Kelaparan, Korban Gempa Palu Mengais Makanan Dibawah Reruntuhan

Jumat, 05 Oktober 2018 10:31:49
Kelaparan, Korban Gempa Palu Mengais Makanan Dibawah Reruntuhan
Anak-anak mengais makanan dibawah puing-puing

Sulteng, Inforiau.co - Tepat satu pekan bencana Sulawesi Tengah berlalu. Meski berlalu, beberapa wilayah yang menjadi pusat bencana, salah satunya Palu, masih berduka. Mereka memikul beban berat, sebisa mungkin memulihkan trauma pasca-gempa 7,4 magnitudo dan tsunami yang masih begitu melekat.

Jumat (5/10), orang tua hingga anak-anak terus memadati pengungsian. Beberapa di antaranya memilih mendirikan tenda sendiri di area perkampungan, dekat tempat tinggal mereka dulu. Sesekali mereka berharap bantuan pangan tiba dengan melimpah.

Pantauan kumparan, hingga saat ini, bantuan berupa makanan dan minuman memang belum terdistribusikan secara merata. Apalagi, untuk warga yang terdampak tetapi berada jauh dari pusat kota.

Imbasnya, anak-anak mulai kelaparan. Bantuan yang tak kunjung tiba membuat mereka bersiasat mencari makanan yang tertimbun dalam puing bangunan.

“Kami lapar Om, tidak ada makanan di sini,” kata Ordo, salah satu bocah yang berkeluh kesah kepada kumparan di Mamboro, Palu Utara. Anak-anak mencari makanan dari reruntuhan bangunan, Mamboro


Tak hanya Ordo, di atas puing-puing beton bangunan, Irma dan tiga orang temannya kedapatan tengah mengais-ngais kayu bangunan yang roboh. Tanpa ragu, mereka masuk ke bawah reruntuhan.


Mereka mengaku kurang makan. Tak hanya anak-anak, orang dewasa juga ikut mencari makanan yang tertimbun. “Iya, setiap hari (mencari makanan),” tambah Ordo.

Setiap bungkus makanan yang mereka dapat, maka, di saat itu juga mereka menggebu-gebu seraya tertawa dan berlari meriung bersama. “Ini di sini, di sini, mari!” mereka berteriak, berlari-lari di atas puing.

Bocah-bocah Palu adalah potret dari kondisi warga Sulawesi Tengah yang saat ini masih sangat membutuhkan uluran tangan. Bahkan selain memikirkan makan, masih banyak dari mereka sibuk mencari-cari sanak keluarga yang hilang. Kmp

KOMENTAR