SBY Muram, Jokowi Girang, Riau Tenggelam

Senin, 17 Desember 2018 12:19:08 894
SBY Muram, Jokowi Girang, Riau Tenggelam
Alwira Fanzary Indragiri

Posisi dan keterlibatan Amerika Serikat pada Perang Dunia ke dua. Seperti itu dianalogikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) setelah melihat baliho partai dan dirinya dirobek serta dibuang ke dalam parit di jalan Sudirman, Pekanbaru.

Amerika, cakap SBY, awalnya tak ingin terlibat pada perang tersebut, tapi karena diusik, tentu negeri Paman Sam tak tinggal diam. Dan kita semua tau bagaimana sejarah mencatat Hiroshima dan Nagasaki luluh-lantak. Bermuara lah kemudian pernyataan Presiden ke-6 itu untuk merenung terlibat secara frontal dalam pertarungan Pilpres tahun depan. Berada pada pihak mana? Silahkan anda tebak. Kita bagi-bagi tugas, cakap Dahlan Iskan.

Setengah harian itu, wajah SBY muram, dada dielus. Juga Ani Yudhoyono. Bahkan Ani, bukan Ani nya bang Rhoma Irama, tapi Ani istrinya SBY, yang juga putri mantan Komandan RPKAD(Kopassus) itu berderai air mata. Sungguh sendu mengharu biru menyelimuti kader partai berjeket biru. Ya waktu itu.

Agus Harimurti Yudhoyono(AHY) tampaknya tak tinggal diam. Putra mahkota Cikeas ini beberapa saat kemudian langsung terbang dari kediaman menyusul ke Pekanbaru. Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat ini ingin pimpin langsung investigasi perusakan yang katanya berulang. Sebelumnya juga terjadi di lain tempat. Mungkin memang mantan tentara ini sudah naik pitam.

Siapa pun pelakunya, yang jelas politik kita saat ini sudah mengalami pendangkalan makna. Inilah yang disebut Prof Armada Riyanto dalam bukunya Berfilsafat Politik. Bahwa politik sudah mengalami reduktifikasi, tidak lagi pada ranah saintifikasi. Yang harusnya mengedepankan rasionalitas, bukan emosionalitas; strategi bukan intimidasi; kecerdasan bukan manipulasi.

Di hari yang sama, Presiden Joko Widodo(Jokowi) juga di kota Bertuah. Tempat menginap ke dua tokoh ini masih dalam ruas jalan yang sama. Tidak jauh. Namun, suasana kebatinan keduanya pada pagi itu mungkin sangat jauh. Pasalnya Jokowi ditabalkan gelar adat kehormatan oleh Lembaga Adat Melayu Riau(LAM-R). Tentulah senang. Gelar adat Kehormatan ini disandang sampai mati. Itu jika tak ada kesalahan fatal yang dibuat. Baru ada delapan orang yang menerima gelar adat ini. Terakhir Sutardji Calzoum Bachri(SCB) Presiden Penyair Indonesia. Sebelum itu Ustad Abdul Somad(UAS), juga Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) di periode pertama kepemimpinannya jadi Presiden.

Namun, rasanya baru saat penabalan tuk Jokowi ini lah kontroversi menyeruak tak terbendung. Tapi gelar adat tertinggi itu tetap diberikan. Yang pro, sebut saja kelompok kepala daerah di Riau yang beberapa waktu lalu deklarasi dukung Jokowi tuk jadi Presiden lagi. Yang kontra, ada tokoh masyarakat Riau seperti Syarwan Hamid, Azlaini Agus dan juga Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Riau di Jakarta dan Jogjakarta. Beserta spanduk-spanduk tak bertuan. Yang menolak menimpali segala alasan yang setuju. Dan akan bermutu jika sebelumnya pro kontra ini dibawa kedalam diskusi terbuka. Pasti seru.

Kalau saya sendiri, ya sudahlah, sudah ditabalkan juga. Posisikan saja keputusan penabalan itu seperti keputusan hakim yang bijak. Jika keputusan yang diambil benar, maka ia dapat dua pahala. Namun jika keputusan yang diambil keliru, maka ia dapat satu pahala. Alamak, sejak kapan pula saya bijak macam ini.

