Kesehatan Mental

Rabu, 23 November 2022 23:15:57
Kesehatan Mental
Ilustrasi/Net

Inforiau - Beberapa waktu belakangan, gaung pentingnya meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental mulai nyaring terdengar. Ini tentu satu hal yang positif karena seperti halnya kesehatan fisik, kesehatan mental juga semestinya tidak boleh luput dari perhatian. Jika kesehatan mental terganggu, kondisi fisik dan kualitas shidup seseorang juga bisa menurun.

Kesehatan mental akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak.

Kesehatan mental didefinisikan sebagai satu kondisi sejahtera mental, dimana individu mampu mengatasi tekanan sehari-hari, menyadari kemampuan dirinya, dapat belajar dan bekerja secara produktif dan menghasilkan serta mampu berkontrbusi bagi lingkungan (World Health Organization, 2022).

Kepekaan dan kesadaran terhadap kesehatan mental ini, sejatinya tak hanya berlaku pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak, remaja, hingga lansia (lanjut usia). Orang dengan kesehatan mental yang prima dapat beraktivitas secara produktif dan menggunakan potensi yang dimilikinya dengan maksimal.

Dalam kehidupan kita pasti akan bertemu dengan situasi yang menimbulkan ketidaknyamanan, misalnya kondisi ataupun tuntutan pekerjaan yang menekan, tuntutan peran yang juga dirasa menekan, adanya kendala dalam berelasi, dan sebagainya.

Berbagai situasi ini akan memicu munculnya perasaan yang tidak nyaman seperti sedih, cemas, kecewa, pesimis, marah, dan lainnya. Kondisi-kondisi dan perasaan-perasaan yang menyertainya ini sangatlah wajar, karena bagaimanapun juga kita akan selalu dihadapkan pada situasi yang sifatnya dinamis dan tidak terduga yang sangat mungkin memunculkan emosi yang tidak nyaman.

Keadaan inilah yang dinamakan dengan mental distress. Mental distress sejatinya tidaklah selalu buruk. Justru ada saatnya mental distress ini dapat menjadi kesempatan bagi individu untuk berupaya mengatasinya dengan menggunakan ketrampilan penyelesaian masalah (coping stress) yang tepat.

Perlu sama-sama dipahami bahwa mengalami suatu kejadian yang tidak nyaman dalam keseharian adalah hal wajar. Otak manusia akan berusaha untuk menyeimbangkan kembali kondisi fisik dan psikologis dengan cara adaptif.
Ketika individu mampu mengatasi kondisi tidak nyaman yang terjadi dan dirasakan kemudian berhasil mengembangkan dirinya secara positif dan adaptif, maka individu tersebut tidak membutuhkan penanganan lebih lanjut yang mungkin melibatkan tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater.

Lain hal-nya ketika kondisi/situasi yang menekan datang secara beruntun (terus-menerus), dan sangat menekan hingga mengganggu fungsi keseharian seseorang, maka kondisi ini dapat berisiko memicu munculnya masalah kesehatan mental. Jika individu tersebut belum mampu mengatasi masalah secara optimal, maka yang bersangkutan dapat melibatkan peran tenaga profesional untuk membantunya mengupayakan strategi penyelesaian masalah yang lebih efektif.

Lantas, hal apa saja yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental?
Rawatlah diri. Salah satu bentuk merawat diri adalah mengembangkan pola/gaya hidup sehat. Cukupi kebutuhan nutrisi harian, berolahraga teratur, tidur yang cukup, rawat diri yang baik, melakukan hobi, dan sebagainya, adalah salah satu bentuk merawat diri.

Bekali diri dengan kemampuan problem solving (coping) yang optimal. Sadari bahwa masalah hadir untuk diselesaikan, bukan untuk dihindari (flight response). Lari dari masalah, sama sekali tidak membantu menyelesaikan masalah tersebut. Pahami pula ada kalanya penyelesaian masalah tidak bersifat instan, melainkan butuh proses dan konsistensi dalam mengupayakannya.
Belajar tentang manajemen stres dan ketrampilan mengelola emosi juga dapat dilakukan agar lebih siap saat dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman.
Bersosialisasi dan tetap terhubung dengan keluarga maupun teman.

Kesehatan mental, adalah komponen yang penting dalam setiap jenjang kehidupan manusia. Karenanya, merawat kesehatan mental perlu diupayakan untuk mencapai kualitas hidup yang baik.**


Oleh: Fellycia Poluan, S.Psi., M.Psi (Psikolog Klinis)

KOMENTAR