpotensi melahirkan tindak kejahatan. Karena itu semua pihak harus punya peranan," ungkap Helda. 
 
Sementara itu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Riau mencatat ada 118 kasus kejahatan seksual terhadap anak.
 
Rinciannya, 118 kasus kejahatan seksual terhadap anak rinciannya, 12 kasus yang ditangani pada 2011, 13 kasus pada 2012, 21 kasus pada 2013, 33 kasus pada 2014, 32 kasus pada 2015 dan tujuh kasus pada awal 2016.
 
Sekretaris P2TP2A Riau, Fitria Yulisunarti menyebutkan, persentase pelaku tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak, namun saat ini anak-anak juga ikut menjadi pelaku.
 
Dia menilai kasus ini dipicu kebebasan mengakses internet yang mempengaruhi anak untuk berprilaku menyimpang.
 
"Pengawasan dari orangtua tetap wajib dilakukan, karena saat ini faktor yang banyak menyebapkan anak berprilaku menyimpang salah satunya melakukan kejahatan seksual adalah faktor internet. Karena saat ini internet sangat mudah diakses dan banyak konten berbau negatif," ujarnya.
 
Dikatakan Fitria Yulisunarti untuk mencegah kejahatan itu perlu pengenalan pendidikan tentang seks sejak dini kepada anak.
 
Selama ini pendidikan itu masih dianggap tabu. Ke depan, orang tua secara perlahan perlu memberikan pemahaman pendidikan seks ini kepada anak-anaknya.
 
"Pendidikan seks itu agar anak tahu bagian tubuh mana yang tidak boleh dipegang oleh lawan jenis," tuturnya.
 
Yang tidak kalah penting lagi, dia mengingatkan, kebiasaan menutup aurat ketika habis mandi dan keluar kamar mandi sangat penting. "Hal ini mungkin terdengar sepele namun jika itu dilakukan dampaknya akan sangat besar sekali," tandasnya. Tp/Jpg/Ir

KOMENTAR