Namun yang jelas, Jokowi senangnya tidak kepalang. Selain dapat gelar adat, ia juga didatangi ribuan orang. Bahkan, kabarnya tidak hanya utusan-utusan dari RT/RW kelurahan dan kecamatan di Pekanbaru saja, tapi juga dari kabupaten tetangga. Sebab bupati nya sudah di surati tuk membawa massa. Luar biasa. Pemimpin merakyat, didatangi rakyat, dan saya harap, waktu pulang rakyatnya juga mendapat bingkisan. Seperti itulah gambaran pemimpin merakyat. Selalu berbagi.

Pertanyaannya, duka-suka; airmata-ketawa dan segala puja-puji kehadiran dua tokoh nasional beserta gerbong-gerbongnya akhir pekan lalu itu apa untungnya bagi Riau?. Dan apakah mereka memang peduli dan perhatian dengan Riau? Setakat ini saya simpulkan tidak. Silahkan nanti dibantah.

Sebagian kawasan di provinsi yang mereka kunjungi ini tenggelam. Sebulan terakhir, sudah menelan enam orang korban jiwa. Setelah sebelumnya harga komoditas perkebunan yang tak bernilai, sekarang panen pun tak bisa. Ekonomi lumpuh. Dimana Dua Datuk Kehormatan kita itu? Ada mereka mengunjungi lokasi banjir?.ooh tuhan kayo.

Dan juga tak kalah menggelitiknya bagi saya, atau mungkin lebih tepatnya memilukan. Presiden Jokowi saat pidato di tanah tumpah darah kami ini mengakui awalnya tak tau kalau Blok Rokan itu ada di Provinsi Riau. Kali ini saya yang mengelus dada. Bukan lagi kader partai berlambang mercy yang mengelus dada.

Puluhan tahun, hingga detik ini dari Blok Rokan mengalirkan minyak bumi terbanyak dan terbaik bagi Republik ini ternyata tidak diketahui di provinsi mana letaknya. Lama saya merenung, super elit Jakarta saja baru tau, bagaimana dengan orang awam lain di Ibu Kota, dan pulau seberang sana?. Jangan-jangan, ketika ditanya dimana letak Riau sebagai penyumbang ratusan triliunan rupiah tiap tahun bagi negara ini, mereka akan jawab ada di benua Antartika sana.

Sebagian kawasan di Riau beberapa waktu terakhir memang tenggelam karena banjir. Namun, tenggelamnya Riau sebagai tanah yang tak dianggap, sudah berpuluh tahun. Sejak awal.

Kepedulian apa namanya, jika Presiden negaranya tidak tau letak daerah penghasil minyak bumi terbesar yang kemudian jadi pundi-pundi rupiah tuk jalan pemerintahannya? Juga tidak menyempatkan diri melihat korban bencana?. Untuk yang terakhir ini saya berbaik sangka. Jokowi jadwalnya sibuk tuk elektoral di Sumatera yang harus dikebut. Maklum, masih kalah dari kompetitor.

Kepedulian apa namanya jika mantan pemimpin negara satu dekade saat berkunjung beberapa hari juga tidak kunjungi korban bencana? Lagi-lagi saya harus berprasangka baik. Mungkin SBY tak ingin sedih hatinya berulang dengan melihat korban banjir. Cukup sudah kesedihannya tumpah melihat balihonya yang dirusak.

Untuk orang Riau, siapa pun itu, Melayu, ataupun pendatang, belum juga kah mata kita terbuka tuk beri penilaian usai perlakuan yang mereka pertontonkan akhir pekan lalu?. Belum ingin kah untuk membentuk konsensus yang mampu menyibak segala kepentingan kelompok, partai, atau hantu belau lainnya? Atau, sampai kiamat Bumi Lancang Kuning ini hanya tanah perahan tak berkesudahan. Azab.

Jika berdalih provinsi ini ada pembangunan seperti sekarang, itu hanya se ujung jari dari kekayaan Riau ini yang dibawa ke Jakarta puluhan tahun. Dari perut bumi dan diatasnya. Bangun lah. Sudahi diri terus diperdaya tak berdaya.

Oleh : Alwira Fanzary Indragiri

- Ketua OKP Lingkar Anak Negeri Riau (LAN-R)

- Wartawan

KOMENTAR