Ketika Pemerintah Bermata Juling

Selasa, 06 Desember 2016 15:12:41 935
Ketika Pemerintah Bermata Juling

Tak ada yang lebih memikat hati, awal Desemberi ini, kecuali angka 212 dan 412. Keduanya adalah medan magnet yang luas biasa. Sangat menggugah jiwa. Menghadirkan benci dan cinta. Inilah dua kutub dengan kepentingan yang berbeda. Saya tidak berada di tengahnya. Karena, secara akidah saya pasti membela 212.

Pada beberapa status terakhir, saya selalu bertanya entah apa dan kepada siapa; ada apa dengan Indonesia? Mengapa harus ada 212 yang sebelumnya sudah dimulai dengan 411. Pertanyaan itu tambah rumit dengan pertanyaan baru; mengapa pula tiba-tiba ada 412? Mengapa ada dua kepentingan dengan episentrum berbeda? Padahal, keduanya dengan dan atas nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila.

Menurut saya, kalau sudah begini pastilah ada bagian tubuh negara ini yang sakit. Bagian mana? Semua orang punya definisi beragam. Ada yang menunjuk kening, ada yang kaki, ada pula perut dan punggung. Tak sedikit pula yang menunjuk lengan dan paha. Yang cerdas akan menunjuk lidah dan isi dada. Sebagian lagi menunjuk isi kepala.

Pada struktur sakit ini, entah di bagian mana pemerintah berada. Entah di bagian isi kepala ataukah isi dada. Atau mungkin tidak di keduanya. Bisa saja lebih parahnya pemerintah kita tanpa isi kepala dan tanpa isi dada. Yang jelas, fragmen 411, 212, dan 412 adalah bentuk nyata betapa sakitnya negara kita.

Angka 212 dan 412 sangat berbeda orientasi. Beda diksi. Beda pula tujuan akhirnya. Tapi semua mata yang tak buta, hati yang tak mati, bisa melihat mana yang nyata mana yang nisbi. Mana emas mana suasa. Mana panggilan jiwa mana panggila hawa. Tapi pertanyaan yang selalu hadir adalah, mengapa pada dua kondisi yang sangat kontras ini pemerintah tak mampu bersikap tegas? Mengapa pemerintah bermata juling? Seperti melihat 212 padahal titik fokusnya ke 412, atau sebaliknya?

Mengapa ini terjadi? Pastilah karena kepentingan. Tapi pertanyannya kemudian adalah, kepentingan apa dan untuk siapa? Adakah kepentingan ini adalah tentang kemaslahatan umat? Apakah kepentingan ini untuk bangsa Indonesia ataukah untuk bangsa dari negara antah berantah.

Kalau sudah begini adanya, ketika pemerintah tidak bisa cerdas menyikapi masalah bangsa, maka pola fikir masing-masing akan menjadi dogma yang liar. Masing-masing punya asumsi, analogi, dan pretensi. Semua kita terberai di minda yang berbeda. Persatuan fisik yang nampak hanya bayangan semu. Semuanya merasakan sakit masing-masing dan akhirnya akan mencari obat masing-masing.

Apakah negara akan hadir dalam situasi minda berbeda ini? Sampai saat ini gelas itu memang sudah pecah dan membuat gaduh. Pemerintah pun terkesan seperti menghadapi dua dunia dengan pendekatan berbeda pula. Ada getah daun dan getah batang. Ada bilah dipijak dan bilah diangkat. Ada mata tumpul dan mata tajam.

Cukup tahun ini pemerintah terdampar dalam lembah ambigu. Apapun, pemerintah harus punya sikap yang tidak mendua. Bagaimanapun, pemerintah harus ada di dada dan isi kepala. Jangan sampai pula pemerintah tak punya isi kepala apalagi isi dada.***

Oleh Saidul Tombang

 

KOMENTAR