Pakar Buktikan Manfaat Diet yang Mirip Puasa Senin-Kamis

Senin, 20 Februari 2017 14:53:50 935
Pakar Buktikan Manfaat Diet yang Mirip Puasa Senin-Kamis
ilustrasi
Jakarta, Inforiau.co -  Intermittent fasting bukanlah jenis diet yang asing di telinga banyak orang. Bagi kaum Muslim, diet ini dikatakan mirip dengan puasa sunnah Senin-Kamis. Untuk kesekian kali, pakar membuktikan manfaat dari jenis diet baru dari intermittent fasting ini.
 
Diet yang dimaksud disebut dengan Fasting Mimicking Diet (FMD), di mana pelakunya diminta makan seperti biasa selama sebulan, namun di sela-selanya mereka diminta untuk semi-berpuasa selama lima hari.
 
Selain namanya, FMD dikatakan mirip dengan puasa Senin-Kamis karena dilakukan dalam kurun 5 hari sebulan, sedangkan bila ditotal puasa Senin-Kamis dalam sebulan adalah selama 8 hari. Aktivitas puasa yang dilakukan juga hanya setengah hari atau tidak full selama 24 jam.
 
Dalam kurun lima hari tersebut, partisipan bukannya tidak makan sama sekali, tetapi mengonsumsi produk khusus bernama ProLon yang dikembangkan ketua tim peneliti, Victor Longo. Produknya terdiri atas energy bars, minuman berenergi, sup berbasis sayuran dan suplemen yang kesemuanya rendah kalori, rendah gula tetapi tinggi lemak tak jenuh sehat.
 
Dalam kurun tiga bulan, mereka yang melakukan FMD memperlihatkan perubahan dramatis, yaitu bobot mereka rata-rata turun sebanyak 2,6 kg. Indeks massa tubuh (BMI), lemak dan lingkar perut juga turun.
 
Mereka juga menunjukkan penurunan level insulin-like growth factor 1 (IGF-1), hormon yang selama ini dikaitkan dengan kanker dan penuaan; serta C-Reactive Protein (CRP) atau penanda peradangan. Tekanan darah dan kolesterol mereka juga ikut turun sehingga risiko penyakit kronis seperti jantung, diabetes, obesitas dan kanker ikut berkurang.
 
Sebaliknya, partisipan yang tidak menjalani FMD tidak mengalami perubahan serupa. Namun ketika mereka mencoba FMD, terlihat perubahan yang diinginkan.
 
"Kami tidak menemukan laporan adanya efek samping yang serius dari diet ini," kata peneliti Victor dari Longevity Institute, School of Gerontology and Department of Biological Sciences, USC seperti dilaporkan Forbes.
 
Bagi mereka yang ingin mencoba diet ini, Victor merekomendasikan untuk melakukannya 2-12 kali dalam setahun. Itu pun tergantung pada usia, berat badan dan riwayat medis yang dimiliki.
 
"Sebelum memutuskan menggunakannya, yang bersangkutan diminta berkonsultasi kepada dokter atau ahli gizi, karena variabel-variabel tersebut menentukan berapa kali diet ini harus dilakukan," pesan Victor. dtc
 

KOMENTAR