Kita adalah Jamban yang Berjalan

Kamis, 31 Agustus 2017 19:46:50 737
Kita adalah Jamban yang Berjalan

Oleh Saidul Tombang

Wahai diri. Diri yang malu dengan masa lalu. Diri yang ragu dengan waktu yang baru. Dimanakah aku harus menjejakkan telapak yang rapuh, mengarahkan dada yang keruh, mengedarkan pandangan yang luruh, sedangkan di semua luang yang ada telah aku penuhi dengan dosa-dosa.

Bagaimana aku mampu mengangkat wajah yang layu, sementara aku adalah jamban yang berjalan. Setiap ruas tubuhku adalah jamban. Setiap pori kulitku adalah jamban. Setiap lubang di tubuhku adalah jamban. Setiap yang terselip di tubuhku adalah jamban. Setiap yang mengalir di tubuhku adalah jamban. Setiap udara di tubuhku adalah jamban. Bahkan isi perutku adalah jeroan, adalah jamban. Di puncak kepalaku adalah jamban. Apatah lagi kulit di telapak kakiku.

Patut semua hidupku adalah dosa karena semua tubuhku adalah jamban. Patut kataku menyakitkan karena mulut dan lidahku adalah jamban. Patut penciumanku adalah dosa karena hidungku adalah jamban. Patut pandanganku adalah dosa karena mataku adalah jamban. Patutlah. Patut.

Pada sisi mana tubuhku yang tak berjamban? Aku berharap wahai diri, ada satu sisi tubuhku yang bersih. Yang jauh dari jamban. Yang tidak menghasilkan kotoran.

Lalu aku menunjuk pada segumpal darah di dadaku. Lempengan darah beku. Itulah hati. Qolbun. Qolbun salim adalah sisi tubuh yang tidak memproduksi kotoran. Qolbun rahim adalah hati yang selalu penyayang. Qolbun shabr adalah hati yang selalu sabar. Qolbun mukmin; hatinya orang mukmin.

Jika pandai menjaga hati maka hati takkan pernah menghasilkan kotoran. Bahkan hati yang bersih akan membersihkan seluruh jamban yang ada. Hati yang selamat akan melipus seluruh jamban yang tercipta.

Tapi, hati juga pusat segala jamban. Hati yang rusak adalah hulu dan muara segala jamban. Hati yang sakit adalah pangkal dan ujung seluruh jamban.

Wahai diri, adakah engkau menyimpan qolbun salim yang akan membersihkan seluruh jamban di sekujur tubuhku. Ataukah engkau adalah hulu dan muara dari segala jamban yang ada?

Wahai diri. Jangan bawa aku bersama penyakit hati.***

#daribalikkelambuyangpengap

 

KOMENTAR