Telaga Air Mata

Selasa, 29 Agustus 2017 19:00:01 485
Telaga Air Mata

Oleh Saidul Tombang

 

Seorang lelaki, dalam duduk tawarruknya, sesenggukan dalam kecamuk tangis. Dadanya sebak. Nafasnya sesak. Dia menangis tak sudah-sudah.

Pada setiap duduk tawaruknya, dalam lautan zikirnya, pada tiap tahajudnya, saya menemukan tangisnya yang pecah. Sebegitu banyakkah dosanya? Sebegitu menyesalkah dia dengan masa lalunya? Sedalam itukah taubatnya?

Saya ingin seperti dia. Mungkin Anda juga. Kita ingin menyesal dengan segala sesal. Menunjukkannya dengan derai air mata. Tapi terkadang kita tak mampu. Hati kita terlalu keras untuk mengakui dosa. Air mata kita terlalu pelit untuk membasuh masa lalu. Padahal, air mata taubatan nashuha adalah pembersih hati yang paling manjur.

Hati manusia memang bermacam rupa. Ada yang memiliki hati tanah. Penyesalannya pun ketika berbuat dosa agak lebih mudah. Setiap air yang mengalir di sana akan dengan mudah mengalir kembali melalui celahnya. Senista apapun airnya. Sekeruh apapun. Seracun apapun, bila sudah melalui proses kimiawi tanah maka dia akan memancarkan air yang jernih.

Sedangkan hati batu memang sangat sulit mengeluarkan air mata. Sangat sulit mengakui kesalahan. Memandang enteng segala dosa. Hati tanah akan menganggap dosanya seperti langit dan bumi. Namun hati batu sering menganggap dosanya seperti lalat hinggap di tangan. Remeh.

Tapi jangan salah, hati batu adalah sumber air sesungguhnya. Di celahnya ada reservoir abadi. Ada sumber mata air yang tidak mati. Bila berhasil mengetuk pintu melankolik si hati batu, dia akan mudah mengeluarkan air mata dari porinya. Dan, air mata dari hati batu lebih jernih. Lebih tulus. Lebih bersih.

Apapun jenis hati kita, sebenarnya bergantung pada keahlian kita mencari reservoir sumber air mata. Kalau pandai mengusap hati, mengkaji diri, mengqimat masa lalu, kita akan mudah mengeluarkan air mata. Tapi bila kita masih belum menyerah, masih saja dengan ego manusia yang tak sudah-sudah, kita takkan pernah menemukan telaga air mata tempat berkecimpungnya taubatan nashuha.***

#daribalikkelambuyangpengap

 
 

 

KOMENTAR