Terkonsentrasi di Rokan Hilir

Kamis, 18 Agustus 2016 21:46:25 865
Terkonsentrasi di Rokan Hilir
Lahan perkebunan di Kabupaten Rokan Hilir terbakar. Saat ini jumlah karhutla di Riau masih terkonsentrasi di Rokan Hilir.
Pekanbaru, inforiau.co - Jumlah titik panas di Provinsi Riau pada Rabu (17/8) mengalami peningkatan drastis. Kemarin jumlah titik panas di Riau mencapai 278 titik. Padahal, sehari sebelumnya jumlah titik panas di Riau hanya 74.
 
Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Sugarin, menyebutkan berdasarkan data satelit milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), yakni Aqua dan Terra, terdapat sebanyak 365 titik panas di daratan Sumatera yang sebagian besar terkonsentrasi di Provinsi Riau. 
 
"Dari pantauan dengan menggunakan satelit pada pagi ini, terdapat 365 titik panas di Sumatera. Sebagian besar atau 278 titik panas itu terkonsentrasi di Provinsi Riau," kata Sugarin.
 
Slamet memaparkan hal tersebut setelah pihaknya mendapatkan sebaran titik panas di Sumatera berdasarkan rilis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dari pantauan sensor modis pada citra satelit Terra dan Aqua.
 
Berdasarkan analisis dari Lapan, 365 titik panas tersebut merupakan akumulasi dengan tingkat kepercayaan kebakaran lahan dan hutan (karlahut) sedang mulai dari 50 sampai 69 persen dan tinggi mulai 70 hingga 100 persen.
 
Selain di Riau, titik panas juga terdapat di enam provinsi lain seperti Sumatera Utara 42 titik, Bangka Belitung 27, Sumatera Selatan 7 titik, Jambi 5 titik, Sumatera Barat 4 titik dan Kepulauan Riau 2 titik.  
 
Ia merinci, ke-278 titik panas di Riau tersebar pada 10 daerah dari total 12 kabupaten/kota seperti wilayah Rokan Hilir merupakan daerah konsentrasi karena terdeteksi sebanyak 123 titik.
 
Lalu Kepulauan Meranti 36 titik, disusul Rokan Hulu 30 titik, Siak 28, Bengkalis 22, Dumai 20, Kuantan Singingi 8 titik, Kampar dan Pelalawan 4 titik serta Indragiri Hilir terpantau 3 titik.
 
Dari 278 titik panas, terdapat 192 titik api memiliki tingkat kepercayaan 70 hingga 100 persen atau pertanda sebagai potensi karlahut pada delapan daerah. "Terdeteksi di Rokan Hilir 91 titik, Meranti 28, Siak 18, Rokan Hulu 17, Dumai dan Bengkalis sama-sama 14 titik, Kuantan Singingi enam titik serta Kampar empat titik," kata Slamet.
 
Sementara itu, guna mengantisipasi meluaskanya kebakaran lahan, Danrem 031/Wirabima Brigjen TNI Nurendi mengerahkan satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) sebanyak 100 orang personel untuk membantu memadamkan api akibat kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau.
 
"Pasukan malam ini datang lagi satu SSK langsung dan sektornya Danyon Arhanudse 13. Mereka bermalam di lokasi yang ditugaskan untuk padamkan api dan menghilangkan asap agar tidak menjadi luas," kata Nurendi.
 
Pemerintah Provinsi Riau telah memutuskan untuk memperpanjang status siaga darurat kebakaran lahan dan hutan yang berlaku enam bulan atau sejak Juni hingga 30 November 2016.
 
Komandan Satuan Tugas Karlahut Riau, Brigjen TNI Nurendi mengatakan, perpanjangan status tersebut sebagai upaya demi memaksimalkan pencegahan penanggulangan karhutla karena setiap tahun terus terjadi terutama dalam 18 tahun terakhir.  
 
Riau Harus Merdeka dari Asap
 
Lembaga Swadaya Masyarakat Lingkungan Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) bersama Mahasiswa Pecinta Alam menggelar upacara kemerdekaan Republik Indonesia di bawah Jembatan Siak III dengan mengusung tema Riau harus merdeka dari polusi kabut asap.
     
"Riau belum merdeka dari penjajah lingkungan (korporasi dan cukong) dan kini mereka malah dimerdekakan dengan keluarnya Surat Perintah Penyidikan (SP3) dari Kapolda Riau," ujar staf media dan kampanye Jikalahari, Okto Yugo di Pekanbaru, Rabu.
     
Menurutnya upacara yang berbeda dengan umumnya ini dimulai pada pukul 09.10 WIB di Jembatan yang juga disebut Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah. Selain mengibarkan bendera merah-putih, Jikalahari juga membentangkan spanduk sepanjang delapan meter di Jembatan Siak III tersebut. 
     
Spanduk itu bertuliskan "HUT RI KE-71 INDONESIA HARUS MERDEKA DARI POLUSI KABUT ASAP ULAH KORPORASI DAN CUKONG #CABUTSP3 15 DARI 18 KORPORASI TERSANGKA KARHUTLA RIAU". Spanduk ini, kata Okto, menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat serta para pemimpin bahwa Indonesia belumlah merdeka seutuhnya.
     
"Indonesia masih dijajah terutama disektor lingkungan hidup. SP3 terhadap perusahaan tersangka karhutla di Riau menjadi kado terburuk untuk hari kemerdekaan," ujarnya dimuat antara.
     
Dikatakannya penghentian penyidikan terhadap 15 korporasi dengan alasan bahwa kurangnya bukti merupakan bentuk ketidakadilan bagi masyarakat Riau yang kehilangan haknya untuk menghirup udara bersih. Penegakan hukum yang tegas merupakan hal penting untuk menjaga agar lingkungan hidup tidak dirusak demi kepentingan pribadi.  "Kami meminta agar SP3 tersebut segera dicabut oleh Kapolda Riau, Brigjen Pol Supriyanto," tambah Okto. IR

KOMENTAR